- Walhi menyatakan kondisi Aceh Tamiang memprihatinkan, bantuan negara baru tiba satu minggu pasca bencana ekologis.
- Masyarakat Aceh Tamiang awalnya bertahan hidup dengan gerakan swadaya, berbagi makanan dari toko dan beras rumah.
- Warga menilai bencana banjir bandang tersebut lebih parah dari Tsunami 2004 karena membawa material lumpur dan kayu.
Suara.com - Koordinator Desk Disaster Walhi Region Sumatera, Wahdan Lubis, menuturkan bahwa kondisi di Aceh Tamang pasca bencana ekologis terjadi sangat memprihatinkan. Negara baru hadir setelah satu minggu bencana ekologis terjadi.
Dalam tiga hari pasca bencana, kata Wahdan, agar masyarakat bisa bertahan hidup, mereka melakukan gerakan warga bantu warga.
“Jadi pemilik kedai-kedai di sana mereka langsung mengeluarkan isi kedai untuk dimakan secara bersama,” kata Wahdan, di dalam siaran YouTube Walhi Nasional, Jumat (16/1/2026).
Selanjutnya, warga juga mengumpulkan beras yang tersisa di rumah masing-masing untuk bertahan hingga datangnya bantuan.
Sementara itu, Desk Disaster Walhi region Sumatera Bengkulu, Juli mengisahkan, banyak warga Aceh Tamiang yang menyebut bencana ekologis kemarin, lebih parah dibandingkan Tsunami pada 2004 silam.
Pasalnya, dalam bencana banjir bandang yang terjadi, banyak material lumpur yang terbawa arus banjir. Terlebih banyaknya batang pohon yang ikut terbawa air.
“Itu bukan sekedar banjir, tapi ada banyak lumpur, dan material-material lain yang cukup banyak. Jadi menurut mereka ini bukan sekedar banjir tapi sudah luar biasa,” ucapnya.
Selama 14 hari berada di sana, lanjut Juli, pihaknya menganggap ini bukanlah sekedar bencana alam namun kerusakan ada di hulu.
“Berdasarkan investigasi di lapangan, material-material kayu itu sangat luar biasa sehingga warga menanggap ini bukan cuma bencana alam,” tandasnya.
Baca Juga: 47 Hari Pascabanjir, Aceh Tamiang Masih Terjebak Krisis Kesehatan dan Air Bersih
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
- 3 HP Murah dengan Kamera Underwater Rp2 Jutaan, Cocok Buat Foto dan Video dalam Air
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Jelang Muktamar NU Ke-35, Mohammad Nuh Jawab Isu Penyanderaan SK PCNU
-
Aston Villa Dikabarkan Jajaki Transfer Alejandro Garnacho dari Chelsea
-
Korban Ketiga Ledakan Rumah Mewah di Medan Ditemukan, Total 3 Tewas
-
Persiapan KUR Perumahan, Menteri PKP Sebut Kinerja BRI Tertinggi Dalam Penyaluran Program
-
PSIM Yogyakarta Pertahankan Empat Pemain Asing untuk Hadapi Musim 2026/2027
-
Barcelona Berpotensi Terima Rp63 Miliar dari FIFA Berkat Kontribusi Pemain di Piala Dunia 2026
-
Soroti Dugaan TPPU Febrie Adriansyah, Akademisi Dorong Penerapan Pemberatan Pidana Eks Jampidsus
-
Fabio Quartararo Gabung Honda, Separuh Kursi MotoGP 2027 Sudah Terisi
-
Barcelona Siapkan Opsi Alternatif di Tengah Sulitnya Negosiasi Julian Alvarez
-
Ironi Retret Magelang, 16 Kepala Daerah Tetap Kena OTT KPK Meski Sudah Dibriefing Prabowo