- Jardiyanto (51) menciptakan peci batik ikonik Jogokariyan berawal dari pelatihan kreatif LPMK Mantrijeron tahun 2015.
- Peci tersebut menjadi identitas jamaah setelah mendapat tantangan dari Ustaz Muhammad Jazir untuk dijadikan oleh-oleh khas.
- Produksi peci batik ini meningkat drastis saat Ramadan, menciptakan lapangan kerja lokal dan berhasil menembus pasar internasional.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Di tengah badai krisis global dan pengetatan anggaran yang menghimpit, Jardiyanto memilih untuk tetap berdiri tegak demi orang-orang di sekelilingnya. Baginya, peci ini bukan sekadar komoditas dagang, melainkan napas kehidupan bagi warga sekitar yang menggantungkan nasib pada setiap jahitan.
"Ini karena pengetatan anggaran itu pengaruh juga. Terus krisis global itu pengaruh juga. Tapi kita masih di angka 20 karyawan ada. Masih kita pertahankan," ucap Jardiyanto.
Prinsip pemberdayaan masyarakat lokal pun diutamakan dalam bisnis peci ini. Tampak kehangatan persaudaraan yang mengalir dalam setiap proses produksinya. Sebab memang sebagian besar pekerjanya adalah tetangga sendiri dari wilayah Jogokariyan, Mangkuyudan, serta wilayah sekitar.
"Sebagian besar itu dari sekitar sini, ada yang Mangkuyudan, Jogokariyan sini," tuturnya.
Tak hanya di level lokal, peci batik buatannya kini telah melanglang buana, merambah pangsa pasar di luar negeri mulai dari Malaysia hingga Brunei Darussalam.
"Kalau ini segmennya kita di lokal di Indonesia ya. Jadi dari Sabang sampai Merauke. Itu biasanya kalau momen-momen seperti ini itu yang merayakan kan warga Indonesia ya. Jadi kalau luar itu malah sebelum-sebelumnya. Jadi pas mereka liburan itu kadang mampir ke sini kayak gitu," tandasnya.
Kualitas Melawan Tiruan
Kesuksesan peci batik Jogokariyan tak lepas dari tantangan berupa munculnya produk tiruan yang dijual dengan harga lebih murah. Namun, Jardiyanto menegaskan bahwa kualitas produk asli tetap tak tertandingi.
Baca Juga: Jangan Jadi Korban! Satgas Pangan Temukan Susu Kedaluwarsa dan Mie Boraks di Jawa Barat
Terlebih dalam produksinya menggunakan bahan yang lebih lembut, sehingga memungkinkan peci bisa dilipat tanpa merusak bentuk, serta memiliki detail bordir di bagian dalam sebagai penanda keaslian.
"Banyak produk tiruan yang harganya di bawah kita. Tapi setelah kita ini kualitasnya beda sih. Kita ada logo peci batik di sini ada label. Terus ini kita pakai bordir semua dalamnya, jadi peci-pecinya bordir dalam," ungkapnya.
Untuk menjaga keunikan tersebut, Jardiyanto menjalin kerja sama dengan 19 pemasok pengrajin batik dari berbagai daerah seperti Jepara, Klaten, hingga pelosok Yogyakarta. Dengan kisaran harga Rp100.000 hingga Rp200.000, peci ini tetap menjadi favorit berbagai kalangan, mulai dari jamaah biro haji hingga tamu mancanegara.
"Range-nya masih sama di Rp100 sampai Rp200. Jadi kita masih bermain di angka itu ya, karena segmen kita ketika middle-up kita sasar mereka tetap memprioritaskan harga masih yang di dalam low budget," terangnya.
Kini, peci batik Jogokariyan bukan sekadar penutup kepala untuk beribadah, melainkan simbol kreativitas lokal yang berhasil bertahan di tengah tantangan zaman. Sebuah mahkota kecil yang dijahit dengan ketulusan hati para tetangga.
Jardiyanto membuktikan bahwa dari sisa-sisa perca dan kreativitas yang tak terbatas, Jogokariyan tetap mampu bersinar dan menyentuh kepala para jamaah hingga jauh ke negeri seberang, sembari tetap membumi di gang-gang sempit tempatnya dilahirkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
-
Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra