Suara.com - Pengamat Politik Ray Rangkuti menyoroti sikap Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono terhadap kebijakan pemotongan gaji untuk tabungan perumahan rakya atau Tapera.
Pasalnya, kedua menteri tersebut dianggap tak sejalan dengan atasannya, Presiden Joko Widodo soal kebijakan Tapera. Sri Mulyani dan Basuki sepakat untuk menunda iuran Tapera karena kebijakan tersebut dianggap tergesa-gesa.
Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani menyoroti bahwa sikap Sri Mulyani dan Basuki menunjukkan makin banyak orang-orang di lingkaran presiden yang tak sejalan lagi dengan Jokowi.
"Makin banyak orang yang merasa bahwa program-program Jokowi terlalu terburu-buru, ambisius dan kurang perhitungan. Salah satunya kurang sensitif dengan kondisi yang tengah dialami oleh masyarakat. Ambisi Jokowi yang menggebu-gebu bahkan terlihat seperti menerobos berbagai ketentuan, aturan atau fatsun yang berlaku," kata Ray kepada wartawan, Jumat (7/6/2024).
Dia juga menyebut makin banyak orang di lingkaran Jokowi yang sadar bahwa kebijakan-kebijakannya, akhir-akhir ini terlihat sebagai ambisi dan proyek pribadi.
Ray menyebut contohnya ialah proyek pembangunan IKN yang dianggap dipaksakan bisa berjalan pada masa pemerintahan Jokowi. Selain itu, Jokowi juga dianggap mengumpulnya kekuasaan di keluarganya dengan cara-cara kontroversional.
"Dalam banyak hal, pencapaian-pencapain reformasi, satu per satu rontok di era kekuasaan Jokowi. Sebut saja KPK, MK, MA, pemilu/pilpres terburuk sepanjang sejarah reformasi di tahun 2024. Kembalinya bukan hanya dwi fungsi, malah multi fungsi TNI, kriminalisasi masyarakat kritis, tata cara pembuatan UU yang melabrak UU, nepotisme politik keluarga Jokowi dan banyak lainnya," tutur Ray.
Hal ini, lanjut Ray, jelas membuat orang-orang yang bekerja di bawah Jokowi tetapi masih memiliki semangat reformasi, merasa keberatan dengan kebijakan-kebijakan yang justru dianggap sebagai ambisi pribadi Jokowi.
"Kasus Tapera ini menjadi batu keduanya (Sri Mulyani dan Basuki) untuk tampil menyatakan keberatan-keberatan cara Jokowi memimpin bangsa," ujar Ray.
Baca Juga: Bikin Kaget! Motor Sultan Bagaskara Ikhlasulla Keponakan Jokowi: Harganya Setara Rumah
Untuk itu, Ray menilai dalam beberapa program, Jokowi tidak memiliki pendukung setia, terlebih setelah meninggalkan PDIP dengan cara yang dianggap memilukan.
"Kasus UKT, dan kini Tapera, tak ada satupun partai yang berani muncul ke depan membela kebijakannya. Semua diam, bahkan seperti dalam kasus kenaikan UKT malah partai-partai secara terbuka menolak kebijakannya," jelas Ray.
"Dalam politik, tidak bisa semua diikat karena bertemu kepentingan, tetap perlu kawan seiring yang tulus dan itulah yang diabaikan oleh Jokowi," tambah dia.
Menjelang akhir masa jabatan Jokowi, Ray menyebut muncul barisan kekuatan-kekuatan politik baru dan Jokowi tidak lagi menjadi pusat kekuatan tersebut. Terlebih, Jokowi disebut tidak memiliki kekuatan politik formal di belakangnya.
"Anaknya Gibran, tentu, belum bisa sepenuhnya diandalkan. Apalagi projo dan barisan tim hore. Rakyat yang selama ini mengelu-elukannya, kini repot karena urusan sehari-hari dan jumlahnya akan terus menyusut seiring kekuasannya yang berakhir," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Sidang Perdana Korupsi Bea Cukai: Bos Blueray Cargo John Field Hadapi Pembacaan Dakwaan
-
Mendagri: Program Tiga Juta Rumah Wujud Kepedulian Presiden kepada "Rakyat Kecil"
-
Mendagri: Program 3 Juta Rumah Percepat Akses Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu
-
Polisi Buru Kiai Ashari! Tersangka Cabul Santri Ponpes Pati Bakal Dijemput Paksa Jika Mangkir
-
Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!