Norman Lau warga negara Australia yang sudah tinggal di Shanghai selama hampir 20 tahun memiliki dua anak berusia 11 dan 14 tahun.
"
"Kemungkinan menjalani karantina, dan harus berpisah dari keluarga lebih menakutkan dibandingkan risiko terkena COVID itu sendiri," kata Norman.
"Menurutnya, banyak warga asing di sana yang merasakan kekhawatiran yang sama.
Australia menyampaikan kekhawatiran kepada pemerintah
Dalam rekaman video yang disiarkan lewat media sosial, Duta Besar Australia untuk ChinaGraham Fletcher mengatakan pemerintah Australia sudah menyampaikan keberatan mereka berkenaan dengan kebijakan karantina kepada pemerintah China.
"Pemerintah China berusaha keras menurunkan jumlah kasus. Namun kita mengetahui bahwa lockdown dan pembatasan lain memiliki dampak besar bagi semua mereka yang tinggal di Shanghai," katanya.
"Bersama dengan pemerintah lain yang punya perwakilan di Shanghai, Australia sudah menyampaikan keprihatinan kami langsung kepada pemerintah China terkait akses ke makanan, layanan kesehatan atau ke bandara."
Sebagai bagian dari kebijakan lockdown, pemerintah setempat melarang warga keluar dari apartemen untuk membeli makanan atau melakukan kegiatan olahraga.
Duta besar Graham Fletcher juga menyampaikan keluhan soal fasilitas karantina, termasuk apakah keluarga akan dipisahkan.
Baca Juga: Kampanye Pemilu Australia: Salah Sebut Angka Hingga Kecelakaan
"
"Sama seperti yang lain, kami sudah menyampaikan langsung kepada pejabat China, tanpa selalu mendapat jawaban yang kami inginkan." katanya.
Ender Waters yang memiliki dua kewarganegaraan, Australia dan Amerika Serikat, tiba di Shanghai bulan September 2020 setelah sebelumnya pernah menjalani lockdown beberapa kali selama enam bulan di Melbourne.
Menurut guru bahasa Inggris tersebut, perbedaan besar antara lockdown di Shanghai dan Melbourneselain di Shanghai lebih ketat, adalah masalah pasokan makanan.
"Hal tersebut tidak pernah terjadi di Melbourne, kita selalu bisa belanja ke toko dan mendapatkan makanan," katanya.
EnderWaters mengatakan dia dan banyak keluarga warga asing dari negara-negara Barat menandatangani petisi menentang pemisahan keluarga namun petisi itu sudah dilarang ditempel setelah hanya dua hari.
Lockdown mulai memengaruhi bisnis asing
Pengusaha asal AustraliaNicholas Oettinger sudah tinggal d Shanghai selama 15 tahun di mana dia memiliki usaha memproduksi pintu dan jendela rumah.
Dia mengatakan lockdown kali ini sangat berpengaruh kepada bisnis yang dimilikinya.
Menggambarkan dirinya sendiri sebagai ingin terus berbisnis di China, dia sekarang mulai memikirkan untuk pindah.
"Saya mempertimbangkan untuk pindah tahun depan, dan memindahkan pabrik saya keluar dari China." kata Nicholas.
"Saya selalu khawatir dengan pendekatan pemberantasan COVID ke titik nol, ketidakmampuan mereka untuk mau membuka diri."
Masih belum jelas apakah China akan mengubah kebijakan mengenai COVID tersebut.
"Tentu saja, semua tindakan pencegahan memiliki risiko dan memiliki dampak," kata juru bicara Departemen Luar Negeri China Zhao Lijian.
"Semua langkah ini berguna untuk melindungi keselamatan dan kesehatan warga.
"
"China bisa mempertahankan pertumbuhan sosial ekonomi dan dalam waktu bersamaan memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia."
"Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News.
Berita Terkait
-
Permudah Layanan Administrasi, IKD Dukcapil Raih Top Public Service Application for Ministry
-
Tak Sekadar Olahraga, Tren Komunitas Jadi Cara Baru Masyarakat Indonesia Jalani Hidup Sehat
-
Kepala BGN Buka Suara Terkait Putusan MK, MBG Tetap Jalan Sesuai Rencana
-
Pergantian Jitu John Herdman, Bawa Timnas Indonesia Tembus Tembok Timor Leste
-
Penerapan B50 Dinilai Perlu Diiringi Reformasi Tata Kelola Biodiesel
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
- Sempat Nganggur Gegara Timnas Indonesia, Roberto Mancini Resmi Latih Italia
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular
-
Sudaryono Geram MBG Disebut Habiskan Uang Negara: Tanpa Program Ini Sekolah Rusak Tetap Banyak
-
Unai Emery Senang Kembali ke Indonesia, Aston Villa Siap Suguhkan Permainan Terbaik di GBK
-
DPR Sentil OPK BPJS-TK Jalan di Bara Api: Materi Tak Relevan Tak Perlu