- Aktivis buruh Marsinah secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, 32 tahun setelah kematiannya yang tragis
- Marsinah adalah ikon perlawanan buruh di era Orde Baru yang berani menuntut hak-hak pekerja, sebuah perjuangan yang harus ia bayar dengan nyawanya
- Meskipun gelar pahlawan telah diberikan, kasus pembunuhan Marsinah hingga kini masih menjadi misteri dan salah satu catatan kelam pelanggaran HAM berat di Indonesia yang pelakunya belum pernah terungkap
Suara.com - Penantian panjang atas pengakuan negara terhadap perjuangan Marsinah akhirnya tiba. Setelah 32 tahun menjadi simbol perlawanan kaum buruh yang dibungkam, Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada aktivis asal Nganjuk, Jawa Timur tersebut.
Penganugerahan ini menjadi momen bersejarah yang kembali membuka lembaran kelam salah satu kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) paling ikonik di era Orde Baru.
Upacara khidmat yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (10/11/2025), menjadi saksi ditetapkannya Marsinah sebagai pahlawan.
"Tiga, almarhumah Marsinah tokoh dari Provinsi Jawa Timur," ujar Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana saat membacakan surat keputusan di hadapan para hadirin.
Gelar kehormatan tersebut diterima langsung oleh perwakilan ahli waris keluarga Marsinah, mengukuhkan namanya dalam daftar tokoh bangsa yang berjasa.
Simbol Perlawanan dari Pabrik Arloji
Lahir pada 10 April 1969, Marsinah adalah wajah kegigihan kelas pekerja. Ia merupakan buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, yang menjadi pusat perjuangannya. Jauh sebelum dikenal sebagai aktivis vokal, Marsinah adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang merantau untuk memperbaiki nasib.
Ia sempat bekerja di pabrik plastik SKW di Rungkut, namun upah yang tak seberapa memaksanya mencari penghasilan tambahan dengan berjualan nasi bungkus seharga Rp 150 per porsi. Kegigihan inilah yang membentuk karakternya yang tak kenal takut saat menyuarakan hak-hak kaumnya.
Perjuangan yang Berujung Maut
Baca Juga: Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada Hari Pahlawan 2025
Tragedi yang merenggut nyawa Marsinah bermula dari aksi mogok kerja besar-besaran buruh PT CPS pada 3-4 Mei 1993. Para buruh menuntut 12 item perbaikan kesejahteraan, termasuk kenaikan upah. Perundingan alot itu membuahkan hasil: 11 dari 12 tuntutan dikabulkan.
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Pada 5 Mei 1993, 13 rekan buruh Marsinah dipanggil oleh Kodim 0816 Sidoarjo. Di sana, mereka diintimidasi dan dipaksa menandatangani surat pengunduran diri.
Mendengar kabar tersebut, Marsinah tidak tinggal diam. Ia menulis surat untuk memberikan panduan kepada rekan-rekannya dan berikrar, "Kalau mereka diancam akan dimejahijaukan oleh Kodim, saya akan bawa persoalan ini kepada paman saya di Kejaksaan Surabaya." Sore itu, ia masih sempat melayangkan surat protes ke perusahaan. Malam harinya, sekitar pukul 22.00, Marsinah menghilang tanpa jejak.
Tiga hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di hutan Desa Jegong, Nganjuk. Luka parah di sekujur tubuhnya menjadi bukti bisu penyiksaan brutal yang ia alami sebelum tewas.
Misteri yang Tak Pernah Tuntas
Kasus pembunuhan Marsinah sontak menjadi sorotan nasional, bahkan mendapat perhatian Presiden Soeharto saat itu. Namun, proses hukumnya berjalan penuh kejanggalan. Delapan petinggi dan staf PT CPS, termasuk pemiliknya, Judi Susanto, diculik dan ditangkap. Mereka mengaku mengalami siksaan berat untuk dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan.
Meski pengadilan tingkat pertama menjatuhkan vonis hingga 17 tahun penjara, putusan itu rontok di tingkat banding dan kasasi. Mahkamah Agung akhirnya membebaskan semua terdakwa dari segala dakwaan.
Sejak saat itu, siapa dalang dan eksekutor pembunuhan Marsinah yang sebenarnya menjadi misteri gelap yang tak pernah terpecahkan, meninggalkan luka mendalam bagi penegakan hukum dan HAM di Indonesia.
Berita Terkait
-
Jadi Pahlawan Nasional, Keluarga Marsinah Menangis dan Cium Foto Kakak di Istana
-
Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada Hari Pahlawan 2025
-
Profil Marsinah, Aktivis Buruh yang Dianugerahi Gelar Pahlawan oleh Presiden Prabowo
-
Peluk Hangat Anak-anak Soeharto di Istana Usai Terima Gelar Pahlawan Nasional, Titiek Tersenyum
-
Akhirnya Pahlawan! Ini Sederet Fakta di Balik Gelar Nasional Soeharto
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi, Sebut Politik Uang Gerus Penegakan Hukum
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
Tak Relevan, Aksi Reformasi Jilid II Dinilai Bukan Aspirasi Mahasiswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung