- SRMP Sentra Handayani Jakarta Timur menerima siswa dengan latar belakang kurang mampu dan kesulitan membaca awal.
- Siswa menjalani matrikulasi intensif untuk mengejar kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung hingga lancar.
- Sebagian besar siswa kini berani menyusun proposal hidup berorientasi melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi.
Suara.com - Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Sentra Handayani, Jakarta Timur, perjalanan belajar para siswanya jarang lurus dan mulus. Banyak dari mereka datang dengan catatan panjang seperti putus sekolah, minim dukungan keluarga, hingga ada yang belum lancar membaca ketika pertama kali masuk.
Namun, dalam waktu yang tidak terlalu panjang, perubahan kecil, tapi berdampak besar, mulai terlihat. Kepala SRMP Sentra Handayani, Regut Sutrasto, mengingat jelas kondisi awal para siswa itu.
"Beberapa anak, mungkin ada satu, dua, yang belum bisa membaca (ketika pertama masuk Sekolah Rakyat), lalu ada tim teaching dari bapak, ibu guru," kata Regut kepada wartawan, Jumat (12/12/2025).
Tahap matrikulasi menjadi pintu awal. Pada saat itu, mereka yang tertinggal dibantu mengejar kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung dengan ritme yang lebih manusiawi. Regut bersyukur tak ada kendala berarti selama proses itu.
"Alhamdulillah sekarang semuanya sudah bisa lancar," katanya.
Para siswa Sekolah Rakyat itu tidak berhenti ditugaskan untuk mengejar ketertinggalan akademik. Lebih jauh dari itu, anak-anak yang berasal dari keluarga desil 1 dan 2, atau miskin ekstrem dan miskin, itu juga diarahkan untuk berani menyusun masa depannya masing-masing.
Regut menyebut para siswa SRMP kini sudah membuat proposal hidup semacam peta jalan versi sederhana untuk masa dewasa mereka. Proposal itu bukan sekadar tugas sekolah. Bagi anak-anak dengan latar belakang rapuh, menuliskan masa depan dapat menjadi langkah berani untuk mengklaim harapan.
Dari proposal-proposal itu, ada satu hal yang membuat para guru cukup tertegun karena hampir semua siswa mengaku ingin kuliah.
"Kami pernah mendata bahwa semuanya ini anak-anak pengen kuliah, sudah punya program pengen kuliah, nah itu yang kita garis bawahi ya," tutur Regut.
Baca Juga: Pemulihan Psikososial di Sumatra, Lebih Dari 50 Persen Siswa Masih Alami Sedih dan Cemas
Untuk menggapai rencana tersebut, para siswa diarahkan agar bisa lulus dari SRMA kemudian melanjutkan sekolah ke sekolah rakyat menengah atas (SRMA). Dari sana, pintu menuju perguruan tinggi dibuka melalui program beasiswa yang bekerja sama dengan kementerian maupun lembaga lain.
Tapi selain berlanjut ke SRMA, Regut juga punya harapan besar kepada siswa-siswanya ada yang bisa menembus masuk ke Sekolah Garuda.
Diketahui Sekolah Garuda juga termasuk program pemerintah dalam bidang pendidikan, yang dibuat khusus untuk anak-anak berprestasi di bidang akademik.
"Walaupun nanti seleksi ya cukup ketat, kita akan mencoba. Setidaknya anak-anak ini nanti karirnya akan lebih bagus, karena kita harapkan nanti ke sekolah-sekolah yang lebih bagus," harap Regut.
Ia tahu perjalanan itu tidak mudah. Banyak anak datang dengan bayang-bayang persoalan hidup yang terlalu dewasa untuk usia mereka. Tapi, di SRMP, mereka mulai dilatih untuk membayangkan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar bertahan hidup.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif