- Sutradara Garin Nugroho menanggapi pelaporan komika Pandji Pragiwaksono terkait materi komedinya di acara Mens Rea.
- Garin menganggap pelaporan tersebut sebagai respons berlebihan elit politik terhadap kritik sosial melalui jalur kreatif.
- Menurut Garin, panggung komedi menjadi ruang publik sehat tempat publik menyalurkan kritik yang jernih.
Suara.com - Sutradara senior Garin Nugroho turut angkat bicara merespons polemik hukum yang menjerat komika Pandji Pragiwaksono.
Adapun Pandji dilaporkan ke pihak berwajib buntut materi komedinya dalam pertunjukan spesial bertajuk Mens Rea, yang dinilai menyinggung pihak tertentu.
Garin menilai pelaporan tersebut mencerminkan respons berlebihan dari kalangan elit politik dan pihak-pihak yang tersinggung terhadap kritik yang justru disampaikan lewat jalur kreatif.
Menurutnya, komedi yang dibawakan Pandji merupakan bentuk kritik sosial yang sah dan profesional sesuai dengan bidangnya.
"Wah kalau ada elit politik yang terganggu itu kerdil ya. Wong ini kritik dengan kreativitas kan, ya," kata Garin saat ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, Senin (12/1/2025).
Disampaikan Garin, derasnya arus kegaduhan di media sosial membuat publik mencari ruang alternatif untuk menyalurkan kegelisahan dan kritik.
Dalam kondisi tersebut, panggung komedi justru menjadi ruang publik yang lebih sehat. Ketika kemudian dibandingkan perdebatan di dunia maya yang sarat manipulasi.
"Masyarakat udah capek. Maka mereka lari ke tempat kreativitas yang mencerahkan," ucapnya.
Menurutnya ketertarikan publik terhadap pertunjukan Pandji menunjukkan kebutuhan akan kritik yang disampaikan secara jernih dan beradab.
Baca Juga: Indro Warkop Bandingkan Kasus Pandji Pragiwaksono dengan Era Kritik Warkop DKI
Ia membandingkan kritik di panggung komedi atau stand up dengan konten media sosial yang menurutnya jauh lebih kasar dan vulgar.
Menurut Garin, justru kritik yang disampaikan Pandji mencerminkan profesionalisme seorang seniman. Ia menyebut kritik semacam itu semestinya dipahami sebagai bagian dari demokrasi, bukan dijawab dengan kriminalisasi.
"Justru ini menunjukkan kritik yang harus profesional sesuai dengan profesinya kan gitu," ucapnya.
Lebih jauh, Garin menilai kegaduhan media sosial saat ini telah kehilangan fungsi klarifikasi dan pencarian kebenaran. Hal itu membuat publik membutuhkan ruang komunikasi yang lebih mencerahkan dan kritis, seperti yang dihadirkan melalui pertunjukan seni dan komedi.
"Jadi memang itu kenapa orang-orang ke Pandji? Mereka butuh ruang publik, komunikasi dan kritis yang mencerahkan. Media sosial bahkan sekarang udah sangat banal dan bahkan kita tidak tahu mana yang benar dan tidak, kan gitu," ujarnya.
Ia juga menyinggung ironi sikap elit politik yang mudah tersinggung terhadap materi komedi. Namun justru kerap abai terhadap berbagai temuan dan data pelanggaran hukum yang beredar luas di ruang publik.
Menurutnya, pelaporan terhadap Pandji justru memperlihatkan wajah demokrasi yang rapuh dan miskin kepercayaan diri dalam menghadapi kritik.
Berita Terkait
-
Kritik Tanpa Filter: Menakar Getirnya Realitas di Balik Tawa Mens Rea
-
Belajar Hukum Lewat Komedi: Mengapa Mens Rea Lebih Kena dibanding Seminar?
-
Polemik Pandji Pragiwaksono Memanas, Indro Warkop Beri Peringatan Keras Tentang Kritik di Indonesia
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Mens Rea: Mengapa Kita Sering Dibenturkan Sesama Warga?
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Anggota DPR Minta Impor 105 Ribu Pickup India Dibatalkan: Ini Dirancang Diam-diam
-
Kronologi Penangkapan Koko Erwin, Diringkus Saat Hendak Menyeberang ke Malaysia
-
Golkar Tegaskan Anggaran MBG Disepakati Bulat di DPR: Tak Ada yang Menolak, Termasuk PDIP
-
Akhir Kisah Meresahkan Ibu-Ibu Viral Suka Tak Bayar Makan, Kini Diboyong ke RSKD Duren Sawit
-
Akun Telegram Catut InaEEWS BMKG Sebarkan Peringatan Gempa Palsu, Publik Diminta Waspada
-
Diduga Jadi Sarang Prostitusi, Dua Akses Taman Kota Cawang Ditutup Permanen
-
Soal Mobil Dinas Rp 8,5 M, Golkar Tegur Gubernur Kaltim: Dengarkan Suara Rakyat!
-
Transjakarta Perketat Standar Keselamatan, Pramudi yang Kurang Fit Dilarang Bertugas
-
Diteror Usai Bongkar Kematian Anak, Ibu Kandung NS di Sukabumi Minta Perlindungan LPSK
-
Hakim Sebut Kerugian Rp171,9 Triliun Kasus Minyak Asumtif, Eks Bos Pertamina Divonis 9 Tahun