News / Nasional
Selasa, 26 Mei 2026 | 17:34 WIB
Ilustrasi hantavirus (shutterstock)
Baca 10 detik
  • Empat ABK asal Somalia dinyatakan negatif hantavirus, malaria, dan demam kuning setelah diperiksa RSUD Cengkareng pada Mei 2026.
  • Sudinkes Jakarta Barat memperketat surveilans, kewaspadaan dini, serta kesiapsiagaan medis sesuai pedoman Kementerian Kesehatan untuk mencegah penyebaran virus Hanta.
  • Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari kontak langsung dengan tikus untuk mencegah penularan penyakit virus Hanta tersebut.

Suara.com - Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat melaporkan empat Anak Buah Kapal (ABK) yang berlayar ke Somalia sempat menjadi suspek hantavirus di wilayahnya.

"Pada 13 Mei 2026, RSUD Cengkareng melaporkan dugaan kasus suspek hanta sebanyak empat orang yang merupakan ABK yang berlayar ke Somalia," kata Kepala Sudinkes Jakbar, Sahruna sebagaimana dilansir Antara, Selasa (26/5/2026).

Pihaknya pun melakukan pemeriksaan hantavirus, malaria dan yellow fever (demam kuning).

"Hasil pemeriksaannya adalah negatif untuk penyakit hantavirus, yellow fever dan malaria," katanya.

Keempat ABK itu pun diizinkan pulang karena sudah tidak bergejala.

Sudinkes Jakbar terus mengupayakan langkah-langkah antisipasi dan pengawasan sesuai pedoman pencegahan dan pengendalian penyakit virus Hanta Kementerian Kesehatan Tahun 2023.

Di antaranya, penguatan kewaspadaan dini melalui surveilans berbasis indikator dan kejadian (IBS & EBS); peningkatan kewaspadaan penyakit virus Hanta melalui penerbitan Surat Pemberitahuan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta nomor 1501/KS.02.01 tanggal 12 Mei 2026 tentang Kewaspadaan Virus Hanta kepada Suku Dinas Kesehatan, rumah sakit dan Puskesmas di DKI Jakarta.

Deteksi dini dilakukan dengan pendekatan "syndromic surveillance", terutama pada kasus demam akut, gangguan pernapasan, trombositopenia, gangguan ginjal, serta riwayat paparan rodensia/tikus; penyiapan RS Sentinel RSUD Tarakan; penemuan kasus dilakukan melalui pendekatan rumah sakit, Puskesmas, laboratorium, dan surveilans komunitas; peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam identifikasi kasus suspek dan tata laksana awal.

Selain itu, penyiapan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk investigasi epidemiologi dan respon cepat kasus; kesiapan tata kelola spesimen, pemeriksaan laboratorium, dan rujukan RT-PCR/serologi; penguatan tata laksana klinis dan pencegahan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas kesehatan; pelaksanaan penyelidikan epidemiologi dan pemetaan faktor risiko lingkungan serta populasi rodensia.

Baca Juga: Awas Ancaman Hantavirus! Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus, Ini Tips Amannya

Kemudian, pengendalian reservoir tikus dan perbaikan sanitasi lingkungan secara terpadu; serta penguatan komunikasi risiko, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor secara berjenjang.

Dia pun mengimbau masyarakat agar tetap melaksanakan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk dan bersin.

"Kemudian hindari kontak langsung dengan rodensia yang terinfeksi (tikus/ celurut) melalui gigitan, ekskresi dan sekresi (air liur, urin, feses) atau melalui inhalasi aerosol," ujarnya.

Selanjutnya, menjaga kebersihan area tempat tinggal dan tempat kerja, serta menyimpan makanan atau minuman dengan tertutup dan aman.

"Terakhir, tutup semua lubang baik di dalam maupun di luar rumah dan segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit virus Hanta," kata Sahruna.

Load More