- Remaja di wilayah perkotaan Jakarta sangat rentan menjadi korban *child grooming* akibat interaksi digital yang intensif.
- Pelaku *online grooming* membangun kepercayaan korban melalui media sosial atau *game online* untuk eksploitasi.
- Ahli PPPA DKI Jakarta menangani 673 kasus kekerasan seksual terhadap anak sepanjang tahun 2025.
Suara.com - Remaja di wilayah perkotaan seperti Jakarta disebut sebagai kelompok usia yang paling rentan menjadi korban child grooming, seiring semakin luasnya pergaulan dan intensitas interaksi mereka di ruang digital. Kondisi ini menjadi perhatian serius para ahli perlindungan anak.
Tenaga Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Provinsi DKI Jakarta, Meinita Fitriana Sari, menilai fase remaja merupakan masa krusial karena anak mulai aktif membangun relasi sosial di luar lingkup keluarga.
"Dengan situasi dan kondisi yang ada di Jakarta, kerentanannya itu berada di usia remaja, karena dia memulai membangun relasi dengan banyak pihak," ujar Meinita dalam siniar Rabu Belajar bertema "Kenali dan Cegah Anak Kita dari Bahaya Child Grooming" di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu.
Menurutnya, remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarga. Pada tahap ini, kemampuan untuk mengenali relasi yang sehat dan tidak sehat menjadi faktor pelindung yang sangat penting.
Ancaman semakin kompleks karena anak dan remaja kini telah akrab dengan teknologi digital, mulai dari media sosial hingga gim daring. Paparan ini, jika tidak disertai literasi digital yang memadai, membuka celah terjadinya online grooming.
"Pelaku pada saat online grooming itu mendekati anak, misalnya lewat chat. Kalau di game online, bisa berkomunikasi lewat chat, atau media sosial untuk membangun kepercayaan, lalu pada akhirnya melakukan kekerasan bentuknya seksual atau child grooming," jelas Meinita.
Ia menerangkan, child grooming merupakan pola manipulasi yang dilakukan orang dewasa dengan membangun kedekatan emosional dan kepercayaan anak secara bertahap. Proses ini bertujuan menciptakan kontrol terhadap korban, yang berujung pada eksploitasi atau kekerasan seksual.
Dalam praktiknya, pelaku kerap memulai dengan perhatian berlebih, hadiah, atau janji tertentu. Setelah hubungan terbentuk, anak secara perlahan diisolasi dari lingkungan sekitarnya.
"Artinya, mereka mengondisikan seolah-olah anak ini tidak punya cara untuk meminta bantuan segera, karena kontrolnya ada di pelaku tersebut, sehingga ada ketidakseimbangan relasi kuasa," terang Meinita.
Baca Juga: Shayne Pattynama Punya Keyakinan Besar Sosok John Herdman Bisa Bawa Timnas Indonesia Sukses
Data PPPA DKI Jakarta menunjukkan tingginya angka kekerasan terhadap anak. Sepanjang 2025, lembaga tersebut menangani 2.269 kasus kekerasan, dengan 1.224 di antaranya merupakan kasus kekerasan pada anak. Dari jumlah itu, sebanyak 673 kasus tergolong kekerasan seksual terhadap anak.
Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun kesadaran serta perlindungan dini bagi anak dan remaja, khususnya di tengah derasnya arus interaksi digital.
Berita Terkait
-
Shayne Pattynama Punya Keyakinan Besar Sosok John Herdman Bisa Bawa Timnas Indonesia Sukses
-
Pengeluaran Masih Nombok, Buruh Jakarta Desak Pramono Anung Revisi UMP 2026 di Depan Balai Kota
-
Latihan Persija Disaksikan John Herdman, Mauricio Souza Acungi Jempol
-
Intip Latihan Persija Jakarta, John Herdman Beberkan Alasannya
-
Shayne Pattynama Merasa Terhormat Bisa Bela Persija Jakarta
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Ngopi Bareng Jadi Awal Rencana Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus, Ternyata Ini Motifnya!
-
Kunker ke Tiga Negara, Gubernur Pramono Perkuat Kemitraan Strategis Menuju Top 50 Global City 2030
-
Trauma Usai Tabrakan KRLArgo Bromo, Penumpang Perempuan Kini Pilih Hindari Gerbong Ujung
-
Mobil Lexus Rp1,3 M Dibeli Cash Tapi Mau Ditarik Debt Collector, DPR Endus Praktik Nakal Leasing
-
Kakek-kakek Lepaskan Tembakan Brutal di Pengadilan Athena, Banyak Orang Kena Peluru Nyasar
-
Periksa Sekda Madiun Dkk, KPK Telusuri Pemberian Fee Proyek ke Wali Kota Maidi
-
Tragedi Kereta di Bekasi, Legislator Gerindra Desak Pemerintah Cabut Izin Taksi Green SM
-
DPR Kritik Usulan Menteri PPPA Soal Pemindahan Gerbong Wanita KRL: Perbaiki Sistem!
-
Iran di Ambang Kronis, Kemiskinan dan Pengangguran Mendarah Daging
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini