-
Penetapan Soeharto sebagai pahlawan oleh Presiden Prabowo bersamaan dengan Marsinah menuai kritik keras.
-
Pakar hukum menyebut keputusan tersebut sebuah "penghinaan akal sehat" dan menyamakannya dengan hal mustahil.
-
Langkah ini dinilai ironis, ibarat menyandingkan figur diktator dengan simbol korban dari rezimnya.
Suara.com - Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan.
Kontroversi ini semakin memanas karena penetapan tersebut diumumkan bersamaan dengan pemberian gelar serupa kepada Marsinah, seorang aktivis buruh yang menjadi simbol perlawanan hak asasi manusia di era Orde Baru.
Akademisi dari Universitas Trisakti, Bhatara Ibnu Reza, menjadi salah satu suara yang paling vokal, menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap akal sehat publik.
Menurutnya, penganugerahan gelar pahlawan kepada arsitek rezim Orde Baru itu tidak dapat diterima, baik secara moral maupun historis.
"Soeharto dianggap sebagai pahlawan itu keterlaluan, ini benar-benar keterlaluan. Tidak ada di lain yang menganggap diktator itu sebagai pahlawan," ujarnya kepada Suara.com.
Bhatara menegaskan bahwa diskursus global justru menunjukkan adanya upaya negara-negara untuk mengambil jarak dari figur-figur diktator masa lalu mereka, bukan malah mengagungkannya.
"Hitler aja tidak dianggap pahlawan oleh Jerman. Atau misalnya Marcos (Ferdinand Marcos, mantan Presiden Filipina) tidak dianggap sebagai pahlawan, dia dikenang sebagai presiden tetapi bukan sebagai pahlawan," lanjutnya.
Sorotan utama dari kritik Bhatara tertuju pada penyandingan nama Soeharto dengan Marsinah.
Ia menilai tindakan ini bukan hanya ironis, tetapi juga secara fundamental melukai ingatan kolektif bangsa terhadap sejarah kelam pelanggaran HAM.
Baca Juga: Soeharto Dapat Gelar Pahlawan, Ketua MPR Ingatkan Pencabutan TAP MPR Anti-KKN
“Nama Soeharto disamakan dengan Marsinah, itu penghinaan terhadap akal sehat,” kata Bhatara.
“Bagaimana mungkin sosok Marsinah, pejuang buruh yang dibunuh di masa rezim Soeharto disandingkan dengan Soeharto? Ibaratnya menyandingkan Adolf Hitler dengan Anne Frank, korban kekejaman Nazi,” tegasnya.
Penetapan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto dan Marsinah diumumkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara pada Senin (10/11/2025) pagi.
Keputusan ini sontak membuka kembali perdebatan fundamental di ruang publik mengenai definisi 'kepahlawanan' dalam konteks sejarah Indonesia yang kompleks.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Vonis Nadiem Diwarnai Dissenting Opinion, Hakim Nilai Tak Ada Bukti Niat Jahat
-
Siapa Hakim Andi Saputra? Dissenting Opinion dan Minta Nadiem Makarim Dibebaskan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Beda Drastis dari Hari Pertama, Pendukung Roy Suryo Tak Lagi Padati PN Jaksel
-
Ambil Alih Lahan di Kedoya, Kuasa Hukum Ahli Waris Bongkar Modus Surat Mencari Tanah
-
Dokter Icha Tewas Diduga Diintimidasi Anggota DPRD, Puan Maharani Murka: Usut Tuntas!
-
Anggaran Riset Rp4 Triliun Belum Cukup! DPR Dorong Prabowo Naikkan hingga Rp8 Triliun
-
Hakim Sebut Nadiem Makarim Rugikan Negara Rp1,5 Triliun
-
Bukan Musibah Biasa, Pemerintah Didesak Bentuk Tim Independen Usut Kematian 5 Peserta Latsarmil
-
Bukan Cuma Soal Injak Kepala Kerbau, Lukas Luwarso Soroti Tokoh di Balik Acara Jokowi di Lampung