- Desakan perombakan tata ruang muncul akibat banjir Jakarta yang kini melampaui kapasitas desain awal kota.
- Normalisasi sungai, pelebaran, pendalaman, dan sterilisasi bantaran sungai adalah kunci pengendalian luapan air.
- Minimnya RTH dan urbanisasi masif memerlukan pengaturan penduduk serta penegakan hukum tata ruang tegas.
Suara.com - Masalah banjir yang terus menghantui Jakarta memicu desakan kuat agar Pemprov DKI melakukan perombakan total terhadap tata ruang ibu kota.
Pengamat tata kota, M. Azis Muslim pun menyoroti perkembangan Jakarta yang kini telah melampaui kapasitas desain awal kota tersebut.
Azis menyebutkan bahwa pembenahan tata ruang merupakan kunci utama agar masalah luapan air di Jakarta bisa lebih terkendali di masa depan.
"Tata kota didesain pada waktu itu, dengan perkembangan yang mungkin tidak dibayangkan seperti saat ini," ujarnya kepada Suara.com, Senin (2/2/2026).
Langkah Pemprov DKI Jakarta yang mulai melakukan normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi saluran air dinilainya sudah tepat.
Menurut Azis, sungai-sungai di Jakarta memang harus segera diperlebar, diperdalam, serta dibersihkan dari berbagai hambatan fisik.
Wilayah bantaran sungai harus steril dari permukiman warga, agar kapasitas tampung air tetap optimal saat musim hujan.
"Karena kita lihat ya, di beberapa titik daerah aliran sungai, itu juga masih dipenuhi dengan berbagai macam aktivitas masyarakat, misalnya pemukiman dan seterusnya," kata dia.
Selain normalisasi, Azis juga menyinggung minimnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta yang masih di bawah standar minimal.
Baca Juga: Mengenal RDF Plant Rorotan: Mesin Pengolah Sampah Jakarta yang Berusaha Keras Hilangkan Bau Busuk
Keberadaan RTH dinilai sangat krusial sebagai area resapan alami guna mengurangi beban saluran drainase saat terjadi presipitasi tinggi.
"Persentasenya ya, masih kurang dari 20. Ini kan juga menjadi sangat penting untuk bisa mengembalikan ruang terbuka hijau agar kemampuan untuk menyerap air hujan itu bisa lebih baik," tambahnya.
Persoalan urbanisasi yang masif juga dianggap Azis sebagai faktor pendorong semrawutnya tata ruang dan meningkatnya risiko banjir.
Ia menyarankan adanya pengaturan yang lebih ketat terhadap arus penduduk yang masuk, agar beban daya dukung lingkungan Jakarta tidak kolaps.
"Kita paham bahwa pertumbuhan Jakarta itu saat ini selain dari yang natural, ini kan juga karena faktor urbanisasi ya. Artinya keberadaan Jakarta yang masih menjadi faktor penarik, banyak sekali faktor penarik dan pendorong yang ada, itu mesti dicermati juga, mesti dilakukan pengaturan dengan baik," jelasnya lagi.
Terakhir, Azis menekankan pentingnya edukasi dan penegakan hukum atau law enforcement yang tanpa pandang bulu terhadap para pelanggar aturan tata ruang.
Ia menuntut ketegasan pemerintah, baik terhadap masyarakat biasa maupun pengembang properti nakal yang sering kali mengabaikan rencana tata ruang wilayah.
"Ini menjadi sangat penting untuk bisa dilakukan penegakan," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Detik-detik John Herdman Dapat Asisten Pelatih Lokal untuk Timnas Indonesia
-
Mengenal RDF Plant Rorotan: Mesin Pengolah Sampah Jakarta yang Berusaha Keras Hilangkan Bau Busuk
-
Ratusan Ribu Pil 'Setan' Disita di Jakbar, Polisi: Pemicu Tawuran dan Kenakalan Remaja
-
Media Internasional: Persija Jakarta Jadikan Mauro Zijlstra Target Utama
-
Prabowo ke Pramono: Saya Dukung Sebagai Gubernur, Nanti 2029 Ya Terserah
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Siasat Busuk Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra Bela Mafia CPO Terbongkar, Kini Resmi Masuk Bui!
-
Mendagri Pastikan Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan, Anggaran Rp100,1 Triliun Disiapkan
-
Renduk Pemulihan Pascabencana Himpun 11.512 Kegiatan, Ini Skala Prioritasnya
-
Standardisasi Kemasan Rokok, Kebijakan Kesehatan atau Ancaman Ekonomi Rakyat?
-
Tak Pandang Bulu! Bareskrim Akui Anggota Polisi Berinisial AFH Terseret Kasus Narkoba B Fashion
-
Sambil Terisak, Megawati Tegaskan Indonesia Haramkan Hubungan Diplomatik dengan Israel
-
Uang Negara Menguap Triliunan! Kejagung Didesak Bongkar Mafia di Balik Investasi Telkomsel ke GoTo
-
Geger! Kafe AfterHour di Poins Square Hangus Dilalap Sijago Merah, Satu Karyawan Jadi Korban
-
Teka-teki 9 Kotak Jam Mewah Fadia Arafiq, KPK Buru Sisa Rolex yang 'Hilang' dari Wadahnya
-
Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba