Suara.com - Cina dan Rusia memveto rancangan sanksi Amerika Serikat terhadap Korea Utara, Kamis (26/05). Keputusan itu terkait peluncuran baru rudal balistik. Ini merupakan perpecahan nyata pertama di antara negara-negara DK PBB.
Sebanyak 13 anggota Dewan Keamanan PBB yang tersisa seluruhnya memberikan suara mendukung resolusi Amerika Serikat yang mengusulkan pelarangan ekspor tembakau dan minyak ke Korea Utara.
Rancangan ini juga akan memasukkan kelompok peretas Lazarus ke dalam daftar hitam yang menurut Washington memiliki keterkaitan dengan Pyongyang.
Pemungutan suara dilakukan sehari setelah Korea Utara menembakkan tiga rudal, termasuk satu rudal yang disebut sebagai rudal balistik antarbenua (ICBM) terbesarnya, setelah perjalanan Presiden AS Joe Biden ke Asia.
Kejadian itu adalah yang terbaru dalam serangkaian peluncuran rudal balistik tahun ini. Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield menggambarkan pemungutan suara itu sebagai "hari yang mengecewakan" bagi dewan.
"Dunia menghadapi bahaya yang nyata dan sekarang dari DPRK (Korea Utara)," katanya. "Pengendalian dan diamnya dewan belum menghilangkan atau bahkan mengurangi ancaman. Jika ada, DPRK sungguh berani."
Dia mengatakan, Washington telah menaksir bahwa Pyongyang telah melakukan enam peluncuran ICBM tahun ini dan "secara aktif bersiap untuk melakukan uji coba nuklir."
Selama 16 tahun terakhir, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat, meningkatkan sanksi untuk memotong dana bagi program senjata nuklir dan rudal balistik Korea Utara. Mereka terakhir kali memperketat sanksi terhadap Pyongyang pada 2017 lalu.
Cina dan Rusia mendorong pelonggaran sanksi untuk Korea Utara
Baca Juga: Korea Utara Kembali Uji Coba Rudal Balistik
"Pemberlakuan sanksi baru terhadap DPRK (Korea Utara) akan menemui jalan buntu," kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia.
"Kami menekankan pada ketidakefektifan dan ketidakmanusiawian dari penguatan tekanan sanksi terhadap Pyongyang."
Duta Besar Cina untuk PBB Zhang Jun mengatakan bahwa sanksi tambahan terhadap Korea Utara tidak akan membantu dan hanya akan menyebabkan lebih banyak "efek negatif dan eskalasi konfrontasi."
"Situasi di Semenanjung telah berkembang menjadi seperti sekarang ini terutama berkat kebijakan AS yang gagal dan kegagalan untuk menegakkan hasil dialog sebelumnya," katanya.
Cina telah mendesak Amerika Serikat untuk mengambil tindakan, termasuk mencabut beberapa sanksi sepihak, untuk membujuk Korea Utara melanjutkan pembicaraan yang terhenti sejak 2019, setelah tiga pertemuan puncak yang gagal antara Kim Jong Un dan Presiden AS saat itu Donald Trump.
Majelis Umum PBB akan membahas tentang Korea Utara dalam dua minggu ke depan di bawah aturan baru yang mengharuskan 193 anggotanya untuk melakukan pertemuan setiap kali veto diberikan di Dewan Keamanan oleh salah satu dari lima anggota tetap – Rusia, Cina, Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris. yas/ha (Reuters)
Berita Terkait
-
War Tiket Konser Day 3 BTS Capai 900 Ribu Antrean, Kurang dari 1 Jam!
-
Lebih Nyaman Adidas Samba Jane Leather atau Satin? Ini Review Jujurnya
-
Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
-
Niatnya Ramah, Barcelona Justru Dirujak Netizen Usai Beri Selamat ke Marcus Rashford
-
Dosen Kuliah S3 Tetap Dapat Serdos, Pemerintah Jamin Hak Tidak Hilang Selama Studi
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
-
Dosen Kuliah S3 Tetap Dapat Serdos, Pemerintah Jamin Hak Tidak Hilang Selama Studi
-
Perampok Emas 500 Gram di Menteng Ditangkap usai Tikam Korban 7 Kali
-
Warga Rusia Dibatasi Beli Bensin Usai Serangan Drone Ukraina Bakar Kilang Minyak Moskow
-
Misteri 1 Hektare Tanah Fadia Arafiq, KPK Telusuri Aset Tersembunyi di Berbagai Titik
-
Respons Kunker Gibran Bareng Mahasiswa: Buktikan Bisa Bawa Perubahan untuk Rakyat
-
KPK Cecar Silmy Karim terkait Dugaan Gratifikasi Izin Tinggal WNA
-
Awas Macet! Ada Haul Akbar di Monas Malam Ini, Cek 8 Rute Alternatif dan Lokasi Parkir
-
Ratusan Mahasiswa Trisakti Kepung DPR Siang Ini, Bawa Tritura Baru dan Kritik Kinerja Pemerintah
-
Bomber Andalan Persib Jagokan Cristiano Ronaldo Angkat Trofi Piala Dunia 2026, Selain Brasil