Prabowo, yang baru kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun menetap di Eropa, mulai menyerap semangat perjuangan Gie yang tanpa kompromi.
Sebaliknya, Gie melihat Prabowo sebagai sosok yang cerdas, namun terpisah dari kerasnya realitas kehidupan rakyat Indonesia.
Cermin Perbedaan: Cerdas Tapi Naif
Persahabatan mereka tidak selalu mulus, tapi diwarnai oleh perbedaan pandangan yang tajam, cerminan dari latar belakang mereka yang berbeda.
Gie, yang lahir dan besar di tengah gejolak sosial-politik, memahami bahwa perubahan menuntut lebih dari sekadar semangat.
Sementara Prabowo, yang tumbuh di lingkungan elite, memandang dunia dengan kacamata yang lebih idealis.
Perbedaan ini terekam jelas dalam catatan harian Gie.
Ia pernah skeptis terhadap ide Prabowo untuk sebuah proyek sukarelawan pembangunan.
Gie menganggapnya tidak realistis dan kurang persiapan.
Baca Juga: Misi Dagang Presiden Dina Boluarte, Banjiri Indonesia Buah Blueberry dan Delima dari Peru?
“Prabowo cerdas, tapi ia masih sangat muda dan naif,” ungkap Gie dalam catatan harian yang dibukukan.
Dalam catatan lainnya, Gie menulis dengan lebih dalam.
“Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horison romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas, tapi naif. Mungkin kalau ia berdiam 2-3 tahun dan hidup dalam dunia yang nyata, ia akan berubah.”
Tulisan ini menunjukkan kasih sayang Gie, sekaligus kritiknya bahwa Prabowo perlu merasakan langsung denyut nadi perjuangan rakyat, bukan hanya membacanya dari buku atau mendengarnya dari ruang keluarga.
Pendakian Terakhir dan Kenangan Abadi
Di tengah hiruk pikuk politik Jakarta, Gie menemukan kedamaian di alam bebas.
Tag
Berita Terkait
-
Misi Dagang Presiden Dina Boluarte, Banjiri Indonesia Buah Blueberry dan Delima dari Peru?
-
Pesan Politik di Balik Mie Bakso Gibran dan Dasco
-
Geopolitik Memanas, DPR Sebut Peran Wakil Panglima TNI Jadi Kunci
-
Lebih dari Diplomasi: Momen Manis Presiden Peru Tebar 'Love Sign' di Istana, Prabowo Senyum
-
Letda Darius Bayani Dapat Bintang Sakti, Ini Kisah Heroiknya di Operasi Mapenduma
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Polemik Status Tahanan Rumah Gus Yaqut, Tersangka Korupsi Dapat Perlakuan Istimewa dari KPK?
-
Seskab Ungkap Detik-detik Prabowo Ingin Lihat Warga di Bantaran Rel: Dadakan Ingin Menyamar
-
Tanpa Lencana Presiden, Prabowo Santai Sapa Warga di Bantaran Rel Senen, Janjikan Hunian Layak
-
Eks Pejabat Keamanan AS: Eropa Hati-hati, Rudal Iran Bisa Capai Paris
-
Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung
-
Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg
-
Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber
-
Remaja 20 Tahun Gugat Meta dan Youtube Gegara Kecanduan Sosmed, Dapat Ganti Rugi Rp90 M
-
Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit
-
Geger! Niat Cari Kepiting, Nelayan di Jambi Malah Temukan Kerangka Manusia Setinggi 155 Sentimeter