.
Suara.com - Di balik gaji tinggi dan fleksibilitas yang ditawarkan pekerjaan remote, ancaman mata kering SePeLe hingga kebutaan mengintai para pekerjanya. Obat tetes mata INSTO Dry Eyes jadi pertolongan pertama menyelamatkan mata para pekerja remote.
"Klik... Klik... Klik". Suara mouse memecah keheningan malam di sebuah kamar kos di Yogyakarta. Waktu hampir tengah malam, namun tangan kanan Amelia Prisilia masih bergerak lincah menggeser mouse hitamnya kekiri dan kekanan. Kedua matanya fokus menatap layar laptop yang dipenuhi barisan tulisan menunggu untuk disunting satu per satu.
Tangan kiri Amelia sesekali memijat keningnya perlahan, kedua matanya terpejam beberapa detik menahan perih. Selama enam bulan terakhir, rutinitas menjadi remote worker atau pekerja jarak jauh itu menjadi bagian dari hidupnya.
Kepada Suara.com pada Selasa (6/1/2026), Amelia bercerita pekerjaannya di sebuah perusahaan medical tourism yang berbasis di Amerika Serikat itu memaksanya bekerja mengikuti ritme negeri Paman Sam. Ketika sebagian besar karyawan kantor membuka laptop pukul sembilan pagi, ia justru baru memulai jam kerjanya pada pukul tiga sore dan baru benar-benar berhenti setelah lewat tengah malam.
Tiga pekan pertama sebagai pekerja remote menjadi masa paling menantang bagi Amelia. Ia memaksa tubuhnya beradaptasi begadang tiap hari dan menjaga fokus tinggi selama delapan jam. Rutinitas menatap layar monitor dalam intensitas tinggi membuat matanya terasa kering dan panas.
“Awalnya saya kira cuma mata kering karena kelelahan biasa,” kata Amelia.
Namun gejala itu tak kunjung hilang. Gejala mata sepet, perih, dan lelah (SePeLe) semakin progresif. Puncaknya, rasa sakit tidak hanya dirasakan di kedua matanya, melainkan telah menjalar sampai ke kepala. Amelia sempat merasakan sakit kepala cukup hebat yang mengganggu aktivitas.
“Rasanya sakit banget sampai ke kepala, pernah sampai minum parasetamol untuk meredakan nyeri,” ujarnya.
Tak ada pilihan lain yang dapat diambil Amelia. Setahun terakhir ia menjalani dua kali operasi akibat De Quervain syndrome, peradangan pada selubung tendon di pangkal ibu jari dan pergelangan tangan yang dideritanya. Jari-jarinya sering terasa kaku, sulit digerakkan, dan membuatnya tidak mungkin kembali ke rutinitas menulis intensif di kantor seperti sebelumnya. Ia harus menjalani fisioterapi tiga kali seminggu untuk memulihkan fungsi tangannya.
Di tengah situasi yang serba terbatas itu, pekerjaan remote memberikan win win solution untuknya. Ia bisa bekerja dari mana saja, tidak perlu izin ke kantor setiap kali harus fisioterapi, dan gaji dolar yang ditawarkan cukup besar untuk menopang biaya hidupnya.
“Ya ada plus minus sih. Kerja remote bisa fleksibel jadi jadwal terapi nggak terganggu, tapi minusnya mata kering,” ujar Amelia.
Fenomena pekerja remote seperti Amelia kini bukan hal yang langka. Data Global Workplace Analytics menunjukkan bahwa kerja jarak jauh tumbuh 216 persen sepanjang 2015–2019 dan melonjak tajam selama pandemi. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari Jobstreet by SEEK bersama Boston Consulting Group juga mencatat peningkatan signifikan remote worker Indonesia, dari 55 persen di 2022 menjadi 71 persen pada 2023.
Di balik fleksibilitas dan kebebasannya, ancaman kesehatan mata seperti yang dialami Amelia juga mengintai banyak pekerja remote lainnya. Sebuah studi yang diterbitkan di PubMed pada 2021 berjudul The Relationship Between Dry Eye Disease and Digital Screen Use mengungkapkan, penggunaan layar digital jangka panjang merupakan salah satu faktor risiko utama dry eye disease (DED) atau mata kering. Semakin lama durasi menatap layar, semakin tinggi risiko mata kering.
Mengapa Menatap Layar Membuat Mata Kering?
Banyak orang percaya mata kering terjadi karena sinar radiasi dari layar digital menembus mata. Anggapan ini sudah terlanjur populer, tetapi faktanya keliru. Dokter mata subspesialis infeksi dan imunologi mata di JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Anna Nur Utami, SpM menjelaskan, penyebab utama mata kering bukanlah radiasi, melainkan menurunnya frekuensi kedipan mata ketika seseorang menatap layar terlalu lama.
Dalam kondisi normal, seseorang berkedip 10–15 kali per menit. Kedipan ini berfungsi menghasilkan air mata untuk menjaga kelembapan mata. Saat fokus pada layar digital, refleks kedipan otomatis menurun menjadi hanya 5–7 kali per menit. Ketika kedipan berkurang, produksi air mata menurun dan penguapan air mata meningkat. Kombinasi inilah yang memicu timbulnya sensasi mata kering, panas atau berpasir.
Berita Terkait
-
7 Hal Sepele yang Bikin Baterai HP Cepat Habis, Jangan Lakukan Ini
-
Waspada, 10 Kebiasaan Ini Bisa Mengganggu Penglihatan dan Rusak Kesehatan Mata Anda
-
Mata Perih Kayak Kena Semprot Merica? Ini 6 Cara Simpel Atasi Sindrom Mata Kering
-
Mata Lelah Gara-gara Layar? Ini 6 Jurus Sakti Biar Gak Cepat Rusak
-
Punya Mobil Hybrid? 7 Kebiasaan Sepele Bisa Bikin Dompet Menjerit
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
WALHI: PETI di Sumbar Sudah Hancurkan Lebih dari 10 Ribu Hektare Hutan dan Lahan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
Gedung DPR RI 'Dibentengi' Beton Meski Titik Utama Demo Mahasiswa di Bundaran HI
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
DPRD DKI Jakarta Sahkan Perda P4GN
-
Penumpang KA Jarak Jauh Wajib Tahu! Ada Pengalihan dari Gambir ke Jatinegara Imbas Demo di Jakarta
-
Baru Sebulan Pascabencana Mematikan, Izin Tambang Andesit Terbit di Kawasan Hulu Sumbar
-
Siksa Bocah di Taman Kramat Pulo hingga Tersengat Listrik, 2 Remaja Ditangkap Polisi
-
Usut Gurita Suap Bea Cukai, KPK Periksa Sekretaris Pendiri IAW Iskandar Sitorus
-
Kemenag Gelar Nikah Massal Gratis, Peserta Terpilih Berkesempatan Dapat Modal Usaha