Suara.com - Polemik pagar laut sepanjang 30 kilometer yang memblokir akses ke kawasan perairan di Tangerang, Banten menjadi sorotan publik. Laut yang seharusnya menjadi milik bersama kini malah memiliki status Hak Guna Bangunan (HGB) dan Sertifikat Hak Milik (SHM).
Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Nusron Wahid mengungkap nama-nama pemilik HGB dan SHM di lokasi tersebut. Namun, transparansi tersebut ternyata tidak cukup untuk menghentikan kecurigaan publik.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai kasus itu berpotensi memunculkan eskalasi baru dalam bentuk spekulasi dan konflik antarpihak yang terkait. Bahkan, ia mencurigai pagar ini adalah langkah awal menuju proyek reklamasi atau penimbunan laut untuk kepentingan korporasi.
"Pagar laut itu semacam pembatas untuk proyek reklamasi. Tetapi yang jadi soal adalah prosedur penerbitan HGB itu, apakah dilalui dengan benar atau justru melalui kongkalikong antara pejabat dan pengusaha?" katanya seperti yang dikutip dari Youtube Rocky Gerung Official, Selasa (21/1/2025).
Rocky juga menyoroti keterlibatan banyak pihak, termasuk kementerian serta pejabat daerah di Banten.
Menurutnya, ada indikasi kuat bahwa penerbitan sertifikat dilakukan secara ugal-ugalan dan melibatkan transaksi di bawah meja.
Bahkan, ia mengkritik peran negara yang dinilai membiarkan korporasi mengambil alih hak publik.
“Kenapa penyewaan atau upaya korporasi untuk memonopoli hak atas laut itu diiyakan oleh negara? Kan negara punya kekuasaan. Kenapa negara tidak bersikap etis terhadap proposal yang hendak mengendalikan akses natural ke laut?” tegas Rocky.
Ia juga menyoroti era pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang mengeluarkan sertifikat ini pada 2017 dan 2023.
Baca Juga: Heboh Pagar Laut Tangerang, AHY Buka Suara: HGB Terbit Sebelum Jabatan Saya
“Tentu saja korporasi dengan mudah mengatakan, ‘Kami dapat izin.’ Ya yang salah negara, kenapa dikasih izin? Ini akan jadi skandal besar,” pungkasnya.
Rocky Gerung mendesak agar pemerintah segera menjelaskan dasar hukum penerbitan HGB ini.
Menurutnya, rakyat butuh kepastian apakah prosedur sudah sesuai aturan atau ada pelanggaran di belakang layar.
“Rakyat ingin tahu, kenapa hal yang ada di depan mata ini tidak bisa diselesaikan dengan cepat? Apakah ada tukar tambah bisnis atau bahkan kekuasaan di balik layar?” tutup Rocky.
Reporter: Kayla Nathaniel Bilbina
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Iran Hujan Rudal AS, Rentetan Bom Hancurkan Pesisir Strategis dekat Selat Hormuz
-
Kekayaan Jampidsus Febrie Adriansyah Diduga Tak Sesuai LHKPN, KPK Buka Suara
-
Benjamin Netanyahu Ultimatum Iran: Berani Serang Kami, Balasan Akan Mengerikan!
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari