- Harga kelapa bulat internasional menurun akhir 2025–awal 2026 akibat faktor ekonomi global dan geopolitik.
- Peningkatan produksi pasca-El Nino dan suku bunga tinggi global menekan pasar kelapa saat ini.
- Koreksi harga ini merupakan siklus pasar yang berdampak pada margin petani dan industri pengolahan.
Suara.com - Harga kelapa bulat di pasar internasional mengalami penurunan sejak akhir 2025 hingga awal 2026, terdorong oleh kombinasi faktor ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. International Coconut Community (ICC) menyebut pelemahan harga ini merupakan bagian dari siklus pasar setelah periode kenaikan harga yang signifikan pada 2023–2025.
Executive Director ICC, Dr. Jelfina C. Alouw, menjelaskan bahwa lonjakan harga sebelumnya mendorong peningkatan produksi di negara produsen, yang kini memicu penyesuaian keseimbangan pasar.
“Koreksi harga seperti ini adalah bagian dari siklus pasar, mencerminkan proses penyeimbangan antara pasokan dan permintaan,” kata Dr. Jelfina.
Dari sisi pasokan, kondisi iklim pasca-El Nino meningkatkan produksi kelapa, sementara permintaan global belum sejalan dengan peningkatan tersebut. Tekanan tambahan muncul dari tingginya suku bunga global, yang mendorong pedagang internasional menahan stok dan mengurangi risiko modal.
Pasar minyak nabati global juga memengaruhi harga kelapa. Sebagai bagian dari kelompok lauric oils bersama Palm Kernel Oil (PKO), harga minyak kelapa sangat sensitif terhadap pergerakan komoditas substitusi. Ketika alternatif lain lebih murah, pembeli global menyesuaikan portofolio mereka, sehingga permintaan minyak kelapa melambat.
Selain faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik di sejumlah jalur distribusi utama juga menekan perdagangan kelapa. ICC mencatat adanya penundaan impor dan penyesuaian volume pembelian sebagai respons pasar terhadap risiko global.
ICC menekankan bahwa harga minyak kelapa (CNO) di Rotterdam menjadi barometer utama perdagangan internasional. Namun, transmisi harga ke pasar domestik bergantung pada rantai pasok, logistik, dan kebijakan perdagangan masing-masing negara. Penguatan Dolar AS dinilai memiliki dampak yang kontekstual terhadap harga kelapa.
Penurunan harga ini berimbas langsung pada petani dan pelaku industri, karena harga produk olahan juga mengalami penyesuaian, sehingga margin industri terkadang tertekan.
Ke depan, ICC memperkirakan harga kelapa dunia akan tetap fluktuatif. Namun, pertumbuhan permintaan terhadap produk kelapa bernilai tambah dinilai dapat menahan volatilitas harga dalam jangka menengah, sekaligus memperkuat posisi kelapa di pasar global.
Baca Juga: Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Mojtaba Khamenei 2 Kali Lolos dari Maut Serangan AS-Israel
-
Iran Diminta Fokus Lawan Amerika Serikat Tanpa Ganggu Keamanan Negara-Negara Arab
-
Rusia dan China Bersatu Bantu Iran Lawan Amerika Serikat Pakai Satelit Canggih Hingga Rudal Pembunuh
-
Drone Murah Iran Shahed-136 Berhasil Bikin AS dan Israel Pusing Karena Boros Biaya Amunisi
-
Merengek Ketakutan Putra Benjamin Netanyahu Kabur ke AS saat Israel Dihujani Rudal Iran
-
Pramono Anung Siapkan 25 Ruang Terbuka Hijau Baru di Jakarta
-
Netanyahu Disalip Babi? Merlin Babi Pintar dengan Jutaan Followers di Instagram
-
Dompet Warga AS Tercekik, Harga BBM Meroket Cepat dalam Setahun, Trump Bisa Apa?
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Nyoman Parta: Serangan Air Keras ke Aktivis HAM Alarm Bahaya bagi Demokrasi