News / Internasional
Kamis, 12 Desember 2024 | 16:59 WIB
Bendera oposisi Suriah berkibar [Bakr AL KASSEM / AFP]

Suara.com - Set jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah, keluarga korban yang tewas akibat penganiayaan oleh aparat berharap agar pelaku dapat dihadapkan ke pengadilan.

Mereka mengenali para korban melalui foto-foto yang diambil oleh seorang informan bernama sandi "Caesar", seorang perwira militer yang bertugas mendokumentasikan jenazah selama konflik bersenjata di negara tersebut.

Foto-foto itu, yang diduga memuat gambar sekitar 11.000 korban berusia antara 20 sampai 40 tahun, menunjukkan adanya penyiksaan sistematis dan perlakuan yang tidak manusiawi oleh rezim Assad.

Yasmin Mashaan, salah satu pendiri Caesar Families Association, mengatakan kepada Anadolu tentang dampak foto-foto tersebut dalam proses hukum dan bagi keluarga korban.

Mashaan menjelaskan bahwa anggota asosiasi sudah mengenali kerabat mereka melalui foto-foto itu dan terus mencari anggota keluarga mereka yang ditahan, disiksa, atau hilang.

“Tidak ada keluarga di Sednaya yang bisa membawa pulang jasad orang tercinta mereka,” ujarnya, merujuk pada penjara militer yang terkenal di Suriah.

“Kami berjuang untuk mengetahui nasib mereka yang hilang.”

Mashaan, yang kini tinggal di Jerman, mengungkapkan kesedihannya saat menemukan saudara laki-lakinya dalam salah satu foto tersebut. Dia juga kehilangan empat saudara lainnya di Suriah.

“Bagi keluarga korban, yang terpenting adalah mengetahui detik-detik terakhir orang-orang yang mereka cintai dan mendapatkan keadilan,” tegasnya.

Baca Juga: Rezim Bashar al-Assad Tumbang, Dubes Suriah: Murni Keinginan Rakyat

“Meski kejahatan rezim sangat besar, kami tetap berusaha meraih keadilan dengan penuh harapan.”

Mashaan menyoroti penderitaan yang dirasakan para kerabat korban selama proses identifikasi. Dia menyebut bahwa mereka hanya memiliki foto sebagai satu-satunya kenangan tentang orang-orang tercinta.

“Walaupun ada bukti, ketidakadaan upacara pemakaman atau penyerahan jenazah terus meninggalkan luka lama,” tambahnya.

Mashaan menjelaskan bahwa mereka bekerja sama dengan Komisi Internasional untuk Orang Hilang (ICMP) untuk mengidentifikasi lokasi kuburan massal, memulihkan sisa jenazah, dan memastikan identitasnya.

Dia juga mengkritik Rusia, China, dan rezim Assad yang menghambat upaya untuk mendapatkan keadilan dengan menekan komunitas internasional.

“Kami telah memasuki masa transisi,” katanya, menekankan perlunya upaya berkelanjutan untuk membantu mantan tahanan yang dibebaskan dan keluarga mereka.

Load More