News / Internasional
Senin, 10 Oktober 2022 | 17:03 WIB
Suasana kegiatan yang dilaporkan Kantor Berita Sentral Korea Utara (KCNA) sebagai uji coba penembakan rudal hipersonik di lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara (5/1/2022). (ANTARA/KCNA via Reuters/aww)

Suara.com - Malaysia dan Jepang bersepakat untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi ancaman keamanan yang timbul dari peluncuran rudal balistik yang dilakukan Korea Utara dalam dua minggu terakhir.

Pada Minggu (9/10), menteri luar negeri Malaysia dan Jepang membahas potensi ancaman dari uji coba rudal yang dianggap provokatif dan mengemukakan komitmen untuk menghdadapi ancaman tersebut bersama.

"Peluncuran rudal balistik yang sering [oleh Korea Utara] telah menyebabkan ancaman besar dan segera terhadap keamanan Jepang dan wilayah [sekitarnya], dan ini menjadi tantangan yang jelas dan serius bagi masyarakat internasional," kata Menteri Luar Negeri Jepang, Yoshimasa Hayashi.

Hayashi menyampaikan pernyataan itu pada jumpa pers bersama setelah pertemuan dengan Menlu Malaysia Saifuddin Abdullah di Kuala Lumpur.

Dalam tindakan provokatif terbarunya, Korut menembakkan dua rudal balistik ke Laut Jepang pada Minggu pagi.

Sejak awal tahun ini, Korut telah melakukan 25 kali uji coba rudal, termasuk uji coba rudal jelajah.

Pada Selasa (4/10), Korut meluncurkan rudal balistik ke Pasifik di luar kepulauan Jepang untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Langkah Korut itu menimbulkan kritik keras dari Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Langkah itu bertepatan dengan meningkatnya laporan bahwa Korut sedang mempersiapkan uji coba nuklir ketujuh, yakni yang pertama sejak September 2017.

Karena Jepang dan negara-negara lain yang khawatir dengan ketegasan maritim China di laut China Timur dan Selatan, Hayashi menyerukan dukungan untuk mewujudkan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

Dia pun mengungkapkan penentangan yang kuat terhadap setiap upaya sepihak untuk mengubah status quo di kawasan tersebut.

Menjelang peringatan 50 tahun dimulainya hubungan Jepang ASEAN pada 2023, Pemerintah Jepang berupaya meningkatkan hubungannya dengan anggota ASEAN, termasuk Malaysia.

Menlu Jepang dan Malaysia juga sepakat untuk mempromosikan hubungan antara masyarakat Jepang dan Malaysia.

Di tengah tanda-tanda penurunan jumlah kasus COVID-19, pada Selasa (11/10), Jepang akan menghapus batas 50.000 kedatangan orang dari luar negeri per hari dan melanjutkan perjalanan bebas visa individu ke negara itu.

Tahun ini, Malaysia memperingati 40 tahun Kebijakan Melihat ke Timur (Look East Policy) yang berupaya untuk mencontoh Jepang dalam pembangunan ekonomi.

Load More