News / Metropolitan
Senin, 02 Februari 2026 | 20:36 WIB
Warga mendorong sepeda motornya di jalan yang terendam banjir di Jalan Outer Ring Road, Cengkareng, Jakarta, Jumat (23/1/2026). [ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/foc]
Baca 10 detik
  • Desakan perombakan tata ruang muncul akibat banjir Jakarta yang kini melampaui kapasitas desain awal kota.
  • Normalisasi sungai, pelebaran, pendalaman, dan sterilisasi bantaran sungai adalah kunci pengendalian luapan air.
  • Minimnya RTH dan urbanisasi masif memerlukan pengaturan penduduk serta penegakan hukum tata ruang tegas.

Suara.com - Masalah banjir yang terus menghantui Jakarta memicu desakan kuat agar Pemprov DKI melakukan perombakan total terhadap tata ruang ibu kota.

Pengamat tata kota, M. Azis Muslim pun menyoroti perkembangan Jakarta yang kini telah melampaui kapasitas desain awal kota tersebut.

Azis menyebutkan bahwa pembenahan tata ruang merupakan kunci utama agar masalah luapan air di Jakarta bisa lebih terkendali di masa depan.

"Tata kota didesain pada waktu itu, dengan perkembangan yang mungkin tidak dibayangkan seperti saat ini," ujarnya kepada Suara.com, Senin (2/2/2026).

Langkah Pemprov DKI Jakarta yang mulai melakukan normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi saluran air dinilainya sudah tepat.

Menurut Azis, sungai-sungai di Jakarta memang harus segera diperlebar, diperdalam, serta dibersihkan dari berbagai hambatan fisik.

Wilayah bantaran sungai harus steril dari permukiman warga, agar kapasitas tampung air tetap optimal saat musim hujan.

"Karena kita lihat ya, di beberapa titik daerah aliran sungai, itu juga masih dipenuhi dengan berbagai macam aktivitas masyarakat, misalnya pemukiman dan seterusnya," kata dia.

Selain normalisasi, Azis juga menyinggung minimnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta yang masih di bawah standar minimal.

Baca Juga: Mengenal RDF Plant Rorotan: Mesin Pengolah Sampah Jakarta yang Berusaha Keras Hilangkan Bau Busuk

Keberadaan RTH dinilai sangat krusial sebagai area resapan alami guna mengurangi beban saluran drainase saat terjadi presipitasi tinggi.

"Persentasenya ya, masih kurang dari 20. Ini kan juga menjadi sangat penting untuk bisa mengembalikan ruang terbuka hijau agar kemampuan untuk menyerap air hujan itu bisa lebih baik," tambahnya.

Persoalan urbanisasi yang masif juga dianggap Azis sebagai faktor pendorong semrawutnya tata ruang dan meningkatnya risiko banjir.

Ia menyarankan adanya pengaturan yang lebih ketat terhadap arus penduduk yang masuk, agar beban daya dukung lingkungan Jakarta tidak kolaps.

"Kita paham bahwa pertumbuhan Jakarta itu saat ini selain dari yang natural, ini kan juga karena faktor urbanisasi ya. Artinya keberadaan Jakarta yang masih menjadi faktor penarik, banyak sekali faktor penarik dan pendorong yang ada, itu mesti dicermati juga, mesti dilakukan pengaturan dengan baik," jelasnya lagi.

Terakhir, Azis menekankan pentingnya edukasi dan penegakan hukum atau law enforcement yang tanpa pandang bulu terhadap para pelanggar aturan tata ruang.

Load More