- Kementerian Kehakiman AS merilis jutaan dokumen rahasia Jeffrey Epstein pada Jumat, 30 Januari 2026, sesuai undang-undang transparansi.
- Nama Donald Trump muncul lebih dari 5.300 kali, termasuk tuduhan pelecehan remaja yang terjadi sekitar 35 tahun lampau.
- Otoritas mengingatkan bahwa data yang dirilis mencakup informasi mentah yang kredibilitasnya masih dipertanyakan dan belum terverifikasi.
Suara.com - Dunia internasional kembali diguncang dengan perilisan jutaan dokumen rahasia milik terpidana kasus kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara resmi membuka akses terhadap jutaan data tersebut pada Jumat (30/1/2026) waktu setempat.
Langkah transparan ini mencakup publikasi lebih dari tiga juta halaman dokumen, 180.000 gambar, serta 2.000 video yang selama ini tersimpan rapat.
Salah satu fakta yang paling menyita perhatian publik adalah munculnya nama Donald Trump sebanyak lebih dari 5.300 kali dalam kumpulan file terbaru tersebut.
Meski demikian, mayoritas penyebutan nama politikus kondang itu diklaim hanya berkaitan dengan diskusi politik di lingkaran dalam Epstein.
Namun, terdapat sebuah laporan spesifik dari biro penyelidik yang mencatatkan dugaan skandal asusila di masa silam.
Dalam dokumen yang dirujuk dari FBI tersebut, Trump dituding melakukan pelecehan terhadap seorang remaja di New Jersey sekitar 35 tahun yang lalu.
"Usianya sekitar 13–14 tahun ketika kejadian itu berlangsung," tulis laporan itu, sebagaimana dilansir dari Metro.
Laporan tersebut kabarnya sempat dikirim ke kantor pusat di Washington guna dilakukan proses wawancara lebih lanjut terhadap saksi.
Baca Juga: 'Awal Tahun yang Sempurna', Daftar 4 Kritik Adian Napitupulu Terhadap Pemerintahan Prabowo
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah proses klarifikasi tersebut benar-benar dilaksanakan atau sekadar menjadi arsip belaka.
Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menjelaskan bahwa pembukaan berkas ini merupakan perintah dari Undang-Undang Epstein Files Transparency Act.
Pihak otoritas juga mengingatkan masyarakat bahwa berkas-berkas ini berisi tumpukan data mentah yang kredibilitasnya masih dipertanyakan.
"Produksi (dokumen) ini mungkin mencakup gambar, dokumen, atau video palsu yang dikirimkan secara tidak benar, karena semua yang dikirim oleh publik ke FBI disertakan dalam produksi yang responsif terhadap Undang-Undang ini," tulis Kementerian Kehakiman AS.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa banyak klaim yang tidak berdasar sengaja dikirimkan oleh oknum masyarakat menjelang Pemilu 2020.
"Klaim tersebut tidak berdasar dan salah, dan jika memiliki sedikit saja kredibilitas, mereka pasti sudah dijadikan senjata untuk melawan Presiden Trump sejak lama," lanjut kementerian.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Rekomendasi Sepeda Wimcycle Termurah untuk Dewasa, Solusi Olahraga Hemat
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
PDIP Dorong Dialog Terbuka Tentukan Ambang Batas Parlemen di RUU Pemilu
-
Menteri PPPA Minta Proses Hukum Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren Pati Dipercepat
-
Peneliti UGM: 60 Persen Tenaga Kerja Indonesia di Sektor Informal, Perlindungan Masih Lemah
-
Soroti Kasus Dokter Magang Meninggal Kelelahan, MGBKI Dorong Reformasi Sistem Internsip Nasional
-
Dokter Magang di Jambi Meninggal Diduga Kelelahan, MGBKI Kritik Adanya Kegagalan Sistem
-
Wamendagri Bima: Generasi Muda Harus Siap Pimpin Indonesia Menuju Negara Maju
-
Wamendagri Bima Arya Nilai Pacitan Berpotensi Jadi Kota Wisata Unggulan
-
Groundbreaking Mapolda DIY, Kapolri Dorong Pelayanan Polisi Berbasis AI dan Data
-
Siapa yang Salah? Polisi Periksa 31 Saksi Terkait Kecelakaan Beruntun KRL vs Argo Bromo
-
Dukung Asta Cita Prabowo, TNI dan Masyarakat Tanami Jagung Lahan 2 Hektare di Cibeber