Setahun berikutnya, Maret 1968, Soeharto sah diangkat menjadi presiden. Sementara Soekarno ditahan sebagai tahanan rumah sampai kematiannya pada 21 Juni 1970.
Alasan Jokowi Sebut Bung Karno Tidak Berkhianat
Awal-awal Soeharto jadi presiden, TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1967 dibuat. Ketetapan ini berisi tentang pencabutan kekuasaan presiden dari Soekarno.
Tap MPRS ini juga menyatakan keterlibatan Soekarno dalam peristiwa G30S. Bagian pertimbangan peraturan itu menyebut Bung Karno membuat keputusan yang menguntungkan gerakan G30S dan melindungi para tokoh PKI.
Artinya, menurut aturan tersebut Soekarno diduga terlibat dalam peristiwa berdarah terbunuhnya para jenderal tentara di Lubang Buaya.
Lompat ke tahun 2003, Tap MPRS tentang G30S/PKI itu dicabut. Dasar hukumnya menggunakan Ketetapan MPR Nomor 1/MPR/2003. Tahun itu, kursi Presiden diduduki Megawati Soekarnoputri, putri pertama Soekarno.
Maju satu dekade kemudian. Presiden Jokowi yang berasal dari Partai PDI Perjuangan yang diketahui Megawati kembali menegaskan terbitnya Tap MPR tahun 2003 tersebut.
"Presiden (Jokowi) juga menegaskan kembali sejarah kepahlawanan Bung Karno, terutama terkait Ketetapan MPRS Nomor 33/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan Negara dari Presiden Soekarno."
"Menurut Presiden, Ketetapan MPR Nomor 1/MPR/2003 telah menyatakan bahwa TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1967 sebagai kelompok ketetapan MPRS yang dinyatakan tidak berlaku lagi dan tidak perlu dilakukan tindakan hukum lebih lanjut, baik karena bersifat final telah dicabut, maupun telah dilaksanakan," sebagaimana dikutip dari laman presidenri.go.id (8/11/2022).
Baca Juga: Perjalanan Karier Politik Prabowo: Pernah 3 Kali Kalah di Pilpres, Kini Diberi Sinyal Hijau Jokowi
Dalam pernyataannya, Jokowi berkata, “Tahun 1986 pemerintah telah menganugerahkan pahlawan proklamator kepada Ir. Soekarno, dan di tahun 2012 pemerintah telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada almarhum Ir. Soekarno."
Menurut Jokowi, Soekarno telah memenuhi syarat setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara. Hal itu merupakan syarat penganugerahan gelar kepahlawanan yang wajib dipenuhi.
Jokowi berkata, “Hal ini merupakan bukti pengakuan dan penghormatan negara atas kesetiaan dan jasa-jasa Bung Karno terhadap bangsa dan negara, baik sebagai pejuang dan proklamator kemerdekaan, maupun sebagai Kepala Negara di saat bangsa Indonesia sedang berjuang membangun persatuan dan kedaulatan negara”.
Dalam laman tersebut pun dituliskan tanggapan putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. Menurut Guntur, meskipun Bung Karno telah dianugerahi gelar pahlawan nasional, namun hingga saat ini masih terjadi proses de-soekarnoisasi yang berupaya memperkecil peranan dan kehadiran Bung Karno.
Guntur menilai, pernyataan Jokowi juga menjadi penegasan bahwa sosok Bung Karno bersih dan tidak patut dituduh terlibat G30S/PKI. Bung Karno, lanjutnya, justru merupakan seorang patriot sejati.
“Di sini ditegaskan lagi dengan adanya penjelasan dari Bapak Presiden tadi, jelas Soekarno bukan PKI dan Soekarno bukan komunis. Soekarno tetap seorang nasionalis sejati, seorang patriot paripurna,” ujar Guntur.
Babak baru sejarah G30S/PKI. Lalu bagaimana dengan nasib DN Aidit, keluarga mereka dan orang-orang yang terafiliasi dengan PKI dan menjadi korban?
Bagaimana pula dengan Soeharto? Korban meninggal dari kubu PKI pun tidak sedikit, siapa yang patut bertanggung jawab? Siapa yang namanya layak dikenang?
Berita Terkait
-
Perjalanan Karier Politik Prabowo: Pernah 3 Kali Kalah di Pilpres, Kini Diberi Sinyal Hijau Jokowi
-
Daripada Ganjar Pranowo, Prabowo Lebih Dekat ke 'Restu' Jokowi di Pilpres 2024, Kok Bisa?
-
Sinyal Dukungan Pada Capres 2024 Nantinya, Jokowi: Setelah Ini Jatahnya Pak Prabowo
-
Pecah! Lawakan Cak Lontong di HUT Perindo Bikin Jokowi dan Ketum Partai Terpingkal-pingkal
-
Tak Blak-blakan Seperti ke Prabowo, Jokowi Lebih Hati-hati Nyatakan Dukungan ke Ganjar karena...
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan