Suara.com - Oleh James Waterhouse di Ukraina, Paul Adams dan Merlyn Thomas di London BBC News
Sejumlah warga Ukraina melaporkan pasukan bersenjata masuk dari pintu ke pintu rumah warga di wilayah yang telah diduduki oleh Rusia, untuk meminta suara "referendum" bergabung dengan Moskow.
"Anda harus menjawab secara verbal, dan tentara itu akan mencatat jawabannya di kertas, lalu mengantonginya," kata seorang perempuan di Enerhodar kepada BBC.
Di Kherson selatan, para penjaga Rusia berdiri dengan kotak suara di tengah kota, dan mengumpulkan suara dari masyarakat.
Pemungutan suara dari pintu ke pintu rumah warga dilakukan untuk "keamanan", kata media pemerintah Rusia.
"Pemungutan suara akan berlangsung secara eksklusif 27 September," menurut laporan Tass. "Pada hari-hari lainnya, pemungutan suara akan diselenggarakan di tingkat komunitas dan dari pintu ke pintu rumah warga."
Seorang perempuan di Melitopol mengatakan kepada BBC bahwa dua "kolaborator" lokal bersama dengan dua tentara Rusia tiba di kediaman orang tuanya, untuk memberikan surat suara.
"Ayah saya menyatakan 'tidak' [untuk bergabung dengan Rusia]," kata perempuan itu.
"Ibu saya yang berdiri di dekat Ayah saya, bertanya kepada mereka, apa yang akan terjadi kalau menjawab 'tidak'. Mereka berkata 'tidak apa-apa'.
Baca Juga: Duta Besar Ukraina Bicara Hukum Internasional di Depan Mahasiswa
"Ibu saya sekarang khawatir pihak Rusia akan menyiksa mereka."
Perempuan yang enggan disebutkan namanya itu juga mengatakan, hanya ada satu surat suara untuk semua keluarga, bukan per orang.
Kehadiran tentara bersenjata untuk meminta suara "referendum" kepada warga merupakan hal yang anekdot, karena sebelumnya Moskow mendesak proses ini akan bebas dari tekanan atau adil.
Baca Juga:
- Perang Ukraina: 'Apa yang terjadi di Rusia sekarang adalah ketakutan total'
- Perang Ukraina: Protes seruan mobilisasi Putin, lebih 1.300 orang ditangkap di Rusia, polisi antihuru-hara dikerahkan, tiket ke luar negeri terjual habis
Para ahli mengatakan referendum sepihak yang berlangsung selama lima hari, akan memungkinkan Rusia untuk mengeklaim - secara ilegal - empat wilayah yang diduduki atau sebagian Ukraina sebagai milik mereka.
Dengan kata lain, ini merupakan pemilihan palsu untuk mencaplok wilayah Ukraina, tujuh bulan setelah invasi Rusia.
"Pencaplokan" wilayah ini tidak akan diakui secara internasional. Namun, Rusia bisa mengklaim wilayahnya ini diserang oleh senjata Barat yang dipasok ke Ukraina, yang dapat meningkatkan perang lebih lanjut.
Presiden AS, Joe Biden menggambarkan referendum ini sebagai "tipuan". Referendum akan dijadikan "dalih untuk menipu" demi mencaplok wilayah Ukraina secara paksa yang melanggar hukum internasional.
"Amerika Serikat tidak akan mengakui wilayah Ukraina sebagai apa pun, selain dari kedaulatan Ukraina itu sendiri," katanya.
Menteri Luar Negeri Inggris, James Cleverly mengatakan pihaknya memiliki bukti bahwa pejabat Rusia telah menetapkan target untuk "menciptakan jumlah pemilih dan jumlah yang setuju untuk referendum yang palsu ini".
Cleverly mengatakan, Rusia berencana untuk meresmikan pencaplokan empat wilayah - Luhansk, Donetsk, Kherson dan Zaporizhzhia - akhir bulan ini.
Sumber BBC di Kherson mengatakan, tidak ada keinginan dan upaya dari publik mendorong pemungutan suara.
Warga hanya menerima pengumuman dari kantor berita Rusia bahwa orang-orang bisa melakukan pemungutan suara di sebuah bangunan pelabuhan yang sudah tidak digunakan selama 10 tahun.
Sumber lainnya di Kherson mengatakan, ia melihat "militan bersenjata" di luar gedung di mana tempat pemungutan suara berlangsung. Dia mengaku lupa membawa paspor, sehingga ia tak mengambil bagian dari pemungutan suara.
Sumber-sumber ini mengatakan semua teman, dan keluarganya menolak referendum.
"Kami tidak tahu bagaimana kehidupan kami setelah referendum ini," katanya. "Sulit untuk dimengerti apa yang mereka inginkan."
Sementara itu, pihak Ukraina mengatakan referendum tak akan mengubah apa-apa, dan pasukan mereka akan terus mendorong serta membebaskan wilayah-wilayah yang telah diduduki Rusia.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan sedikitnya 300.000 pasukan cadangan, yang membuat banyak warga laki-lakinya pergi ke luar negeri.
Seorang pria Rusia yang meninggalkan St Petersburg dan sekarang berada di Kazakhstan mengatakan ia menghindari wajib militer. Kata dia kepada BBC, sebagian temannya juga dalam perjalanan.
"Sekarang, saya seperti merasa hancur lebur. Saya tahu hanya mungkin satu atau dua orang yang tidak membayangkan untuk meninggalkan kampung halaman, dan menjadi eksil di luar negeri," katanya.
Dia mengatakan, beberapa orang, seperti dirinya, pergi melewati wilayah perbatasan, sedangkan yang lainnya memilih bersembunyi ke desa-desa kecil di Rusia.
"Masalah terbesar Rusia adalah bahwa kami tidak membayangkan tentang perang di Ukraina pada Februari lalu, sebagaimana kami bayangkan saat ini," katanya.
- Hanna Chornous dan Daria Sipigina di Ukraina juga berkontribusi dalam artikel ini.
Apa yang ditanyakan dalam 'referendum'?
- Di Luhansk dan Donetsk, 'republik rakyat' yang mendeklarasikan dirinya sendiri, warga ditanyai apakah "mendukung republik mereka untuk proses berikutnya menjadi subjek federal Rusia"
- Di Zaporizhzhia dan Kherson, warga ditanyai apakah mereka
- Di Luhansk dan Donetsk, surat suara dicetak hanya dalam bahasa Rusia. Sementara itu, di Zaporizhzhia dan Kherson, surat suara dicetak dalam Bahasa Ukraina dan Rusia.
Berita Terkait
-
Eropa Terancam Gelap: Pipa Migas Rusia Rusak, Perang Iran Tutup Selat Hormuz
-
Perang Rusia-Ukraina Masuk Tahun Keempat, PBB Desak Gencatan Senjata Segera
-
Dari Brimob Aceh ke Garis Depan Donbass: Mengapa Tentara Bayaran Rusia Menjadi Pilihan Fatal?
-
6 Fakta Bripda Rio: Desersi Usai Selingkuh dan KDRT, Kabur Jadi Tentara Bayaran Rusia
-
Satya Wacana Datangkan Pemain Timnas Ukraina untuk IBL 2026, Jebolan Liga Bulgaria
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Nyoman Parta: Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Alarm Bahaya bagi Demokrasi
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Resmikan Taman Bendera Pusaka, Pramono Anung Janjikan RTH Jakarta Akan Bening Seperti di Korea
-
Anies Baswedan Tulis Surat Menyentuh untuk Aktivis KontraS Korban Penyiraman Air Keras
-
Jelang Idulfitri, KPK Ingatkan ASN Tolak Gratifikasi dan Dilarang Mudik Pakai Mobil Dinas
-
Bantargebang Sudah Sesak, DPRD DKI Minta Pasar Jaya Percepat Pengolahan Sampah Mandiri
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro