News / Internasional
Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB
Serangan drone terbesar Ukraina di Moskow menewaskan empat orang termasuk seorang pekerja India. (Skynews)

Suara.com - Serangan udara terbesar dalam setahun terakhir yang diluncurkan Ukraina berhasil menembus pertahanan wilayah pinggiran Moskow dan menewaskan empat orang. Insiden fatal ini membuktikan bahwa wilayah sedalam Moskow kini tidak lagi steril dari jangkauan militer Kyiv.

Tiga korban jiwa ditemukan di pinggiran ibu kota Moskow, sementara satu korban lainnya tewas di wilayah Belgorod. Salah satu korban meninggal dunia yang teridentifikasi di area Moskow merupakan seorang pekerja migran asal India.

Dikutip dari Skynews, Kedutaan Besar India mengonfirmasi bahwa selain satu pekerja mereka yang tewas, terdapat tiga warga negara India lainnya yang mengalami luka-luka. Gelombang serangan ini juga memicu kerusakan parah pada sejumlah apartemen bertingkat serta fasilitas infrastruktur strategis Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte (x.com)

Gubernur Wilayah Moskow, Andrei Vorobyov, menjelaskan bahwa seorang wanita tewas mengenaskan setelah sebuah rumah hancur dihantam drone di Khimki, wilayah utara ibu kota. Di tempat terpisah, dua pria dilaporkan kehilangan nyawa mereka di Desa Pogorelki yang berada di Distrik Mytishchi.

Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil merontokkan 81 pesawat tanpa awak yang mengarah ke ibu kota sejak tengah malam. Namun, serpihan drone tetap melukai 12 orang yang sebagian besar berada di dekat gerbang masuk kilang minyak Moskow.

Target Vital Kilang Minyak Rusia

Pemerintah Rusia mengklaim bahwa kerusakan mekanis pada teknologi utama kilang minyak berhasil dihindari meskipun area sekitarnya hancur. Di pihak lain, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengumumkan keberhasilan operasi militer mereka yang tepat sasaran pada infrastruktur energi Rusia.

Ilustrasi peta perbatasan Rusia-Ukraina. [Ist]

SBU menegaskan bahwa pasukan Ukraina sukses menghantam satu kilang minyak utama dan dua stasiun pompa minyak di wilayah Moskow. Operasi ini sengaja dirancang untuk melumpuhkan pasokan bahan bakar yang menjadi roda penggerak logistik militer Kremlin.

Melalui saluran Telegram resmi, SBU memberikan pernyataan tegas mengenai efektivitas dari operasi udara berskala besar ini. "Serangan terhadap fasilitas industri pertahanan, infrastruktur militer, dan situs logistik minyak mengurangi kemampuan musuh untuk melanjutkan perangnya melawan Ukraina. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa wilayah Moskow yang dijaga ketat sekalipun tidak aman," kata SBU di Telegram.

Baca Juga: RI-Rusia Perluas Kerja Sama Energi: Dari Minyak Mentah, Kilang Tuban, hingga Pembangkit Nuklir

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, turut memberikan pembelaan dan dukungan penuh atas tindakan agresif yang diambil oleh pasukannya. Menurut pemimpin Ukraina tersebut, operasi udara di jantung pertahanan Rusia ini merupakan langkah pertahanan diri yang sah.

"Sepenuhnya dibenarkan," ujar Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy mengatakan serangan itu.

Skala Pertempuran Udara Kedua Pihak

Kementerian Pertahanan Rusia merilis data bahwa total ada 556 drone Ukraina yang berhasil dijatuhkan di seluruh negeri hingga Minggu pagi. Angka ini menunjukkan eskalasi pertempuran udara yang masif dan belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang tahun ini.

Sementara itu, Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa wilayah mereka juga dihantam oleh kiriman 287 drone militer milik Rusia secara bertubi-tubi. Sistem pertahanan udara Kyiv mengklaim berhasil melumpuhkan atau mengacak sinyal dari 279 drone musuh yang masuk.

Dinas Darurat Ukraina melaporkan delapan warga sipil terluka akibat pecahan peluru di wilayah Dnipropetrovsk tengah. Selain korban luka, serangan udara Rusia tersebut juga menghancurkan sejumlah kawasan pemukiman warga sipil di sana.

Load More