- Pemerintah Indonesia merencanakan konversi penggunaan gas rumah tangga dari LPG ke CNG .
- Kementerian ESDM memastikan masyarakat tidak perlu mengganti kompor lama.
- Saat ini pemerintah sedang melakukan uji coba tabung CNG bertekanan tinggi untuk menjamin aspek keselamatan.
Suara.com - Wacana penggunaan CNG sebagai pengganti LPG gas melon 3 kg mulai ramai diperbincangkan setelah pemerintah membuka peluang konversi bertahap untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang selama ini masih cukup tinggi.
Di sisi lain, masyarakat mulai mempertanyakan apakah penggunaan tabung CNG nantinya akan memerlukan perangkat baru di rumah. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah kompor gas biasa tetap bisa digunakan jika beralih ke CNG.
Kekhawatiran tersebut cukup beralasan karena CNG dan LPG memiliki karakteristik yang berbeda. Mulai dari bentuk gas, tekanan, hingga sistem penyimpanan keduanya memang tidak sama.
Meski begitu, pemerintah memastikan masyarakat tidak perlu panik menghadapi rencana konversi tersebut. Sebab, penggunaan CNG disebut tetap bisa dilakukan tanpa harus mengganti kompor gas yang sudah ada di rumah.
CNG sendiri sebenarnya bukan teknologi baru di Indonesia. Selama ini, bahan bakar gas tersebut sudah digunakan di sektor industri, transportasi, hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perbedaan CNG dan LPG
Dikutip dari laman Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau Compressed Natural Gas merupakan gas alam yang dikompresi pada tekanan sangat tinggi, biasanya lebih dari 200 bar. Gas ini didominasi kandungan metana dan tetap berada dalam bentuk gas meski disimpan dalam tekanan besar.
Sementara itu, LPG atau Liquefied Petroleum Gas merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair. Tekanan LPG juga jauh lebih rendah dibandingkan CNG, yakni sekitar 5–10 bar.
Perbedaan tekanan tersebut menjadi salah satu pembeda utama antara keduanya. Karena tekanan CNG jauh lebih tinggi, desain tabung dan sistem keamanannya pun harus disesuaikan agar aman digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, sumber bahan baku keduanya juga berbeda. LPG masih banyak bergantung pada impor, sedangkan CNG berasal dari gas alam domestik yang cadangannya dinilai cukup melimpah di Indonesia.
Baca Juga: Beda CNG dan LPG, Benarkah Lebih Murah dari Gas Melon 3 Kg?
Dalam penggunaannya, CNG dikenal lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lain. Tidak heran jika pemanfaatannya terus diperluas, baik untuk kendaraan maupun kebutuhan memasak.
Pemerintah juga mulai menyiapkan tabung CNG berukuran kecil setara tabung LPG 3 kilogram. Langkah ini dilakukan agar masyarakat lebih mudah beradaptasi apabila program konversi benar-benar diterapkan secara luas.
Apakah Pakai Tabung CNG Bisa Memakai Kompor Gas Biasa?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan masyarakat tidak perlu mengganti kompor apabila nantinya beralih dari LPG ke CNG. Pemerintah menyebut kompor gas rumah tangga yang saat ini digunakan tetap dapat dipakai.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan penggunaan CNG nantinya dirancang agar praktis dan tidak membebani masyarakat.
“Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ujar Laode dikutip dari Antara, Kamis (7/5).
Laode menjelaskan pemerintah juga memperhatikan sistem valve atau katup tabung gas dalam pengembangan tabung CNG rumah tangga. Komponen tersebut menjadi bagian penting karena berfungsi mengatur aliran gas sekaligus menjaga keamanan penggunaan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Soal Masa Depan Wisata RI, Triawan Munaf: Tak Ada Lagi Sistem Pemesanan yang Terfragmentasi
-
Kejati DKI Bongkar Kredit Fiktif Rp 600 Miliar di Bank BUMN, 3 Petinggi PT LAT Ditahan
-
Kritik Qodari, Guru Besar UII Ingatkan Bahaya Homeless Media Jadi Alat Propaganda Pemerintah
-
Bulog Raih Penghargaan BUMN Entrepreneurial Marketing Awards (BEMA) di Jakarta Marketing Week 2026
-
DPR Soroti Langkah Pemerintah Gandeng Homeless Media: Jangan Sampai Timbulkan Konflik Kepentingan
-
Penembak Acara Gedung Putih Ternyata Marah soal Iran, Donald Trump Jadi Target Utama
-
Nama Djaka Budi Utama Masuk Surat Dakwaan Kasus Bea Cukai, KPK Akan Telusuri Keterlibatannya?
-
Di Balik Ledakan Belanja Online, Mengapa Transisi Kemasan Ramah Lingkungan Masih Berliku?
-
Gus Ipul Wanti-wanti Pengelola Sekolah Rakyat: Jangan Sampai Aset Negara Jadi Masalah
-
Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Mereda