Suara.com - Curah hujan tinggi kini kembali melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia. Cuaca yang tak menentu pun membuat banyak wilayah di Indonesia terendam banjir.
Penyebab dari curah hujan yang meningkat ini adalah munculnya fenomena Badai Topan Vamei.
Lalu, apa sebenarnya Topan Vamei? Simak inilah penjelasa selengkapnya.
Pada dasarnya, fenomena badai tidak bisa terbentuk di dekat wilayah yang dilewati garis khatulistiwa. Namun, di tahun 2001 silam, sebuah badai ekstrim muncul sekitar 150 kilometer di utara garis khatulistiwa Laut Cina Selatan, dekat wilayah Singapura.
Para peneliti cuaca pun melakukan analisa baru dari perilaku atmosfer yang aneh dengan fenomena topan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa badai tersebut dapat terjadi hanya sekali setiap 1 abad.
Fenomena ini membuat para peneliti terkejut karena Topan Vamei ini menyapu bagian utara Singapura, pada garis lintang 1,3°LU, pada 2001 lalu. Dengan kecepatan angin mencapai 140 kilometer per jam, topan tersebut bahkan pernah membanjiri semenanjung Melayu selatan dan merusak dua kapal angkatan laut AS yang sedang berada di Laut Cina Selatan.
Ahli meteorologi C. P. Chang dari Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut di Monterey, California, dan rekan-rekannya di Februari Geophysical Research Letter mengungkap bahwa Topan Vamei ini menyebabkan munculnya pusaran badai dari Borneo atau Kalimantan, di atas Laut Cina Selatan yang memiliki temperatur hangat dan berlangsung selama berhari-hari.
Pada saat yang sama, gelombang kuat angin muson dingin dari timur laut berhembus melalui celah antara Kalimantan dan Indochina, diperkuat dengan pusaran badai dan membuatnya berputar tanpa bantuan rotasi bumi. Angin dan badai ini pun berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan fenomena alam seperti Vorteks Borneo dan Lonjakan Lintas Utara Khatulistiwa atau Cross Equatorial Northly Surges (CENS).
Dua hal ini pun terjadi pada Laut Cina Selatan dan mendorong Vamei menjadi sebuah kekuatan yang disebut dengan topan. Para peneliti pun juga menghitung bahwa kondisi yang tidak biasa mungkin tidak akan terulang selama 100 hingga 400 tahun.
Baca Juga: Lakukan Hal Ini Demi Ibu Eny, Tiko Rela Menerjang Hujan dan Banjir
Hal ini juga dibenarkan oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menetapkan beberapa wilayah Indonesia mengalami cuaca ekstrim sehingga peringatan pun juga dikeluarkan demi keselamatan masyarakat terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Kontributor : Dea Nabila
Berita Terkait
-
Lakukan Hal Ini Demi Ibu Eny, Tiko Rela Menerjang Hujan dan Banjir
-
Musim Hujan Landa Jakarta, PSI Minta Pemprov DKI Bareng TNI AU Rutin Tebar Garam ke Awan
-
Warga Karawang Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Masih Akan Terjadi Hingga Tanggal Segini
-
Warga Terdampak Banjir di Kecamatan Benda Kota Tangerang Mulai Terserang Penyakit Kulit
-
Agar Aman dan Nyaman Mengemudikan Mobil saat Musim Hujan, Jangan Lupa Periksa Karet Kendaraan
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Ade Armando Resmi Keluar dari PSI, Pengamat Sebut Demi Selamatkan Citra Partai
-
Mensos Gus Ipul Sambangi KPK Besok, Minta Nasihat Terkait Pengadaan Sekolah Rakyat yang Disorot
-
Gelandang Botafogo Danilo Incar Satu Slot Timnas Brasil di Piala Dunia 2026: Banyak Pemain Top
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Intelijen Itu Alat Negara, Bukan Alat Emosi
-
Menkes Budi Waspadai Hantavirus Masuk Indonesia, Rapid Test hingga PCR Disiapkan
-
Akan Disampaikan di Forum Dunia, 3 Poin tentang Kekerasan Anak yang Tak Bisa Lagi Diabaikan
-
Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan
-
Prabowo Bertolak ke Filipina Hadiri KTT Ke-48 ASEAN, Menteri Bahlil dan Seskab Teddy Ikut
-
Soal Masa Depan Wisata RI, Triawan Munaf: Tak Ada Lagi Sistem Pemesanan yang Terfragmentasi
-
Siap-Siap Ganti Gas Melon ke CNG, Apakah Bisa Pakai Kompor LPG Biasa?