- PDI Perjuangan resmi memilih posisi sebagai 'Partai Penyeimbang' di luar pemerintahan.
- Posisi ini bukan oposisi keras, melainkan mengawal kebijakan pro-rakyat.
- Sikap ini terbukti dengan menolak wacana Pilkada via DPRD.
Suara.com - Di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, PDI Perjuangan menebalkan garis politiknya. Selama tiga hari, dari 10 hingga 12 Januari 2026, ribuan kader berkumpul dalam Rapat Kerja Nasional atau Rakernas I, dan hasilnya tegas; partai berlambang banteng moncong putih itu memilih jalan sebagai 'Partai Penyeimbang.'
NARASI kuat ini tertuang dalam poin ke-4 rekomendasi eksternal Rakernas, yang menegaskan posisi PDIP untuk "mengawal penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, berkeadilan, dan berorientasi pada sebesar-besarnya kesejahteraan Rakyat."
Lantas, apa sebenarnya makna di balik istilah ini? Apakah ini sekadar sikap abu-abu?
Di hadapan ribuan kader, Ketua DPP PDIP Bidang Politik, Puan Maharani, membeberkan makna di balik posisi baru partainya. Menurutnya, menjadi penyeimbang adalah peran aktif untuk mengawal agar pemerintahan berjalan sesuai konstitusi dan kepentingan rakyat.
"Posisi sebagai partai politik penyeimbang bukanlah posisi pasif, apalagi sekadar menunggu keadaan," kata Puan.
Ia menegaskan, PDIP akan mendukung setiap kebijakan negara yang pro-rakyat, tetapi juga berkewajiban mengingatkan ketika kekuasaan mulai menjauh dari nilai keadilan sosial dan demokrasi.
“Inilah watak PDI Perjuangan sejak awal: yaitu setia pada bangsa, negara, dan rakyat Indonesia,” tegas cucu Bung Karno ini.
Penyeimbang atau Oposisi yang Lebih 'Soft'?
Jika didengar sekilas, fungsi penyeimbang terdengar mirip dengan oposisi. Namun, menurut Peneliti Senior BRIN, Lili Romli, ada nuansa yang berbeda, terutama jika dibandingkan dengan sikap PDIP di era pemerintahan SBY yang cenderung keras.
Baca Juga: Usai Reses, 294 Anggota DPR Hadiri Rapat Paripurna Perdana Tahun 2026
"Saya tidak tahu kenapa seperti itu. Padahal PDIP pernah menempatkan sebagai partai oposisi pada pemerintahan SBY di mana tampil terdepan dan keras dalam memberikan kritik," kata Lili.
Ia menduga, istilah 'penyeimbang' dipilih karena adanya kedekatan personal antara Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dengan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, sebagai partai yang kalah dalam Pilpres 2024, PDIP menjunjung fatsun politik untuk berada di luar pemerintahan.
Lili memprediksi, kritik yang akan dilontarkan PDIP kali ini akan lebih soft.
"Kalau pun nanti ada kritik, mungkin disampaikan dengan cara yang soft, tidak segarang dulu waktu zaman SBY," tuturnya.
Megawati: Ini Keputusan Ideologis, Bukan Abu-abu
Megawati Soekarnoputri, sang nahkoda partai, menepis anggapan bahwa posisi ini adalah sikap abu-abu. Di hadapan ribuan kadernya, ia menegaskan bahwa pilihan ini adalah keputusan ideologis.
"Kita secara sadar dan bertanggung jawab memilih posisi sebagai kekuatan penyeimbang kekuasaan negara. Ini bukan sikap netral. Ini bukan posisi abu-abu. Ini adalah keputusan ideologis,” kata Megawati.
Presiden ke-5 RI ini menekankan bahwa peran penyeimbang bukanlah untuk merusak, melainkan untuk memastikan negara tetap berjalan di atas rel Pancasila dan UUD 1945.
Ujian Pertama: Menolak Pilkada via DPRD
Peran sebagai penyeimbang langsung diuji dalam peta politik terkini. Di saat mayoritas partai pendukung pemerintah mewacanakan Pilkada dikembalikan ke DPRD, PDIP mengambil sikap yang berbeda dan keras: menolak.
Sikap ini, menurut Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia, menambah konsistensi PDIP di luar pemerintahan.
"PDIP sejak era SBY sudah menunjukkan sikap yang mandiri," kata Dedi.
Ia menilai, sebagai penyeimbang, PDIP justru berpotensi besar meraih simpati dari kelompok masyarakat yang kontra terhadap kekuasaan.
Sendirian di Parlemen, Tak Gentar Berdialog
Sikap tegas menolak Pilkada via DPRD berpotensi membuat PDIP berjuang sendirian di parlemen. Namun, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa kesendirian itu akan diisi dengan ruang-ruang dialog.
"Sangat benar kalau dikatakan kami sendirian. Karena kami membangun komunikasi," kata Hasto.
Menurutnya, fungsi penyeimbang justru terletak pada dialog yang berbasis data dan argumen, bukan sekadar konfrontasi.
"Penyeimbang itu ada dialog. Dan itu sehat di dalam demokrasi," sambungnya.
Pada intinya, kata Hasto, PDIP ingin rakyat tetap berdaulat, dan itulah mengapa peran penyeimbang menjadi krusial.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Demo Mahasiswa di Bulan Ramadan, Polisi Turunkan Tim Sholawat untuk Pengamanan
-
Polemik Akses Musala di Cluster, Pengembang Buka Suara Usai Diusir Komisi III DPR
-
Negosiasi AS-Iran Gagal! Ancaman Perang Bisa Terjadi dalam 15 Hari ke Depan
-
AS Evakuasi Staf dan Warganya dari Israel, Isu Perang dengan Iran Memanas
-
Mengurai Krisis Dokter Spesialis di Indonesia: Di Mana Letak Masalahnya?
-
Sekolah Swasta Gratis di Semarang Bertambah Jadi 133, Jangkau Lebih Banyak Siswa
-
Anies Baswedan Soroti Dinasti Politik: Pemerintah Harusnya Bekerja untuk Rakyat, Bukan Keluarga!
-
Anies Baswedan Beri Restu: Ormas Gerakan Rakyat Resmi Jadi Partai, Apa Langkah Selanjutnya?
-
Terbongkar! Hutan Kota Cawang Jadi Sarang Aktivitas Asusila, Pemkot Gerebek dan Segel Lokasi
-
Tolak Ambang Batas Parlemen, Partai Gerakan Rakyat Usul PT 0 Persen: Jangan Ada Suara Mubazir!