Suara.com - Warga perumahan Cinere Estate, Depok, Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa. Aksi itu sebagai bentuk protes terhadap putusan Pengadilan Tinggi Bandung.
Dalam putusan Pengadilan Tinggi Bandung, para Ketua RT dan RW perumahan Cinere Estate diharuskan membayar uang ganti rugi senilai Rp 40 miliar, akibat menolak pembangunan jembatan yang menghubungkan perumahan Cinere Estate dengan Perumahan CGR, yang terletak di Pangkalan Jati, Cinere, Depok.
Total ada delapan Ketua RT dan dua Ketua RW yang diminta untuk membayar hasil putusan perkara ini dengan nominal Rp 40 miliar. Rinciannya, Rp 20 miliar untuk kerugian materil, dan Rp 20 milar untuk kerugian imateril.
Ketua RW 06 Cinere Estate, Heru Kasidi mengatakan, secara struktural Ketua RT dan RW hanya pelayan bagi warga. Sehingga, jika tuntutan itu ditujukan kepada Ketua RT dan RW, bagi Heru hal tersebut tidak tepat. Pasalnya ketua RT dan RW tidak bisa mewakili warga dalam aspek hukum.
“Kami menuntut bahwa gugatan pada warga itu yang ditujukkan kepada para Ketua RT dan Ketua RW ini bisa mendapatkan keadilan. Ketua RT dan Ketua RW itu adalah pelayan warga, jadi kita tidak punya wewenang untuk mewakili aspek hukum dari warga,” kata Heru di Depok, Minggu (2/2/2025).
Sebelum diputuskan oleh Pengadilan Tinggi Bandung, gugatan yang dilakukan PT Megapolitan Development tbk, selaku pengembang dari perumahan CGR juga pernah ditolak di Pengadilan Negeri setempat.
“Gugatan ini kan pernah ditolak oleh Pengadilan Negeri. Jadi pada waktu di Pengadilan Tinggi dia dikabulkan,” katanya.
Atas putusan tersebut, rencananya Heru bakal melakukan kasasi ke Mahkamah Agung dalam perkara ini. Heru juga menyebut, jika putusan Pengadilan Tinggi Bandung ini telah dilaporkan kepada Komisi Yudisial.
Tak hanya itu, warga juga bakal menyurati Komnas HAM dan DPR RI, lantaran putusan ini dianggap tidak adil terhadap warga terutama bagi Ketua RT yang saat ini menjabat mewakili aspirasi warga.
Alasan Penolakan
Alasan warga menolak pembangunan jembatan sebagai akses pengubung perumahan mereka dengan perumahan lainnya lantaran khawatir soal aspek keamanan.
Sebelumnya, akses jalan yang berada di blok A, Cinere Estate sangat banyak. Namun saat itu, tingkat keamanan warga menurun.
Sehingga, warga menutup semua akses jalan tembus ke perumahan mereka. Warga hanya menyisakan satu akses yang bisa dilewati, hal itu memangkas angka kriminal di komplek tersebut.
Dikhawatirkan, dengan dibangunnya jembatan penghubung antar perumahan, angka kriminal kembali tinggi. Tak mau hal itu terulang warga kompak menolak pembangunan jembatan penghubung.
“Kalau itu disambung berarti kan ini akan membuat beban dari perumahan ini jadi besar dan bisa membuka akses kembali yang sudah pernah kita jaga bertahun-tahun supaya tempat ini menjadi tempat yang aman dan nyaman,” jelas Heru.
“Sebelum ada akses yang dijaga, di sini banyak kejahatan, banyak pencurian, banyak perampokan dan dengan ditutupnya akses sedemikian rupa sehingga kita sekarang menjadi lebih aman,” tambahnya.
Di sisi lain, akses perumahan CGR telah memiliki akses jalan sendiri, yang berada di Pangkalan Jati.
“Sementara itu lahan yang di wilayah lain, di Panggalan Jati itu sebetulnya punya jalan akses dan nggak ada masalah. Mereka juga sudah masukkan alat berat ke tanah itu kalau dibilang itu nggak cukup. Jadi sebetulnya sangat tidak adil kalau kita harus menanggung seluruh beban perumahan itu ke sini,” tambahnya.
Berita Terkait
-
Drama Tanah Mat Solar dan Tol Serpong-Cinere: Disuruh Cabut Gugatan, Ganti Rugi Rp3,3 Miliar Melayang?
-
Sengketa Tanah Mat Solar vs Idris: Hakim Minta Gugatan Dicabut, Ada Apa?
-
Pesan Kematian di HP Ibu dan Anak yang Tewas Bunuh Diri Sambil Bakar Dupa di Depok: Saya Sudah Depresi Dua Tahun
-
Update Kasus Kematian Ibu dan Anak di Depok, Polisi: Tinggal dari Patologi Anatomi yang Kami Tunggu
-
Ibu dan Anak Tewas Usai Mengurung Diri di Kamar Mandi Sambil Bakar Dupa, Polisi Sebut Mirip Kasus di Jepang
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!