Suara.com - Rusia berkata akan memfokuskan invasinya di Ukraina untuk "membebaskan" wilayah timur, memberi tanda kemungkinan perubahan strategi.
Kementerian Pertahanan Rusia berkata tujuan awal perang ini telah terlaksana, dan Rusia telah berhasil mengurangi kapasitas perang Ukraina.
Invasi yang dilakukan Rusia awalnya diyakini memiliki tujuan menundukkan kota-kota besar dan menggulingkan pemerintahan Ukraina.
Namun mereka menghadapi perlawanan kuat dari Ukraina.
"Tugas utama dari fase pertama operasi ini telah dilaksanakan," kata Sergei Rudskov, dari Kantor Kepala Staf, administrasi yang mengepalai operasi ini.
"Kapabilitas perang tentara Ukraina telah dikurangi secara substansial, sehingga kami dapat berkonsentrasi untuk mencapai tujuan utama: membebaskan Donbas," tambahnya, merujuk pada area di Ukraina timur yang sebagian besar dikuasai oleh separatis yang didukung Rusia.
Baca juga:
- Empat rahasia sukses Ukraina masih bisa menahan invasi Rusia
- Apa saja kesalahan militer Rusia dalam invasi ke Ukraina?
- Rusia invasi Ukraina, mayoritas publik Indonesia kagumi Putin, pakar khawatir 'bangsa kita dicap hipokrit'
Militer Rusia telah menggempur dan mencoba menundukkan kota-kota kunci di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv yang menurut Jenderal Rudskyo adalah upaya untuk menyibukkan pasukan Ukraina di wilayah-wilayah lain, sementara Rusia fokus di timur.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, berkata pasukannya telah memberikan "perlawanan kuat" kepada Rusia, dan meminta Moskow menyadari pentingnya pembicaraan perdamaian dengan serius.
Baca Juga: Janji Politik Joe Biden Dalam Pusaran Konflik Rusia-Ukraina Akan Dinyatakan Dalam Pidato di Polandia
"Dengan menahan tindakan Rusia, kami meminta para pemimpin Rusia untuk memikirkan gagasan sederhana dan logis: perundingan adalah hal penting. Perundingan yang berarti. Mendesak. Adil. Untuk mencapai kesepakatan, bukan penundaan," kata dia.
Tujuan utama dari invasi Rusia ini belum pernah diumumkan secara terang-terangan, namun Presiden Vladimir Putin telah mengatakan tujuannya adalah "demilitarisasi" dan "denazifikasi" Ukraina, dan menggambarkan pemerintahan saat ini sebagai junta neo-Nazi yang membunuhi jutaan orang Rusia dalam genosida.
Klaim ini tidak berdasar dan Ukraina bersama sekutu-sekutu Baratnya menyebut alasan ini dipakai sebagai pembenaran untuk memulai perang.
Pasukan Rusia awalnya berusaha untuk mengepung ibu kota Kyiv. Namun setelah menggempur dan merebut sejumlah kota di wilayah barat laut, mereka terdesak mundur oleh militer Ukraina, yang kini berusaha untuk mengepung ribuan tentara Rusia.
Dalam penilaian AS pada Jumat, pejabat pertahanan berkata Rusia tidak membuat kemajuan dalam serangannya di kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, dan bahwa Ukraina akan dapat merebut kembali Kherson.
Pasukan Rusia menunjukkan kesuksesan lebih besar di selatan, mereka merebut kota-kota seperti Kherson, dan menunjukkan kemenangan di timur.
Baca juga:
- Menonton perang melalui TV Rusia - narasi yang terlalu berbeda
- Ukraina: Kelompok pemberontak sokongan Rusia perintahkan mobilisasi militer
Moskow kini mengeklaim 93% wilayah Luhansk di Donbas di bawah kendali separatis yang dibekingi oleh Rusia, dengan 54% bagian lain Donbas, Donetsk, juga dikuasai. Lebih dari sepertiga total wilayah dikuasai separatis sebelum perang dimulai.
Andriy Yermak, kepala staf Presiden Ukraina Zelensky, mengatakan berhati-hati dalam menanggapi komentar Rusia telah meninggalkan rencana mereka untuk menyerang daerah lain di Ukraina.
"Sangat berbahaya memberikan prognosis publik sebelum perang benar-benar usai, terutama ketika Anda berperang melawan salah satu pasukan terbesar di dunia," kata Yermak kepada Financial Times.
Perubahan strategi atau pengakuan kegagalan oleh Moskow?
Mungkin analisis ini masih terlalu dini, namun ada perubahan strategi di sini.
Pernyataan salah satu jenderal tertinggi Rusia, Sergei Rudskoy, tentang "fase pertama" telah nyaris selesai dan pasukan akan konsentrasi pada "pembebasan Donbas" kemungkinan berarti akan ada lebih banyak pasukan bergerak ke "garis kontak" yang memisahkan wilayah yang dikuasai pemerintah dan separatis di Donetsk dan Luhansk.
Laju serangan Rusia di area-area lain Ukraina terlihat lambat. Pasukan mereka dipukul mundur dari posisinya di sekitar ibu kota, Kyiv, dan dilaporkan mulai mengambil posisi bertahan untuk menghindari kehilangan lebih banyak korban atau untuk mempersiapkan semacam jeda.
Mungkin juga masih terlalu dini untuk menyimpulkan Rusia menyerah untuk merebut Kyiv, namun para pejabat di Barat berkata Rusia terus mengalami kemunduran demi kemunduran.
Pada Jumat, Barat melaporkan Rusia kehilangan jenderal lagi - ini yang ketujuh - dan di beberapa unit, semangat mereka dalam titik terendah.
Mereka meyakini pengumuman Jenderal Rudskoy menandakan Moskow menyadari ambisi mereka akan strategi pra-perang telah gagal.
"Rusia menyadari mereka tidak dapat melanjutkan operasi di titik-titik berbeda secara terus-menerus," kata salah satu pejabat.
Sebanyak sepuluh batalion unit taktis dikumpulkan, kata yang lain, dan menuju Donbas.
Bahkan sebelum perang berlangsung bulan lalu, mereka mengungkapkan kekhawatiran Rusia akan memusatkan serangan dengan tujuan menaklukkan pasukan perang terbaik Ukraina, tergabung dalam Operasi Pasukan Gabungan (JFO), yang ditugaskan di sepanjang garis kontak.
Mundur bukan berarti ambisi melunak
Pergerakan baru memperlihatkan pasukan Rusia menuju area-area yang sejauh ini belum ditundukkan di Donetsk dan Luhansk, kemungkinan untuk bergabung dengan pasukan yang bergerak dari selatan, dari Kharkiv dan Izyum.
Dan jika Rusia akhirnya berhasil melumpuhkan pelabuhan Mariopol, di Laut Azoy, maka pasukan lain dapat bergerak ke utara dan benar-benar mengepung JFO.
Beberapa elemen dari tujuan ini masih tampak jauh. Pasukan Ukraina di Mariupol memberikan perlawanan ganas, menghalangi Rusia mencapai ambisi pra-perang mereka yang lain - jembatan daratan dari Semenanjung Krimea ke Donbas.
Namun jika Moskow memutuskan lebih baik mereka berkonsentrasi - setidaknya untuk saat ini - pada mencapai tujuannya satu demi satu, maka mereka kemungkinan akan memusatkan kekuatan persenjataan, terutama dari udara.
Militer Ukraina, bagaimanapun disiplin dan termotivasinya, akan membutuhkan banyak bantuan untuk bertahan.
"Saya berharap di situ lah perlengkapan senjata dari Barat dapat memberikan kontribusi penting bagi pasukan Ukraina," kata salah satu pejabat Barat.
Jika dalam beberapa hari mendatang ini kita benar-benar melihat fokus Rusia adalah ke Donbas, itu bukan berarti Moskow telah melupakan ambisi yang lebih besar.
"Kami tidak melihat adanya perubahan invasi secara keseluruhan," ujar seorang pejabat pertahanan senior AS.
Dalam perkembangan lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan 1.351 pasukannya tewas dan 3.825 luka-luka di perang Ukraina.
Jumlah ini jauh lebih rendah dari angka korban Rusia yang dicatat oleh Ukraina maupun AS.
Pada pejabat di Barat berkata tujuh jenderal Rusia tewas dalam perang. Berbagai analisis sebelumnya menyebut Ukraina kemungkinan sengaja menargetkan serangan pada pejabat militer senior Rusia.
Sementara itu, jumlah korban dari Ukraina sejak perang dimulai telah mencapai ribuan, dan setidaknya 10 juta orang harus mengungsi, baik di dalam negeri maupun hingga ke perbatasan.
Sejauh ini PBB mengkonfirmasi 1.081 warga sipil yang tewas di Ukraina, namun jumlah korban sebenarnya bisa jadi lebih tinggi. Serangan di sebuah bioskop di Mariupol saja telah menewaskan sekitar 300 orang, menurut berbagai laporan.
Lebih dari 3,7 juta orang meninggalkan Ukraina, termasuk 2,2 juta ke Polandia. Rusia juga mengatakan lebih dari 400.000 orang melarikan diri ke sana.
Berita Terkait
-
TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan
-
Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas
-
Desta Turun Gunung Jadi Host, Rupanya Atas Arahan dari Ahmad Dhani
-
Bidik Sapu Bersih Podium, Seven Speed Motorsport Tancap Gas di Musim 2026
-
Soal Wacana Pemotongan Gaji Para Menteri, Seskab Teddy Buka Suara
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
-
Piala AFF 2026: Kalahkan Malaysia, Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal
Terkini
-
TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan
-
Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas
-
Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta
-
Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun
-
Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban
-
Ini Daftar Program Pemerintah yang Buat Pemudik Merasa Terbantu Menurut Survei Indikator
-
Survei Indikator: Mayoritas Pemudik Nilai Lalu Lintas Lancar dan Kecelakaan Menurun
-
Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran
-
Polri Usul Ambang Batas Kepemilikan Narkoba Diperkecil, Biar Jelas Bedakan Pengguna dan Bandar
-
DPR Ingatkan Kenaikan Tiket Pesawat Hanya Langkah Darurat, Bukan Kebijakan Permanen