Suara.com - Program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diguncang isu tak sedap. Sebuah laporan investigasi mengungkap bahwa nampan makanan yang digunakan dalam program ini diduga mengandung minyak babi, sebuah temuan yang sontak memicu keresahan publik.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana berjanji akan mengganti seluruh nampan jika dugaan tersebut terbukti benar.
Saat ini, BGN bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait sedang melakukan pengecekan menyeluruh.
"Ya tentu saja (akan diganti). Gini, kami kan harus check and recheck benar atau tidak ya kan," kata Dadan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Minggu (31/8/2025).
"Perlu diketahui juga bahwa itu seluruhnya adalah mitra yang melakukan pembelian. BGN belum melakukan satupun, jadi kita akan cek semua," sambungnya.
Saat ini, BGN, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan BPOM sedang bergerak untuk memverifikasi kebenaran laporan tersebut.
Respon Istana
Sebelumnya, Istana Kepresidenan juga telah buka suara. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi menyatakan pemerintah siap melakukan uji laboratorium untuk menjawab kekhawatiran publik.
"Kalau pembuktian, misalnya soal nampan itu kan nanti bisa diuji lah. Nampannya begitu sampai di sini bisa diuji di BPOM, bisa diuji di laboratorium independen," kata Hasan, Selasa (26/8).
Baca Juga: Istana Tegang, Prabowo Mendadak Kumpulkan Petinggi Parpol dan Kabinet, Bahas Apa?
Hasan mengaku sudah berkoordinasi langsung dengan Kepala BPOM terkait masalah ini dan meminta masyarakat untuk tidak mudah termakan isu sensitif.
Polemik ini meledak setelah media Indonesia Business Post mempublikasikan artikel investigatif pada Senin (25/8). Laporan tersebut tidak hanya mengungkap dugaan kandungan minyak babi, tetapi juga adanya praktik impor ilegal, pelanggaran standar kesehatan, hingga pemalsuan label pada nampan makanan.
Investigasi mendalam yang dilakukan hingga ke pusat industri Chaoshan di China ini menjadi tamparan keras bagi program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yang kini harus berhadapan dengan isu krusial soal kehalalan dan keamanan produk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Dua Jam Lawan Kebakaran, Damkar Padamkan Api yang Hanguskan Rumah Warga Jombang
-
Sistem Kelistrikan Flores Diklaim Pulih Total Usai Gempa M7,7
-
Tak Banyak yang Tahu, Pramono Anung Ternyata Punya Peran Khusus di Antara Megawati dan SBY
-
Pertamina NRE dan CRecTech akan Bangun Pabrik Percontohan Bio-Metanol di Sumut
-
BPK Apresiasi Transformasi Kementerian Hukum, Tata Kelola Terus Didorong Menguat
-
IHSG Meluncur Turun di Awal Sesi ke Level 6.300, Emiten Haji Isam Ambruk
-
Kado Kemerdekaan, Gubernur Sultra Turunkan Pajak Kendaraan Lama hingga 23 Persen
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Padi Sumedang Terbantu Tekan Biaya Produksi
-
253 Ton Logistik Telah Dikirim ke NTT, Kapal Rumah Sakit Segera Berlabuh
-
Dorong Pencegahan Penyakit, Waketum PSI Sebut Program Cek Kesehatan Gratis Perlu Diperkuat