- Pemerintah AS menunjuk Mayor Jenderal Jasper Jeffers memimpin International Stabilization Force (ISF) untuk keamanan Gaza pascagencatan senjata.
- Jeffers memiliki rekam jejak operasi khusus di Irak, Suriah, Afghanistan, serta mediasi di Lebanon, mendukung strategi demiliterisasi Hamas.
- Mandat utama ISF adalah operasi keamanan, demiliterisasi Hamas, dan membuka akses bantuan kemanusiaan, ditargetkan awal 2026.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat menunjuk Mayor Jenderal Jasper Jeffers sebagai Komandan International Stabilization Force (ISF), pasukan multinasional yang diproyeksikan menjadi tulang punggung keamanan Jalur Gaza pascagencatan senjata.
Penunjukan ini menegaskan arah baru strategi Washington yang menempatkan figur berlatar belakang operasi khusus untuk mengawal proses “demiliterisasi menyeluruh” Hamas dan stabilisasi wilayah.
ISF merupakan bagian dari kerangka tata kelola Gaza yang didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam skema tersebut, AS menyiapkan empat struktur paralel, yakni Board of Peace, Gaza Executive Board, Komite Nasional Administrasi Gaza, serta International Stabilization Force sebagai instrumen keamanan utama.
Figur Operasi Khusus dengan Rekam Jejak Panjang
Mengutip palestinechronicle.com, penunjukan Jeffers tidak terlepas dari rekam jejak militernya yang panjang di berbagai kawasan konflik. Karier perwira dua bintang ini dimulai pada 1996 sebagai perwira infanteri di Divisi Gunung ke-10 Angkatan Darat AS. Ia kemudian meniti jalur unit elite, termasuk Ranger dan komando operasi khusus.
Jeffers tercatat terlibat langsung dalam invasi AS ke Irak pada 2003, dengan peran sebagai komandan kompi dan perwira operasi udara.
Setelah menyelesaikan pendidikan staf dan komando di Fort Leavenworth, ia bergabung dengan United States Army Special Operations Command dan menangani berbagai misi berisiko tinggi di Irak, Suriah, dan Afghanistan.
Pengalamannya semakin meluas ketika ia ditugaskan sebagai penasihat dalam misi NATO Operation Resolute Support di Afghanistan, serta terlibat dalam Operation Inherent Resolve, kampanye militer pimpinan AS melawan kelompok Islamic State di Irak dan Suriah.
Dari Mediasi Lebanon ke Gaza
Pada akhir 2024, Jeffers kembali menjadi sorotan internasional saat ditempatkan di Lebanon untuk mengawasi implementasi gencatan senjata antara pemerintah Lebanon dan Hezbollah.
Dalam tugas tersebut, ia bekerja berdampingan dengan utusan khusus AS Amos Hochstein, menandai pergeseran perannya dari murni militer ke ranah diplomasi keamanan.
Baca Juga: Indonesia Ditunjuk Jadi Wakil Komandan ISF di Gaza, Komisi I DPR: Bukti Kepercayaan Dunia pada TNI
Pengalaman inilah yang dinilai relevan untuk memimpin ISF di Gaza, wilayah dengan kompleksitas konflik militer, politik, dan kemanusiaan yang saling berkelindan.
Mandat ISF: Keamanan hingga Akses Kemanusiaan
Gedung Putih menegaskan bahwa mandat utama Jeffers sebagai Komandan ISF adalah memimpin operasi keamanan, mendukung proses demiliterisasi Hamas, serta membuka jalur aman bagi penyaluran bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi.
ISF dirancang sebagai pasukan multinasional di bawah kepemimpinan militer AS. Namun, hingga kini formasi pasukan tersebut belum sepenuhnya terbentuk.
Sejumlah negara dilaporkan masih ragu bergabung, terutama terkait kepastian pelucutan senjata Hamas dan aturan pelibatan tempur (rules of engagement) yang akan diterapkan.
Washington sendiri disebut menargetkan pengerahan awal ISF pada awal 2026, seiring masuknya fase kedua perjanjian gencatan senjata Gaza yang mencakup penarikan penuh pasukan pendudukan Israel, pembentukan komite teknokrat, dan restrukturisasi keamanan wilayah.
Gaza di Tengah Perang Berkepanjangan
Rencana stabilisasi ini muncul di tengah krisis kemanusiaan yang belum mereda. Sejak Oktober 2023, Israel melancarkan perang besar-besaran di Jalur Gaza yang menewaskan hampir 72 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya, berdasarkan data otoritas kesehatan Gaza. Kekerasan tetap berlanjut meski gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku sejak Oktober tahun lalu.
Berita Terkait
-
Indonesia Ditunjuk Jadi Wakil Komandan ISF di Gaza, Komisi I DPR: Bukti Kepercayaan Dunia pada TNI
-
Usai Hadiri Board of Pearce, Prabowo Bicara Kehidupan Rakyat Gaza dan Kewaspadaan
-
Usai Hadir BoP: Prabowo Tegaskan Two-State Solution, Ungkap Waktu Kirim Pasukan Perdamaian
-
Pertemuan Perdana BoP, Trump Apresiasi Rencana Indonesia Kirim TNI ke Gaza
-
Indonesia Ditunjuk Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Serahkan Rp11,4 Triliun, Prabowo Sentil Oknum Birokrasi Nakal
-
Rumah Saksi Kasus Ijon Bekasi Dibakar, Eks Penyidik KPK: Teror Serius terhadap Pemberantasan Korupsi
-
Gantikan Anwar Usman Jadi Hakim MK, Liliek Prisbawono Punya Harta Rp5,9 Miliar
-
Pembahasan RUU Perampasan Aset Kembali Bergulir, Dinilai Tepat Usai KUHAP Baru Berlaku
-
Deddy Sitorus Respons Ajakan Gibran Ngantor di IKN: Dengan Senang Hati, Tapi Masalahnya...
-
Kronologi Ahmad Sahroni Diperas Rp 300 Juta oleh Oknum yang Mengatasnamakan KPK
-
Resmi Dilantik Jadi Ketua Ombudsman 20262031, Hery Susanto Siap Benahi Internal Lembaga
-
Tradisi Taklimat Prabowo Dinilai Perkuat Koordinasi Pemerintahan
-
Wacana Pelarangan Vape di Indonesia, Apa Sebenarnya yang Terjadi dan Apa Risikonya?
-
Momen Prabowo Berdiri di Hadapan 'Gunungan' Uang Rp11,4 Triliun di Kejagung