- Mayoritas publik Indonesia optimis transformasi budaya Polri akan terwujud pada tahun 2026, didorong agenda PRESIS Kapolri.
- Survei RPI Januari 2026 menunjukkan 76,2 persen responden yakin transformasi terwujud, termasuk koreksi internal.
- Optimisme publik ini juga melihat potensi pergeseran dari budaya militeristik menuju pelayanan publik dan *community policing*.
Suara.com - Hasil survei terbaru lembaga Rumah Politik Indonesia (RPI) menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia optimistis reformasi dan transformasi budaya Polri akan terwujud pada tahun 2026.
Optimisme ini dinilai sejalan dengan model kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui agenda PRESIS (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan), yang menempatkan transformasi budaya organisasi sebagai fondasi utama pembaruan Polri.
Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif RPI, Fernando Emas, dalam peluncuran hasil survei bertajuk “Survei Nasional Optimisme Publik terhadap Transformasi Budaya Polri” di Jakarta.
“Berdasarkan hasil survei terbaru yang kami lakukan, mayoritas publik mengaku optimis transformasi budaya Polri akan terjadi di tahun 2026. Pandangan dan pengalaman masyarakat sebagai penerima langsung layanan kepolisian menjadi indikator penting untuk menilai apakah perubahan budaya itu benar-benar dirasakan, diterima, dan berkelanjutan,” ujar Fernando.
Berdasarkan data RPI, sebanyak 76,2 persen responden menyatakan optimistis, baik cukup optimistis, optimistis, maupun sangat optimistis terhadap terwujudnya transformasi Polri pada 2026.
Sementara itu, 19,9 persen responden mengaku kurang optimistis, dan 3,9 persen lainnya memilih tidak tahu atau tidak menjawab.
Survei ini juga mencatat optimisme publik terhadap keberanian Polri melakukan koreksi internal. Sekitar 67,8 persen responden menyatakan optimis Polri berani membenahi internal institusi pada 2026.
Adapun 22,2 persen responden menyebut kurang optimistis, dan 10 persen lainnya tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.
Selain itu, RPI menemukan sejumlah indikator positif lain.
Baca Juga: Banjir Rendam Jakarta, Lebih dari Seribu Warga Terpaksa Mengungsi
Sebanyak 72,2 persen publik optimistis akan terjadi pergeseran signifikan dari budaya militeristik menuju civilian policing di tubuh Polri.
Lalu, 69,2 persen responden menilai Polri akan semakin berorientasi pada pelayanan publik, bukan kekuasaan.
Sebanyak 75,9 persen publik optimistis kepemimpinan Polri mampu menjadi teladan dan role model, serta 65,6 persen meyakini Polri akan lebih responsif dalam menangani kejahatan siber, transnasional, dan kejahatan modern.
Optimisme juga terlihat pada penguatan community policing. Menurut Fernando, sebanyak 73,1 persen responden optimistis Polri mampu memperkuat pendekatan kepolisian berbasis komunitas pada 2026
Sementara 17,5 persen responden mengaku kurang optimistis, dan 9,4 persen lainnya memilih tidak tahu atau tidak menjawab.
Fernando menjelaskan, optimisme publik didorong oleh konsistensi Polri dalam menjalankan agenda transformasi.
Salah satunya melalui pembentukan Tim Transformasi Polri oleh Kapolri. Selain itu, publik menilai Polri menunjukkan keberanian dalam melakukan koreksi internal terhadap anggotanya yang melakukan pelanggaran.
“Transparansi tata kelola, penertiban internal, serta modernisasi pelayanan menjadi perhatian utama responden ketika melihat keseriusan Polri melakukan transformasi,” jelas Fernando.
Meski demikian, ia menekankan masih ada pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Menurutnya, Polri perlu meningkatkan kepastian dan kejelasan waktu penanganan perkara agar kepercayaan dan optimisme publik semakin menguat.
“Perbaikan dalam penerapan hukum, khususnya terkait waktu penanganan perkara, penting dilakukan agar masyarakat semakin percaya terhadap proses transformasi Polri,” pungkasnya.
Survei RPI ini dilaksanakan pada 2–9 Januari 2026 dengan melibatkan 1.200 responden berusia di atas 17 tahun yang tersebar di 30 provinsi di Indonesia.
Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius
-
Menlu Iran: Demi Allah! Kami Akan Balas Kematian 51 Siswi SD yang Dibantai Israel - AS
Terkini
-
Marcella Santoso Mengaku Korban Mafia Peradilan, Penegak Hukum Minta Uang ke Anak Buah
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Iran Serang Ibu Kota Arab Saudi
-
Iran Meradang 70 Pelajar Jadi Korban, di Negara Timur Tengah Mana AS 'Parkir' Kendaraan Militer?
-
Biang Kerok Perang Pakistan vs Afghanistan, Tehreek-e-Taliban Pakistan Didanai Siapa?
-
Pramono Anung Ingin Pasang CCTV di Hutan Kota Cawang Usai Laporan Penyalahgunaan Fasilitas Publik
-
Pramono Anung Waspadai Dampak Serangan AS-Israel ke Iran: Harga Barang di Jakarta Bisa Melonjak
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius