Keharusan menggunakan masker di Singapura
Di Singaoura ada keharusan mengenakan masker di dalam ruangan termasuk di perpustakaan, pasar, pusat perbelanjaan seperti mall, sekolah dan pesta pernikahan.
Dalam acara pernikahan, pengantin bisa menggunakan alat pelindung wajah namun tamu hanya boleh membuka masker ketika makan dan minum.
Menurut Associate Professor Ashley St John dari Program Penyakit Menular Singapura, pada umumnya warga menerima aturan tersebut.
"Penggunaan masker masih diperlukan dalam ruangan di luar rumah di Singapura ketika tidak sedang makan dan minum," katanya.
"Dalam pandangan saya, kebanyakan warga mematuhi dan mendukung keputusan tersebut."
Meski sebagian warga tidak mempermasalahkan penggunaan masker, Dr St John mengatakan masih ada beberapa kendala dalam hal tingkat vaksinasi.
"Penggunaan masker efektif untuk mencegah penyebaran COVID-19 namun kemungkinan aspek terhadap COVID-10 saat ini yaitu menurunkan tingkat kematian adalah vaksinasi," katanya.
"Tingkat kepatuhan dalam menjalankan vaksinasi di banyak negara Asia cukup tinggi."
Dr Vally dari Deakin University di Melbourne mengatakan warga Australia sudah tidak lagi mengandalkan pada penggunaan masker, tetapi menurutnya perlu pesan yang kuat dari pemerintah soal ini karena di negara itu 100 orang meninggal karena COVID dan lima ribu orang dirawat di rumah sakit setiap harinya.
Baca Juga: Tips Cegah Masalah Pernapasan pada Jemaah Haji, Jangan Kendor Pakai Masker
"Kita tidak akan bisa mencapai taraf kepatuhan dan tekanan sosial seperti di negara-negara Asia, tetapi sekarang ini pesan yang disampaikan tidak jelas, [seolah] karena tidak ada keharusan yang dituntut pemerintah, berarti pemakaian masker itu tidak penting," katanya.
"Mestinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan masker sebagai bagian dari usaha untuk menurunkan tingkat kasus."
Warga Jepang diingatkan untuk membuka masker
Di Jepang masker muka sudah dikenal dengan nama populer 'celana wajah".
"Mungkin terlihat lucu dan konyol namun sebenarnya penting sekali artinya," kata Dr Vally.
"Demikian halnya kita tidak akan meninggalkan rumah tanpa celana atau bawahan, demikian juga kita tidak akan meninggalkan rumah tanpa masker. Ini menunjukkan bagaimana tatakrama sosial di sana."
Begitu kuatnya tekanan sosial di sana, warga melaporkan bahwa mereka mendapatkan pandangan sinis atau tatapan marah kalau mereka keluar tanpa mengenakan masker.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
10 Sneakers Putih Ikonik untuk Gaya Kasual yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman, Wajib Punya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
Terkini
-
Drama London: Paspampres Klarifikasi Soal Halangi Jurnalis Saat Kawal Presiden Prabowo
-
Ketua KPK Jawab Peluang Panggil Jokowi dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Curhat Pimpinan KPK ke DPR: Alat Kurang Canggih Jadi Hambatan Utama OTT
-
Animo Tinggi, PDIP Minta Kemensos 'Gaspol' Bangun Sekolah Rakyat
-
PSI: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden, Bukan Jadi Kementerian
-
KND Kawal Hak Atlet Disabilitas, Kontingen Indonesia Raih 135 Emas di ASEAN Para Games 2025
-
Ketua DPRD DKI Kawal Janji Pramono Lepas Saham Perusahaan Bir, Kaji Opsi Tukar Guling
-
Jadi Ipar Presiden RI, Soedradjad Djiwandono Ngaku Kudu Hati-hati Komentari Masalah Dalam Negeri
-
Kali Ciliwung Meluap, 11 RT di Jakarta Terendam Banjir
-
'Awal Tahun yang Sempurna', Daftar 4 Kritik Adian Napitupulu Terhadap Pemerintahan Prabowo