- Sebanyak 95 persen pelajar Indonesia menggunakan kecerdasan buatan, yang memicu kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan berpikir kritis generasi muda.
- Najelaa Shihab menegaskan guru harus bertransformasi menjadi desainer pembelajaran untuk menjaga daya analisis siswa di era teknologi AI.
- Anies Baswedan menyoroti perlunya pemerintah menyusun kebijakan nasional yang komprehensif agar pemanfaatan AI tetap menjadi alat bantu pendidikan.
Suara.com - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan pelajar Indonesia disebut telah mencapai 95 persen. Di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi tersebut, muncul ancaman baru yang dinilai bisa mengikis kemampuan berpikir kritis generasi muda.
Isu ini menjadi sorotan dalam panel “Reimagine Education in the Era of AI” pada konferensi nasional The Cornerstone di Jakarta.
Tokoh pendidikan sekaligus Founder Cikal, Najelaa Shihab, menilai dunia pendidikan harus segera beradaptasi dengan perubahan besar akibat penetrasi AI di ruang belajar. Menurutnya, peran guru kini tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan merancang proses belajar yang mampu menjaga daya analisis siswa.
Ia menekankan pentingnya sistem evaluasi yang lebih transparan, termasuk meminta siswa menjelaskan pada tahap mana mereka menggunakan AI dalam proses belajar.
“Peran guru kini betul-betul berubah. Jika dulu guru sekadar pemberi informasi, lalu bergeser menjadi fasilitator, kini peran guru telah berevolusi menjadi arsitek dan desainer dari proses pembelajaran itu sendiri,” kata Najelaa Shihab.
Najelaa juga mengingatkan risiko “cognitive offloading”, yakni kondisi ketika manusia terlalu bergantung pada mesin untuk berpikir dan menyelesaikan masalah, sehingga kemampuan analitis perlahan menurun.
Senada dengan itu, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Menurut Anies, teknologi yang semakin canggih tidak boleh membuat generasi muda kehilangan daya nalar dan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
“AI akan hadir sebagai kendaraan untuk masa depan. Pertanyaannya, apakah kita mau menjadi yang menyetir atau yang disetir?” ujar Anies.
Baca Juga: Tragedi Sepatu Kekecilan di Samarinda: Tamparan Keras untuk Sistem Pendidikan Kita
Ia juga menyoroti belum adanya arah kebijakan nasional yang komprehensif terkait pemanfaatan AI di sektor pendidikan. Menurutnya, Indonesia membutuhkan roadmap yang jelas agar regulasi tidak tertinggal dari laju inovasi teknologi.
“Jangan sampai pemerintah tertatih-tatih mengikuti cepatnya perubahan. Perlu ada garis besar arah agar regulasi dan kebijakan kita bisa adaptif di era AI ini,” lanjutnya.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari konferensi The Cornerstone yang diinisiasi EduALL. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan untuk persiapan kuliah luar negeri. Namun lewat forum ini, mereka ingin memperluas peran sebagai wadah pembentukan karakter dan nalar kritis generasi muda.
CEO EduALL Devi Kasih mengatakan anak muda perlu diberikan ruang untuk terlibat langsung dalam diskusi mengenai masa depan pendidikan dan kebijakan publik.
“Hari ini kita benar-benar melihat langsung aksi para Game Changer itu. Anak muda bukan cuma audiens pasif, tapi berani berdialog dan melempar pandangan kritis langsung di depan para ahli,” ujar Devi.
Sebagai bagian dari komitmen sosial, seluruh hasil penjualan tiket dan donasi dari acara The Cornerstone disalurkan melalui kolaborasi dengan Indonesia Mengajar untuk mendukung akses pendidikan di berbagai daerah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Prabowo soal MBG: Sekolah yang Butuh Segera Diberi, yang Tidak Perlu Tidak Dipaksakan
-
Ketua DPD Golkar DKI Sebut Jakarta Darurat Sampah, Warga Diminta Mulai Bergerak dari Rumah
-
Prabowo Genjot Ekonomi Biru, Nelayan Disiapkan Jadi Kekuatan Baru Indonesia
-
Terungkap! Ratusan WNA Operator Judi Online di Hayam Wuruk Ternyata Direkrut 'Veteran Kamboja'
-
Menuju Target Nasional Pengurangan Sampah 2029, Ini Kebiasaan yang Harus Digencarkan di Rumah
-
Jemaah Haji RI Meninggal Dunia 20 Orang, Mayoritas karena Gangguan Jantung dan Paru
-
Uang Miliaran Rupiah hingga Puluhan Juta Dong Vietnam Disita dari Sarang Judol Hayam Wuruk
-
Fakta Sarang Judi Online Internasional di Hayam Wuruk: Kelola 75 Situs Haram!
-
Aksi Bersih Pantai di Kepulauan Seribu Berhasil Kumpulkan Hampir 1 Ton Sampah Plastik
-
Menlu: Prabowo Tekankan Jalur Dialog Atasi Konflik Perbatasan Myanmar di KTT ASEAN