Prabowo, yang baru kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun menetap di Eropa, mulai menyerap semangat perjuangan Gie yang tanpa kompromi.
Sebaliknya, Gie melihat Prabowo sebagai sosok yang cerdas, namun terpisah dari kerasnya realitas kehidupan rakyat Indonesia.
Cermin Perbedaan: Cerdas Tapi Naif
Persahabatan mereka tidak selalu mulus, tapi diwarnai oleh perbedaan pandangan yang tajam, cerminan dari latar belakang mereka yang berbeda.
Gie, yang lahir dan besar di tengah gejolak sosial-politik, memahami bahwa perubahan menuntut lebih dari sekadar semangat.
Sementara Prabowo, yang tumbuh di lingkungan elite, memandang dunia dengan kacamata yang lebih idealis.
Perbedaan ini terekam jelas dalam catatan harian Gie.
Ia pernah skeptis terhadap ide Prabowo untuk sebuah proyek sukarelawan pembangunan.
Gie menganggapnya tidak realistis dan kurang persiapan.
Baca Juga: Misi Dagang Presiden Dina Boluarte, Banjiri Indonesia Buah Blueberry dan Delima dari Peru?
“Prabowo cerdas, tapi ia masih sangat muda dan naif,” ungkap Gie dalam catatan harian yang dibukukan.
Dalam catatan lainnya, Gie menulis dengan lebih dalam.
“Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horison romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas, tapi naif. Mungkin kalau ia berdiam 2-3 tahun dan hidup dalam dunia yang nyata, ia akan berubah.”
Tulisan ini menunjukkan kasih sayang Gie, sekaligus kritiknya bahwa Prabowo perlu merasakan langsung denyut nadi perjuangan rakyat, bukan hanya membacanya dari buku atau mendengarnya dari ruang keluarga.
Pendakian Terakhir dan Kenangan Abadi
Di tengah hiruk pikuk politik Jakarta, Gie menemukan kedamaian di alam bebas.
Mendaki gunung bersama kawan-kawannya di Mapala UI menjadi pelariannya.
Pada Desember 1969, Gie merencanakan pendakian ke atap Jawa, Gunung Semeru.
Untuk pendakian itu, Prabowo meminjamkan sepatu gunungnya kepada sahabatnya.
Sebuah gestur pertemanan yang sederhana, namun menjadi penanda sebuah tragedi.
Gie tidak pernah kembali dari pendakian tersebut.
Ia meninggal dunia setelah menghirup gas beracun dari kawah Semeru, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.
Sepatu gunung dari Prabowo menjadi saksi bisu perjalanan terakhir sang aktivis.
Kematian Gie meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi Prabowo tetapi juga bagi satu generasi yang melihatnya sebagai suluh perjuangan.
Pemikiran-pemikiran tajamnya kemudian diabadikan dalam buku Catatan Seorang Demonstran yang terbit pada 1983, menjadi bacaan wajib bagi aktivis dan kaum muda yang mendambakan perubahan.
Sementara itu, Prabowo menapaki jalan hidup yang berbeda, dari militer hingga ke puncak kekuasaan politik.
Namun, bayang-bayang persahabatannya dengan Gie, seorang idealis yang mengkritiknya dengan tulus, barangkali turut membentuk cara pandangnya dalam mengarungi kompleksitas politik Indonesia.
Tag
Berita Terkait
-
Misi Dagang Presiden Dina Boluarte, Banjiri Indonesia Buah Blueberry dan Delima dari Peru?
-
Pesan Politik di Balik Mie Bakso Gibran dan Dasco
-
Geopolitik Memanas, DPR Sebut Peran Wakil Panglima TNI Jadi Kunci
-
Lebih dari Diplomasi: Momen Manis Presiden Peru Tebar 'Love Sign' di Istana, Prabowo Senyum
-
Letda Darius Bayani Dapat Bintang Sakti, Ini Kisah Heroiknya di Operasi Mapenduma
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan
-
Ridwan Kamil Siap-Siap, KPK Buka Peluang Panggil Lagi terkait Kasus Korupsi Bank BJB