- Penunjukan Mars Ega Legowo Putra sebagai Dirut PPN dikritik Sentinel karena dianggap kontradiktif dengan reformasi BUMN dan tata kelola energi.
- Sentinel menyoroti kinerja Mars Ega Legowo Putra yang buruk, termasuk kekosongan BBM dan dugaan penyimpangan produksi Biosolar B40.
- Lembaga tersebut mendesak evaluasi terhadap kepemimpinan PPN terkait kegagalan digitalisasi distribusi dan dugaan kartel transportasi BBM.
Suara.com - Penunjukan Mars Ega Legowo Putra sebagai Direktur Utama Subholding Pertamina Patra Niaga (PPN) pasca-merger menuai kritik tajam.
Keputusan ini dinilai bertentangan dengan agenda reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dicanangkan Presiden, bahkan disebut berpotensi melemahkan upaya pemberantasan praktik mafia migas di sektor hilir energi.
Lembaga pemantau kebijakan publik Sentinel Studi Hukum dan Masyarakat (Sentinel) menilai, mempertahankan figur dengan rekam jejak kebijakan yang problematik merupakan preseden buruk bagi tata kelola energi nasional.
Menurut Sentinel, langkah tersebut tidak sejalan dengan visi Presiden yang menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh di tubuh BUMN.
Sentinel menyoroti kinerja Mars Ega Legowo Putra saat menjabat di posisi strategis sebelumnya, baik sebagai Direktur Utama maupun Direktur Pemasaran Regional yang membawahi operasional SPBU.
Dalam periode tersebut, kinerja dinilai tidak menunjukkan capaian signifikan.
Indikator yang disorot antara lain maraknya kejadian kekosongan BBM di SPBU di sejumlah wilayah strategis, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa.
Kondisi ini dinilai mencerminkan lemahnya perencanaan pasokan dan pengendalian distribusi, padahal aspek tersebut merupakan kompetensi utama dalam pengelolaan sektor hilir migas.
Sentinel juga mengungkap dugaan penyimpangan serius dalam produksi Biosolar B40 Performance. Lembaga ini menyoroti proses pengadaan zat aditif yang melibatkan Afton Chemical melalui mekanisme penunjukan langsung, tanpa tender kompetitif.
Baca Juga: Alasan Stok BBM Shell Masih Kosong: ESDM Belum Terbitkan Rekomendasi Impor
Lebih lanjut, Sentinel mempersoalkan metode produksi yang dinilai menyimpang dari standar keselamatan dan mutu.
“Kami menemukan indikasi bahwa pencampuran aditif tidak dilakukan melalui proses blending terintegrasi di kilang, melainkan dicampur manual di tangki unit pelaksana. Ini merupakan praktik ‘oplosan’ skala industri yang berisiko menurunkan kualitas BBM,” ujar Ronal Jefferson, Director of Policy Advocacy Sentinel, di Jakarta
Kritik juga diarahkan pada proyek digitalisasi 5.518 SPBU senilai Rp3,6 triliun yang berada di bawah supervisi direksi sebelumnya. Proyek ini dinilai gagal berfungsi sebagai sistem pengawasan distribusi BBM.
Sentinel menduga adanya rekayasa spesifikasi teknis pada mesin EDC, yang berpotensi menguntungkan vendor tertentu. Kegagalan digitalisasi tersebut dinilai berkorelasi langsung dengan masifnya kebocoran solar bersubsidi.
“Ada pembiaran sistemik. Solar subsidi terus mengalir ke sektor perkebunan dan pertambangan ilegal. Ini bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan indikasi pintu belakang yang sengaja tidak dikunci,” tegas Ronal.
Sebagai catatan, estimasi subsidi BPDPKS untuk program biodiesel B40 pada 2025 diperkirakan mencapai Rp46–47 triliun, guna menutup selisih harga biodiesel dan solar konvensional.
Berita Terkait
-
Alasan Stok BBM Shell Masih Kosong: ESDM Belum Terbitkan Rekomendasi Impor
-
Bye-bye Impor! SPBU Swasta Mulai Antre Borong Solar Pertamina
-
Izin Impor BBM Shell Belum Terbit, ESDM: Masih Dievaluasi!
-
Pertamina Resmi Satukan Tiga Anak Usaha ke Subholding Downstream
-
Sudah Tahu Harga BBM Turun per 4 Februari 2026? Ini Daftar Lengkap Tarif Pertamina hingga Shell Baru
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Gerindra Akhirnya Minta Maaf, Atribut Partainya Ganggu Masyarakat di Jalan
-
Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian
-
Semangat Berdikari, Soekarno Run Runniversary 2026 Siapkan Beasiswa Pelajar dan Inovasi 'Zero Waste'
-
Anggota DPRD DKI beberkan kondisi memprihatinkan Flyover Pesing
-
Sekolah Rakyat Tuban Tunjukkan Dampak Positif, Sekolah Permanen Disiapkan
-
Ferdinand Hutahean: Penempatan Polri di Bawah Kementerian Bukan Solusi Benahi Keluhan Masyarakat
-
Usai Gelar Perkara, KPK Tetapkan Status Hukum Hakim dan Pihak Lain yang Terjaring OTT di Depok
-
KPK Geledah Kantor Pusat Bea Cukai dan Rumah Tersangka, Dokumen hingga Uang Tunai Diamankan
-
Indonesia Police Watch Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian: Akan Jadi Pembantu Politisi