- Banyak anak tidak menghabiskan Makan Bergizi Gratis karena menu, rasa, dan kesegaran tidak sesuai.
- Sebanyak 35,6 persen anak mengaku tidak menghabiskan jatah makan karena sudah kenyang atau makanan basi.
- Jadwal distribusi yang terlambat dan menu monoton menjadi keluhan utama dari para siswa penerima.
Suara.com - Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan fakta mengejutkan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, terungkap fenomena yang janggal, yakni banyak siswa mengaku tidak menghabiskan jatah makanan yang mereka terima.
Alasan yang mendasarinya bervariasi, mulai dari menu yang dinilai kurang cocok dengan selera, kondisi makanan yang tidak lagi segar, hingga waktu distribusi yang tidak selaras dengan jam makan ideal anak.
“Selama ini, kita lebih sering mendengar perspektif dari orang dewasa mengenai MBG. Melalui kajian ini, kami ingin mendengar apa yang disuarakan anak. Kami berharap peluncuran kajian yang disampaikan hari ini bisa menjadi masukan bagi perbaikan pelaksanaan program MBG ke depannya,” kata Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu (12/11/2025).
Kajian tersebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti anak melalui metode Child Led Research (CLR) dan Survei Suara Anak pada periode 11 Juli hingga 1 Agustus 2025.
Penilitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskripsi yang melibatkan 2.241 responden dari 12 provinsi. Setelah divalidasi, ada 1.624 data yang dinyatakan valid untuk dianalisis lebih lanjut.
Hasil dari Child Led Research tersebut secara spesifik mengidentifikasi menu yang kurang variatif dan makanan yang terkadang tidak segar sebagai penyebab utama MBG tidak dihabiskan.
Lebih jauh, ditemukan kasus anak dengan alergi tidak dapat mengonsumsi menu yang disediakan, serta keluhan mengenai makanan yang terlalu lama disimpan sebelum didistribusikan.
Data dari Survei Suara Anak memperkuat temuan ini, di mana sebanyak 572 anak atau 35,6 persen responden mengonfirmasi pernah tidak menghabiskan makanan mereka.
Baca Juga: Gaji Petugas MBG Telat, Kepala BGN Janji Bakal Tuntaskan Pekan Ini
Alasan yang paling dominan adalah karena sudah merasa kenyang (114 anak) dan kondisi makanan yang basi atau berbau (112 anak).
Selain itu, 95 anak menyatakan rasa makanan tidak enak, 87 anak memiliki alasan lainnya, 51 anak menilai rasanya hambar, dan 46 anak secara terang-terangan tidak menyukai menu yang disajikan.
“Karena porsinya agak banyak untukku (karena aku cewek), tapi mungkin untuk teman-temanku yang cowok porsinya itu pas, juga karena kita itu kadang telat diberikan MBG-nya, kadang dikasih jam 10-an, kadang jam 11-an, di jam-jam itu kita udah kenyang karena habis jajan, makanya nggak habis,” ujar salah satu responden anak yang identitasnya disamarkan.
Evaluasi tidak berhenti di situ. Sekitar 52 persen responden menyarankan adanya peningkatan mutu, baik dari segi bahan baku maupun proses pengolahan makanan.
Keluhan lain yang mencuat adalah penggunaan wadah plastik sekali pakai serta jadwal distribusi yang tidak konsisten.
Sejumlah 33,5 persen anak menyoroti variasi menu yang monoton, diikuti oleh 22,1 persen yang mengkritik ketidaktepatan waktu penyaluran makanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Paus Leo Kritik Donald Trump: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Pengobar Perang
-
Update SNBP 2026: Cek Hasil Seleksi Jalur Prestasi Resmi
-
Soroti Kasus Amsal Sitepu, Praktisi Hukum Desak Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Kreatif
-
Belanja Pegawai Mau Dibatasi 30 Persen APBD, Pemprov DKI Pastikan PPPK Jakarta Tak Dikorbankan
-
Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2
-
Arus Balik Lebaran 2026 Melandai, Jasa Marga: 2,9 Juta Kendaraan Sudah Masuk Jakarta
-
Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
-
Aparat Israel Halangi Pemimpin Gereja Masuk Makam Kudus di Misa Minggu Palma
-
Pesawat AWACS E-3 Milik AS Hancur Kena Serangan Iran di Arab Saudi
-
Realisasi Bantuan Jaminan Hidup Terus Meningkat, Jadi Penunjang Hidup Penyintas