Laporan itu menjelaskan gelombang panas yang sering dan intens, curah hujan yang ekstrem atau tidak normal, dan bencana terkait cuaca abnormal lainnya dalam beberapa dekade mendatang akan terjadi di India.
Laporan IPCC juga memperingatkan bahwa ada kemungkinan peningkatan kekeringan di daerah yang sudah gersang.
Pada akhir abad ini, IPCC memperkirakan Asia Selatan akan menjadi salah satu wilayah yang paling parah dilanda gelombang panas di dunia.
Disebutkan gelombang panas "mematikan" dapat mendorong batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup.
Para ilmuwan di IITM juga telah menganalisis suhu permukaan laut di bagian barat Samudra Hindia dan Teluk Benggala antara tahun 1982 dan 2018.
Mereka menemukan bahwa lebih dari 150 gelombang panas laut terjadi di kawasan yang diperiksa.
Selama periode tersebut, gelombang panas laut meningkat empat kali lipat di Samudra Hindia dan tiga kali lipat di Teluk Benggala.
Peristiwa gelombang panas sangat berpengaruh di India karena sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor pertanian, yang bergantung pada pola cuaca yang stabil.
Gelombang panas di daratan mengganggu hasil pertanian, yang merupakan sumber pendapatan penting bagi para petani yang tinggal di India tengah dan barat laut.
Baca Juga: Cegah Perubahan Iklim, Energi Terbarukan Perlu Menjangkau Industri Hingga Rumah Tangga
Gelombang panas di lautan, yang menyebabkan pemutihan terumbu karang dan mengganggu ekosistem laut, memengaruhi masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan yang menggantungkan mata pencahariannya pada penangkapan ikan.
Krishnan mengatakan bahwa peningkatan suhu permukaan Bumi yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca karena dipicu aktivitas manusia kemungkinan menjadi penyebab kondisi cuaca yang tidak normal tersebut.
"Gas rumah kaca seperti CO2 memiliki umur panjang. Bahkan jika kita mengurangi emisi secara signifikan, kita mungkin masih akan melihat dampaknya dalam beberapa dekade mendatang," pungkasnya. Ed: rap/hp
Berita Terkait
-
Viral Mahasiswi Papua Meninggal di Depan Rumah Sakit, Diduga Ditolak 3 Kali karena Masalah BPJS
-
7 Bedak Wardah yang Tahan Lama untuk Kondangan, Mulai Rp30 Ribu
-
7 Fakta Panas Sengketa Lahan Tanah Abang: Adu Klaim Menteri Maruarar Sirait vs Hercules
-
Salatiga dan Seni Merawat Perbedaan di Tengah Dunia yang Bising
-
Polemik Paspoortgate, NAC Breda Tak Terima dan Resmi Bawa Kasus Dean James ke Pengadilan
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
Terkini
-
Buntut Insiden Rapat Revisi UU TNI, 4 Prajurit Segera Disidang: Motif Diduga Dendam Pribadi
-
Pramono All Out Demi Boyong BTS ke JIS: Jamin Bebas Macet dan Akses KRL Langsung!
-
Blokade Selat Hormuz Dianggap Perjudian Trump, Kalau Misi Gagal Ekonomi Dunia Hancur
-
Ikrar Nusa Bakti Sindir Militer: Merasa Dirinya Bukan Dibentuk Oleh Negara
-
MBG Serap Hampir Rp1 Triliun per Hari, BGN Sebut Dana Langsung Mengalir ke Masyarakat
-
Harga Rokok Lebih Murah dari Sebungkus Nasi, CISDI: Bisa Gagalkan Program Makan Bergizi Gratis
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Laut Merah Milik Siapa? Iran Ancam Mau Menutupnya
-
WALHI Kritik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Satgas PKH: Waspada Ekspansi Militer di Ruang Sipil
-
Melihat Kapal Macet Mau ke Selat Hormuz Berdasarkan Data Pelacakan Maritim