- Kemenkes membekukan PPDS Ilmu Kesehatan Mata Unsri di RSUP Dr. M. Hoesin karena dugaan perundungan dan pungli.
- Korban OA diduga diperas senior untuk membiayai kebutuhan pribadi hingga berusaha bunuh diri dan mengundurkan diri.
- Institusi terkait harus melakukan pembenahan total, memberikan sanksi tegas, serta menyusun rencana aksi pencegahan perundungan.
Suara.com - Sebuah skandal kelam yang menyelimuti dunia pendidikan kedokteran spesialis di Tanah Air akhirnya memicu reaksi keras dari pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara resmi mengumumkan telah membekukan sementara Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) yang berlokasi di RSUP Dr. M. Hoesin, Palembang.
Keputusan tegas ini diambil sebagai respons langsung atas terungkapnya kasus dugaan perundungan brutal dan praktik pungutan liar (pungli) yang menimpa seorang mahasiswi residen berinisial OA.
Kasus ini sontak menjadi sorotan publik setelah detail perlakuan yang diterima korban terkuak ke media massa.
Kemenkes, melalui tim investigasi yang diturunkan, telah mengonfirmasi adanya praktik tidak terpuji yang mencederai marwah pendidikan kedokteran tersebut.
Temuan di lapangan menunjukkan adanya sistem eksploitasi yang dilakukan oleh oknum senior terhadap juniornya.
"Berdasarkan hasil investigasi tim, diketahui telah terjadi praktik perundungan berupa permintaan pembayaran (pungutan liar) oleh peserta PPDS Ilmu Kesehatan Mata," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, dalam keterangan resminya di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (14/1/2026).
Kisah yang dialami korban OA sungguh memilukan. Ia diduga diperas dan dijadikan 'ATM' berjalan oleh para seniornya.
Berdasarkan laporan yang beredar, korban dipaksa untuk membiayai berbagai kebutuhan pribadi para senior, mulai dari membayar uang semesteran, mendanai pesta, membeli alat olahraga, produk kecantikan, hingga urusan sepele seperti traktiran makan dan minum.
Tekanan mental dan finansial yang tak tertahankan ini diduga kuat menjadi pemicu korban melakukan upaya bunuh diri.
Baca Juga: Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis
Setelah insiden tragis tersebut, korban akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari program pendidikan yang telah ia perjuangkan dengan susah payah.
Menyikapi temuan ini, Kemenkes tidak main-main. Selama program PPDS Ilmu Mata dihentikan, Kemenkes memberikan serangkaian instruksi tegas yang harus segera dijalankan oleh pihak RSUP M. Hoesin dan FK Unsri.
Aji Muhawarman menegaskan bahwa ini adalah kesempatan bagi kedua institusi untuk melakukan pembenahan total.
Salah satu perintah utamanya adalah menghentikan seluruh kegiatan yang terindikasi sebagai perundungan di semua program residensi yang ada, tidak hanya di Ilmu Mata.
Laporan mengenai penghentian praktik ini harus segera disampaikan kepada pimpinan masing-masing institusi.
Lebih lanjut, Kemenkes menuntut adanya sanksi yang jelas dan tegas. Aji mengatakan RSUP M. Hoesin dan FK Unsri agar memberikan sanksi yang tegas kepada pihak-pihak yang terlibat pada kasus saudari OA.
Berita Terkait
-
Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis
-
Kemenkes Minta Rp500 Miliar untuk Perbaikan Fasyankes dan Alat Medis Rusak Akibat Banjir Sumatra
-
Gigitan Ular Jadi Ancaman Nyata di Baduy, Kemenkes Akui Antibisa Masih Terbatas
-
Tito Karnavian Tekankan Kreativitas dan Kemandirian Fiskal dalam RKAT Unsri 2026
-
Lebih dari Sekadar Kenakalan Remaja: Membedah Akar Psikologis Kekerasan Anak
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Izin ke Amerika Serikat, Negara Tetangga Ingin Beli Lebih Banyak Minyak dari Rusia
-
AS dan Iran Dikabarkan Akan Kembali ke Meja Perundingan di Pakistan Akhir Pekan Ini
-
Untuk Pertama Kalinya, Lebanon dan Israel Bahas Gencatan Senjata Langsung di Washington
-
Vladimir Putin Ingin Prabowo Subianto Kembali Berkunjung pada Mei dan Juli 2026
-
Spanyol Kecam Komentar Donald Trump terhadap Paus Leo XIV
-
Survei Cyrus Network: 70 Persen Masyarakat Puas Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih
-
Survei Cyrus: 65,4 Persen Publik Dukung MBG
-
Lolos dari Bandara Soetta, Sabu 4,8 Kg Kiriman dari Iran Disergap di Pamulang!
-
Mendagri Tito Bahas Persiapan Program Perumahan di Wilayah Perbatasan
-
Bisa Jadi Pintu Masuk HIV: 19 dari 20 Remaja Jakarta Terinfeksi Penyakit Menular Seksual