Suara.com - Kematian Affan Kurniawan dalam sebuah demonstrasi di Jakarta telah menjadi titik kulminasi kemarahan publik yang terakumulasi.
Menurut pengamat sosial politik, Dr. Okky Madasari, insiden tragis ini bukan sekadar peristiwa kekerasan, melainkan sebuah simbol solidaritas yang menyatukan frustrasi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil.
Dalam sebuah wawancara yang dilansir dari Podcast Forum Keadilan TV, Dr. Okky Madasari menjelaskan bahwa kematian Affan telah menggugah kesadaran masyarakat.
Ia menyoroti bahwa senjata dan sumber daya yang seharusnya digunakan untuk melindungi warga justru digunakan untuk menekan mereka, menunjukkan pelanggaran hak asasi manusia demi kepentingan elit.
Kemarahan publik, menurut Madasari (lihat), telah dipicu oleh serangkaian kebijakan yang memberatkan, seperti kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga ratusan persen dan peningkatan tunjangan perumahan anggota DPR.
Ia menyebut kebijakan-kebijakan ini sebagai "provokasi nyata" dari pemerintah, yang kemudian dibalas dengan kemarahan publik.
"Provokasi sebenarnya datang dari kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat," tegasnya dikutip pada Sabtu (30/8/2025).
Lebih lanjut, Dr. Madasari mengkritik keras respons pemerintah terhadap kasus ini. Ia menilai tidak adanya empati dan akuntabilitas dari Presiden Prabowo, yang menolak meminta maaf dan terus menyalahkan demonstran.
Hal ini dianggap sebagai upaya untuk menghindari tanggung jawab.
Baca Juga: Prabowo Sambangi Keluarga Almarhum Affan Kurniawan: Tangis dan Tuntutan Keadilan Menggema
"Pemerintah cenderung mengalihkan isu inti dengan menciptakan narasi ancaman eksternal atau konspirasi," ujar Okky.
Dengan narasi ini, pemerintah dianggap mencoba mengendalikan informasi dan membungkam perbedaan pendapat, di mana media arus utama kurang memberitakan protes sebelum kematian Affan.
Okky menekankan bahwa media sosial kini menjadi sumber informasi alternatif yang vital.
Okky menutup analisisnya dengan menyerukan agar pemerintah mengambil tindakan nyata untuk memulihkan kepercayaan publik, termasuk dengan mengganti Kepala Kepolisian Negara sebagai tanda akuntabilitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 8 Sepatu Skechers Diskon hingga 50% di Sports Station, Mulai Rp300 Ribuan!
- Cek Fakta: Jokowi Resmikan Bandara IMIP Morowali?
- Ramalan Shio Besok 29 November 2025, Siapa yang Paling Hoki di Akhir Pekan?
- 7 Rekomendasi Sepatu New Balance Diskon 70 Persen di Foot Locker
- 3 Rekomendasi Sepatu Lari Hoka Terbaik Diskon 70 Persen di Foot Locker
Pilihan
-
Kids Dash BSB Night Run 2025 Jadi Ruang Ramah untuk Semua Anak: Kisah Zeeshan Bikin Terharu
-
Profil John Herdman, Pesaing Van Bronckhorst, Calon Pelatih Timnas Indonesia
-
Info A1! Orang Dekat Giovanni van Bronckhorst Bongkar Rumor Latih Timnas Indonesia
-
4 HP Snapdragon Paling Murah, Cocok untuk Daily Driver Terbaik Harga mulai Rp 2 Jutaan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
Terkini
-
Sadis! Komplotan Perampok di Tangsel Keroyok Korban, Disekap di Mobil Sambil Dipaksa Cari Orang
-
AHY Pimpin Penyelamatan Korban Banjir Sumatra, Ungkap Penyebabnya Topan Tropis Langka
-
PBNU Makin Panas, Wasekjen Sebut Pemecatan Gus Yahya Cacat Prosedur: Audit Belum Selesai
-
Tangis Ira Puspadewi Kenang Gelapnya Kamar Penjara: Dihindari Teman, Cuma Bisa Ngobrol Sama Tuhan
-
Legislator Nasdem Minta Gelondongan Kayu Pasca-banjir Sumatera Diinvestigasi
-
Update Bencana Sumatera: Korban Meninggal Dunia Jadi 442 Orang
-
Wasekjen PBNU Skakmat Syuriyah: Aneh, Gus Yahya Dipecat Dulu Baru Dicari Faktanya
-
Tragedi Banjir Aceh: Korban Tewas Jadi 96 Orang, 113 Hilang, Puluhan Ribu Keluarga Mengungsi
-
Momen Emosional Ira Puspadewi di Acara Syukuran Usai Bebas Penjara: Ini Mimpi Enggak Ya?
-
Saat Kurir Jatuh, Siapa yang Menolong? Ketika BPJS Ketenagakerjaan Jadi Penolong Pekerja Informal