Suara.com - Program ambisius Sekolah Rakyat yang baru sebulan berjalan ternyata sudah 'oleng'. Kementerian Sosial (Kemensos) mengakui adanya serangkaian masalah di lapangan, mulai dari anak yang belum bisa baca tulis hingga sarana-prasarana yang tidak lengkap.
Sebagai langkah darurat, Kemensos kini membentuk Gugus Tugas Pengendalian Operasional Sekolah Rakyat untuk membereskan masalah yang mulai terkuak di program prioritas ini.
Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, tidak menampik bahwa implementasi program Sekolah Rakyat tidak semulus yang dibayangkan. Dalam rapat di Kantor Kemensos, Rabu (27/8/2025), ia mengakui bahwa masih banyak persoalan yang harus segera ditangani.
"Keberhasilan kuantitatif harus kita tingkatkan menjadi keberhasilan kualitatif, dengan membangun sistem yang lebih baik di setiap Sekolah Rakyat,” jelas Agus Jabo.
Agus Jabo membeberkan beberapa contoh masalah nyata yang sudah teridentifikasi hanya dalam satu bulan pertama;
- Di Bogor: Kepala Sekolah SRMP 10 melaporkan adanya kesenjangan usia fisik dan mental anak. Bahkan ditemukan ada 10 anak yang belum bisa baca tulis dan membutuhkan pendampingan khusus dari psikolog.
- Di Jakarta Timur: Kepala Sekolah SRMA 9 mengeluhkan sarana-prasarana yang masih belum lengkap serta masalah integrasi data ke sistem Dapodik.
Temuan-temuan inilah yang menjadi dasar pembentukan gugus tugas darurat.
Gugus tugas baru ini, menurut Agus Jabo, akan fokus pada pengawasan dan pengendalian 100 Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi, dan akan bertambah menjadi 165 titik bulan depan.
Ada empat misi utama yang diembankan kepada tim ini, yakni (1) mengendalikan pelaksanaan program secara keseluruhan, (2) menyelesaikan hambatan-hambatan teknis di lapangan, (3) mengawasi aspek keuangan dan sarana-prasarana, (4) mengawasi kualitas sumber daya manusia, dalam hal ini guru dan tenaga kependidikan.
“Nantinya, gugus tugas ini akan mengawasi situasi darurat terkait pembelajaran maupun kesejahteraan tenaga pendidikan agar dapat segera diatasi,” kata Agus Jabo.
Baca Juga: Guru Besar UNM Prof Harris: Sekolah Rakyat Bisa Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Psikologi Suporter: Mengapa Kita Membenci Tim Lawan Tanpa Alasan?
-
Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah