- Associate Professor Uhamka, Emaridial Ulza, menilai pernyataan Trump tentang kekalahan Iran adalah retorika politik, bukan fakta kondisi riil.
- Emaridial menyebut Trump sering menggunakan klaim kemenangan sebagai strategi psikologis untuk menekan lawan dalam negosiasi.
- Indonesia berpeluang menjalankan peran diplomasi peredam ketegangan Iran-AS melalui forum internasional seperti OKI.
Suara.com - Associate Professor dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Emaridial Ulza, menilai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Iran lebih merupakan retorika politik daripada gambaran kondisi nyata di lapangan.
Pernyataan itu merujuk pada unggahan Trump di platform Truth Social yang menyebut Iran sebagai "The Loser of the Middle East" dan menggambarkan negara tersebut telah “menyerah” setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Dalam unggahan itu, Trump juga menyebut Iran bukan lagi "Pengganggu Timur Tengah", melainkan "Pecundang Timur Tengah".
Menurut Emaridial, gaya komunikasi Trump kerap menonjolkan klaim kemenangan untuk menekan lawan secara psikologis.
"Donald Trump memiliki kebiasaan komunikasi mengambil kemenangan sebagai pesan pertama untuk mencoba menekan lawan secara psikologis," kata Emaridial dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.
Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia itu menilai pernyataan Trump juga mengandung kontradiksi yang menunjukkan situasi konflik di lapangan kemungkinan jauh lebih kompleks, bahkan bisa menandakan Amerika Serikat berada dalam posisi tertekan.
Ia menjelaskan bahwa dalam banyak konflik internasional, deklarasi kemenangan sepihak sering kali digunakan sebagai bagian dari strategi negosiasi untuk membentuk opini publik.
Emaridial menilai pola komunikasi semacam itu sudah beberapa kali muncul dalam berbagai isu internasional, termasuk saat negosiasi dagang Amerika Serikat dengan China, krisis di Korea Utara, hingga konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, klaim Trump bahwa Iran telah menyerah lebih tepat dilihat sebagai upaya membangun narasi kemenangan bagi konsumsi domestik dan komunitas internasional.
"Deklarasi kemenangan di media sosial bukanlah perdamaian. Dalam banyak kasus sejarah, retorika semacam ini justru dapat memperpanjang siklus eskalasi konflik. Apalagi ditambah dengan tidak ikut sertanya negara sekutu seperti Britania Raya atau juga Spanyol menyusul Jerman yang tidak akan terlibat langsung dalam perang ini memperkuat bahwa Trump butuh negosiasi," ucap Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Bidang Hubungan Luar Negeri itu.
Baca Juga: Siapa Profesor Jiang Xueqin? Sosok yang Ramal AS Kalah Perang Lawan Iran
Ia juga menilai saat ini baik Amerika Serikat maupun Iran berada dalam posisi yang sama-sama tertekan sehingga diperlukan pihak penengah untuk meredakan ketegangan.
Dalam konteks tersebut, Emaridial menilai Indonesia memiliki peluang memainkan peran diplomasi melalui forum internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
"Indonesia dalam posisi berada di Board of Peace bentukan Trump dan juga Indonesia bagian dari BRICS bisa menjadi penghubung, walaupun tidak secara langsung, minimal niat baik Presiden Prabowo sedikit mengurangi ketegangan dengan segala konsekuensi yang didapatkan," tutur Emaridial Ulza.
Berita Terkait
-
Siapa Profesor Jiang Xueqin? Sosok yang Ramal AS Kalah Perang Lawan Iran
-
Konflik AS-Iran Memanas: Bagaimana Nasib Iran di Piala Dunia 2026?
-
Iran Sebut Tangkap Tentara AS, Washington Membantah
-
Ribuan Berkas Epstein Files Mendadak Hilang, Banyak Singgung Donald Trump
-
TNI Siaga 1 Hadapi Dampak Perang Iran, Simak 7 Perintah Panglima Jenderal Agus Subiyanto
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Rusia Kasih Data Aset Militer AS ke Iran untuk Dihancurkan, Termasuk Lokasi Kapal dan Jet Tempur
Terkini
-
Viral! Penumpang Muslim Ditangkap Tim Taktis AS Bersenjata Lengkap Gara-Gara Timer Salat
-
Situasi Terkini Iran Jelang Baiat untuk Pemimpin Baru Ayatollah Mojtaba Khamenei
-
5 Fakta Mojtaba Khamenei: Jebolan Perang Iran-Irak, Nikahi Anak Politisi Senior Iran
-
Bawa Ayam Saat Jalan-jalan Bisa Bikin Stres Anda Berkurang, Profesor Ini Sudah Membuktikan
-
Duduk Perkara Kasus Bibi Kelinci: dari Nabilah O'Brien jadi Tersangka Hingga Berakhir Damai
-
Sempat Live Bareng Bigmo Saat Penetapan Tersangka, Ini Kata Wali Kota Solo
-
Aneh tapi Nyata! Tren di Jepang, Meditasi di Dalam Peti Mati Demi Kesehatan Mental
-
Kisah Punch, Bayi Monyet Viral Kini Mulai Punya Teman di Kebun Binatang Jepang
-
Cara Iran Acungkan 'Jari Tengah' ke Trump: Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Ayatollah
-
Kejaksaan Agung Panggil 9 Saksi Kasus Korupsi Ekspor POME, Siapa Saja?