- Serangan Israel di Khan Younis, Gaza, terus berlanjut meski ada gencatan senjata, menewaskan ratusan warga sipil sejak Oktober 2023.
- Eskalasi konflik Iran-Israel memasuki fase berbahaya, dengan serangan di fasilitas minyak Iran dan balasan Iran yang menyebabkan korban jiwa di kedua pihak.
- Krisis regional ini berdampak pada ekonomi global, menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent dan gangguan jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Suara.com - Di saat perhatian dunia tersedot sepenuhnya pada bara api yang meluas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, ada satu kenyataan pahit yang seolah terlupakan: penderitaan di Gaza tidak pernah berhenti.
Sementara rudal-rudal balistik melintas di langit Timur Tengah, serangan darat dan udara di tanah Palestina justru semakin intensif. Dunia mungkin sedang sibuk menghitung dampak harga minyak atau ancaman perang regional, namun bagi warga Gaza, setiap harinya tetaplah tentang bertahan hidup di tengah gempuran yang tidak kunjung usai.
Genosida oleh Israel Masih Berlanjut
Pemandangan memilukan kembali terjadi di Khan Younis, Gaza Selatan. Seorang ayah dan anak perempuannya dilaporkan tewas seketika akibat serangan drone Israel tepat di jantung kota tersebut pada Sabtu pagi (7/3/2026).
Tak berselang lama, serangan lain di wilayah yang sama merenggut satu nyawa lagi dan melukai seorang anak perempuan. Meskipun secara teknis ada kesepakatan gencatan senjata sejak 11 Oktober 2025, militer Israel nyatanya terus melancarkan serangan udara, tembakan artileri, hingga pemboman dari kapal laut setiap harinya.
Data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan betapa ngerinya angka kematian yang terus bertambah. Sejak gencatan senjata tersebut, tercatat 640 warga Palestina tewas dan 1.700 lainnya luka-luka.
Jika ditarik sejak Oktober 2023, total korban jiwa telah menembus angka 72.123 orang. Kondisi ini diperparah dengan ditutupnya pintu perbatasan Rafah oleh Israel sebagai imbas konflik dengan Iran, yang memutus akses bagi ribuan pasien darurat untuk berobat ke luar negeri, menurut laporan Human Rights Watch Februari lalu.
Tidak hanya di Gaza, kekerasan di Tepi Barat juga meningkat tajam, di mana setidaknya 1.094 warga Palestina telah tewas oleh tentara maupun pemukim ilegal Israel sejak konflik pecah tahun lalu.
Update Terbaru Perang Iran vs Israel
Baca Juga: Akademisi Nilai Pernyataan Trump soal Iran Lebih Bernuansa Tekanan Psikologis
Memasuki hari kesembilan, eskalasi antara poros Amerika Serikat–Israel melawan Iran mencapai titik baru yang sangat berbahaya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah konflik ini, Israel menghantam depo penyimpanan minyak dan fasilitas pemurnian di Iran, termasuk kebakaran hebat di depo Shehran, pinggiran Teheran.
Iran membalas dengan meluncurkan gelombang serangan yang mereka sebut sebagai “Gelombang ke-27 Operasi True Promise”. Setidaknya 1.332 orang telah tewas di Iran sejak serangan dimulai pada 28 Februari lalu, menurut Al Jazeera.
Dampaknya kini merembet ke seluruh kawasan Teluk. Bahrain melaporkan pabrik desalinasi air mereka dihantam drone Iran, sementara Kuwait mengonfirmasi dua petugas keamanan perbatasannya tewas akibat serangan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump bersikeras menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Teheran dan memperkirakan operasi militer ini akan berlangsung selama empat hingga enam minggu ke depan.
Krisis ini tidak hanya mengancam nyawa, tapi juga ekonomi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga 27 persen hanya dalam satu minggu, kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi 2020, akibat terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Strategi militer Israel yang kini membagi fokus ke Iran tampaknya tidak mengurangi intensitas gempuran mereka di Gaza, justru membuat situasi kemanusiaan di sana semakin terisolasi dari pantauan internasional karena perhatian media global teralihkan ke perang yang lebih luas.
Berita Terkait
-
Akademisi Nilai Pernyataan Trump soal Iran Lebih Bernuansa Tekanan Psikologis
-
Siapa Profesor Jiang Xueqin? Sosok yang Ramal AS Kalah Perang Lawan Iran
-
Konflik AS-Iran Memanas: Bagaimana Nasib Iran di Piala Dunia 2026?
-
Langit Yerusalem Membara Dihujani Rudal Klaster Iran, Ledakan Keras Guncang Israel
-
AS Diduga Serang SD Putri di Iran Tewaskan 168 Orang, Donald Trump Justru Salahkan Teheran
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Resmi Disahkan! Panduan Lengkap UU PPRT: Apa yang Berubah bagi Majikan dan Pekerja?
-
Aiptu YS Diduga Jadi Broker Proyek Rp16 M di Bekasi, IPW Desak PTDH dan Tersangka
-
'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran
-
Singgung Kasus Rocky Gerung, Todung Tak Yakin Saiful Mujani Berakhir di Pengadilan
-
Perintah 'Tembak Mati' Donald Trump: Selat Hormuz di Ambang Perang Terbuka!
-
Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi Penyimpangan dan Pengelolaan Tambang
-
Bantargebang di Ambang Kolaps, DPRD DKI Desak Strategi Pengelolaan Sampah Segera Dieksekusi
-
Dikaitkan dengan Kasus Kuota Haji, Khalid Basalamah Tegaskan Tak Pernah Interaksi dengan Gus Yaqut
-
Gus Lilur Gaungkan 'Abuktor' di Muktamar NU 2026: Syarat Mutlak Pemimpin PBNU Bebas Korupsi
-
Hari Bumi: BNI Rehabilitasi 50 Hektare Mangrove di Banyuwangi, Berikan Dampak Ekonomi ke 5.000 Warga