- ICW desak politisi lepas kendali bisnis guna hindari praktik perdagangan pengaruh.
- PKB dorong peningkatan pendanaan partai oleh negara demi kurangi ketergantungan pemodal.
- Partai Buruh minta politisi tak gunakan skema keluarga untuk sembunyikan aset bisnis.
Suara.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak para politisi yang menjabat di lembaga legislatif untuk melepaskan seluruh pengaruh serta keuntungan dari bisnis yang mereka kelola. Desakan ini mengemuka dalam forum debat 'Kepung ICW vs 6 Politisi' yang digelar di Teater Utan Kayu, Jumat (27/2/2026).
Mosi utama yang diangkat adalah kewajiban politisi menjabat untuk melepas kendali bisnis guna mencegah praktik trading in influence (perdagangan pengaruh). ICW menekankan bahwa sekadar melepas kepemilikan saham tidaklah cukup jika sang politisi masih memiliki kontrol secara terselubung.
“Banyak praktik di mana politisi mengeklaim sudah tidak memiliki saham, padahal mereka tetap bertindak sebagai beneficial owner atau memiliki kontrol penuh atas bisnis tersebut,” ujar peneliti ICW, Almas Sjafrina, Sabtu (28/2/2026).
Perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Riezal Ilham Pratama, menyepakati perlunya pencegahan konflik kepentingan. Namun, ia berpendapat akar masalahnya adalah ketergantungan finansial partai politik pada pemodal besar.
Riezal mengusulkan agar negara meningkatkan pendanaan publik bagi partai politik sebagai investasi untuk menciptakan infrastruktur demokrasi yang sehat dan berintegritas.
“Negara harus mau berinvestasi pada partai politik agar mereka tidak bergantung pada pengusaha. Jika partai sehat, pengusaha tidak perlu masuk partai hanya untuk mengamankan kepentingan bisnisnya melalui kebijakan,” jelas Riezal.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mekanisme internal untuk melarang kader duduk di komisi DPR yang berkaitan langsung dengan sektor bisnis pribadinya.
Senada dengan itu, perwakilan Partai Buruh, Margianta, mendukung penuh desakan agar politisi melepas pengaruh bisnis tanpa menggunakan skema proxy, seperti mengalihkan aset kepada anggota keluarga. Ia menilai keterikatan elite politik dengan industri ekstraktif telah memperlemah perlindungan terhadap hak-hak buruh.
Namun, Margianta menambahkan bahwa solusi struktural tidak cukup hanya dengan menambah dana bantuan politik. Ia mendorong kebijakan pajak yang lebih progresif terhadap kelompok super kaya untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan praktik penghindaran pajak.
Baca Juga: Debat ICW vs Politisi Muda: Soroti Larangan Pebisnis Ekstraktif Duduk di Legislatif
“Orang-orang kaya ini harus dikenai pajak yang adil guna mendukung redistribusi kekayaan nasional,” tegasnya.
ICW dalam forum tersebut menyimpulkan bahwa konflik kepentingan di parlemen tidak hanya merusak integritas lembaga, tetapi juga mencederai iklim usaha yang adil. Lembaga antirasuah ini mendorong lahirnya regulasi tegas dalam UU Pemilu dan UU Partai Politik guna memastikan para pejabat publik benar-benar bersih dari cengkeraman kepentingan bisnis selama masa jabatan mereka.
___________________________
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kontestasi 2029: Menguji Batas Antara Pelayanan Publik dan Modal Politik
-
7 HP All-Rounder Terbaik Mulai Rp2 Jutaan, Performa Mantap untuk Hiburan dan Multitasking
-
Rawan Titipan, ADAKSI Tolak Menteri Jadi Penentu Rektor di RUU Sisdiknas
-
Sentil Polisi dan Lembaga Negara, MenHAM Pigai Curhat Jadi Korban Rasisme: Kenapa Tak Mau Hentikan?
-
KPK Sejalan dengan Mahfud MD: Pengalihan Perkara Febrie ke Kejagung Tak Sesuai KUHAP
-
Bedak atau Blush On Dulu? Panduan Terbaik untuk Makeup Flawless dan Cantik
-
Sering Terpapar Berita Krisis Iklim, Bisakah Picu Gangguan Kesehatan Mental?
-
Resmi Terbitkan 3 Sprindik, Kejagung Jamin Status Tersangka Febrie Adriansyah Tak Gugur
-
IHSG Masih di Level 6.000, Saham RANS Melonjak Hampir 25 Persen
-
Kuasa Hukum Sebut Kematian Santri di Lombok Murni Kecelakaan, Bantah Ada Unsur Kesengajaan