Namun Gerri kemudian kembali ke rumah masa kecilnya, membawa kedua putrinya bersamanya.
Kenangan Toni Elka tentang bibinya berbeda dengan yang dunia ketahui. Kebanyakan hanya mengetahui nama dan wajah Gerri di plakat para pendukung aborsi.
"Dulu dia hanyalah seorang perempuan muda. Orangnya benar-benar menyenangkan," kata Toni dari rumahnya di Boston.
"Dia suka datang ke rumah, menjemput kami semua untuk berenang, pergi ke pantai dan jalan-jalan. Sangat menyenangkan."
Gerri lalu mulai menjalin hubungan terlarang, dan hamil, dengan seorang pria bernama Clyde Dixon.
Tragedi di kamar motel
Dalam film dokumenter tahun 1995 berjudul "Leona's Sister Gerri", teman-teman Gerri bercerita tentang usaha perempuan tersebut untuk mengakhiri kehamilan karena takut sang suami mengetahuinya.
Seorang mantan detektif mengatakan pacar Gerri, Clyde sempat meminta arahan dan meminjam alat dari seorang teman yang istrinya adalah seorang dokter sehingga bisa melakukan aborsi sendiri.
Ketika prosedur tidak berjalan sesuai rencana, dia melarikan diri sebelum beralih profesi menjadi polisi.
Gerri mencoba menelepon rumah saudara perempuannya, Leona (Gordon), sebelum meninggal dunia, tetapi Leona sedang tidak di rumah.
Baca Juga: Kasus Mahasiswi Aborsi Kandungan Berusia 5 Bulan di Kamar Kos, Polisi Ungkap Kondisi Janin
Seorang pembersih motel menemukan mayat Gerri keesokan harinya.
"Saat itu saya tidak tahu bagaimana dia meninggal," kata Elka, yang saat itu berusia 12 tahun.
"Saya baru tahu bahwa dia menelepon ibu saya. Lalu dia meninggal.
"Dan ibu saya saat itu tidak ada di sana. Ibu saya sangat menderita."
Elka menggambarkan keluarganya adalah warga kelas buruh, dengan pendapatan yang sangat rendah.
Dia mengatakan ibunya berusaha untuk memroses kesedihannya, di samping harus bekerja di pabrik dan membesarkan lima anak.
"Dampaknya pada keluarga kami sangat terasa, saya tidak melebih-lebihkan," katanya.
"Saya benar-benar, sejujurnya merasa dan percaya bahwa setiap kami hancur pada hari itu — dan oleh situasi itu, yang tidak seharusnya terjadi.
"Karena faktanya jika bibi saya punya uang, dia pasti akan melakukan aborsi yang aman. Namun nyatanya tidak."
'Dia mewakili setiap perempuan'
Pada Januari 1973, hampir satu dekade setelah Gerri meninggal, Roberta Brandes Gratz bekerja sebagai jurnalis lepas di kota New York.
Dia baru menulis serangkaian artikel tentang akses aborsi dan sedang mengerjakan cerita fitur untuk majalah Ms, yang didirikan oleh aktivis feminis, Gloria Steinem.
"Aborsi sangat ilegal, tetapi banyak perempuan melakukannya," kata Brandes Gratz kepada ABC melalui telepon dari Manhattan.
Menurutnya, pada saat itu aborsi sering menjadi "keputusan hidup dan mati", tetapi pada 22 Januari 1973 tiba-tiba aborsi didefinisikan ulang sebagai hak semua orang Amerika.
"Itu adalah foto yang mengejutkan. Tapi sudah ada begitu banyak cerita perempuan lain yang mengejutkan saya," katanya.
Ketika Mahkamah Agung menjatuhkan putusannya Roe v Wade, warga Amerika mendapatkan akses nasional aborsi sampai sekitar 24 minggu usia kehamilan.
"Saya segera menulis ulang artikel itu bertepatan dengan putusannya, dan kami mengambil foto yang diamankan Departemen Kesehatan Connecticut," kata Brandes Gratz.
"Saya, dan editor di Ms, semuanya memiliki pandangan sangat mirip bahwa dia mewakili setiap perempuan, khususnya mereka yang berpotensi dipaksa melakukan aborsi ilegal."
Tetapi publikasinya mengejutkan dan membuat marah keluarga Gerri, termasuk saudara perempuannya, yang melihat majalah itu.
"Meskipun tidak menyebutkan nama, saya sadar bahwa ini adalah foto saudara perempuan saya," kata Leona kepada pembuat film Jane Gillooly.
"Itu membawa semua hal mengerikan yang saya coba lupakan ini kembali lagi mendatangi pikiran saya," ujarnya.
Brandes Gratz yakin foto itu telah menjadi simbol kuat hingga sekarang.
"[Foto] itu menjadi lambang," katanya.
"Ini menunjukkan kepada dunia bagaimana nasib perempuan yang tidak bisa melakukan aborsi legal.
"Foto tersebut menggemakan semua yang perlu dikatakan tentang masalah aborsi dalam satu foto."
Terlepas dari reaksi awalnya, saudara perempuan Gerri, Leona kemudian menjadi bangga dengan foto itu.
Dalam film dokumenter tersebut, dia difilmkan di rapat umum, memegang poster bertuliskan: "Ini saudara perempuan saya."
"Ibu saya sangat, sangat mencintai adiknya. Dan dia mengutarakannya dengan benar," kata Elka.
"Dia berkata, 'Inilah yang terjadi ketika perempuan kehilangan hak untuk memilih'."
Hak-hak lain yang terancam hilang
Hakim Pengadilan Tinggi Clarence Thomas menulis bahwa pengadilan "harus mempertimbangkan kembali" putusan masa lalu lainnya yang memberi orang Amerika hak-hak tertentu.
Dia merujuk kasus-kasus kunci yang menjamin akses ke kontrasepsi, dan melegalkan hubungan sesama jenis dan pernikahan sesama jenis.
"Dalam kasus-kasus mendatang, kita harus mempertimbangkan kembali semua preseden proses hukum substantif pengadilan ini, termasuk Griswold, Lawrence, dan Obergefell," tulisnya.
Dengan melakukan itu, dia menegaskan ketakutan jutaan orang Amerika bahwa beberapa konservatif tidak akan puas hanya dengan membatalkan hak aborsi.
Mereka dapat menargetkan hak-hak lain yang telah diperoleh dengan susah payah.
Dengan berakhirnya Roe v Wade, kira-kira setengah dari negara bagian AS melarang atau mempersempit akses aborsi.
Besarnya implikasi kesehatan dan ekonomi dari keputusan Mahkamah Agung tidak dapat diremehkan.
Namun, keputusan itu—dan pendapat Hakim Thomas pada khususnya—telah mengguncang banyak pengamat hukum, termasuk Alexis Karteron, seorang profesor hukum dan direktur Klinik Hak Konstitusional di Universitas Rutgers.
"Hakim Thomas dan pendapatnya yang dengan tegas mengatakan bahwa pengadilan harus meninjau kembali sejumlah kasus proses hukum yang melibatkan isu-isu yang sangat penting," katanya.
"Misalnya hak untuk pernikahan sesama jenis, hak untuk berada dalam hubungan sesama jenis tanpa menghadapi kriminalisasi, dan hak untuk mengakses alat kontrasepsi."
Karteron, yang menggambarkan Hakim Thomas sebagai orang yang "sangat konservatif", mengatakan dia telah memperjelas posisinya.
"Dia benar-benar tidak pernah malu untuk mengatakan dengan tepat apa yang dia pikirkan," katanya.
Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris
Berita Terkait
-
Corpus Uterus: Menelusuri Rahim, Trauma Sejarah, dan Perlawanan Perempuan
-
Klarifikasi Ayu Aulia soal Rahim Diangkat, Bukan Cuma Karena Faktor Dihamili Bupati R
-
Ayu Aulia Ngaku Cuma Halu Dihamili Pejabat: Kan Keren Kalau Hamil sama Bupati
-
Ngaku Dihamili Ridwan Kamil hingga Bupati Bintan, Ayu Aulia Minta Maaf: Itu Cuma Halusinasi
-
Ayu Aulia Ngaku Ridwan Kamil yang Menghamilinya, Netizen Ungkap Sejumlah Kejanggalan
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
7 Poin Penting di Balik Tuntutan Soal BBM dan Program MBG
-
Nanik S Deyang Tunjuk Agustina Arumsari sebagai Juru Bicara BGN
-
Peran BGN Terlalu Luas, Komnas HAM Desak Revisi Perpres MBG
-
Polisi hingga DPR Kelola SPPG, Guru Ngeluh Kesulitan Mengadu soal MBG
-
BGN Akui Motor Listrik Masih Menumpuk, Semua Aset Era Dadan Hindayana Akan Dimaksimalkan
-
Cek Langsung Penerima BSPS di Jakbar, Mendagri Dorong Pemda Perluas Dukungan Bedah Rumah lewat APBD
-
Prabowo Terima Utusan Qatar, Kerja Sama Investasi dan Pembangunan Jadi Fokus Pembahasan
-
Siapa Perwakilan Mahasiswa Demo yang Temui Gibran Hari Ini
-
Anggaran MBG 2027 Tembus Rp270 Triliun, Masih Pakai Dana Pendidikan dan Kesehatan
-
Tak Lagi Flat Rp6 Juta, BGN Ubah Aturan Insentif SPPG, Begini Skemanya