- Sejumlah warga negara Indonesia diduga terlibat pemalsuan riset dalam forum ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark, beberapa waktu lalu.
- Dicky Budiman menyatakan kasus tersebut merupakan tindakan oknum individu, bukan representasi dari seluruh peneliti atau institusi pendidikan Indonesia.
- Kejadian ini menjadi pengingat bagi perguruan tinggi Indonesia untuk memperkuat pendidikan etika penelitian demi menjaga integritas akademik internasional.
Suara.com - Dugaan keterlibatan sejumlah warga negara Indonesia dalam kasus pemalsuan riset di forum ilmiah internasional di Denmark disebut ikut menjadi perbincangan di kalangan akademisi luar negeri, termasuk di Australia.
Peneliti kesehatan global dari Griffith University Dicky Budiman mengatakan kasus tersebut memang sempat dibahas di lingkungan akademik karena para pihak yang terlibat sebelumnya diharapkan bisa menjadi representasi peneliti muda Indonesia di forum internasional.
“Kalau diperbincangkan ya ada beberapa ya, karena tentu, karena harapannya ya sebagai peneliti muda, apalagi dari lembaga yang kredibel begitu, tadinya harapannya kan begitu ya,” kata Dicky kepada Suara.com, Kamis (28/5/2026).
Kasus dugaan riset palsu itu sebelumnya mencuat usai sejumlah nama asal Indonesia disebut diduga mempresentasikan penelitian bermasalah dalam konvensi ilmiah ISPPD di Kopenhagen, Denmark. Dugaan yang muncul mulai dari manipulasi riset hingga penggunaan afiliasi akademik yang dipertanyakan.
Meski demikian, Dicky menegaskan para akademisi di luar negeri tidak melihat kasus tersebut sebagai gambaran seluruh peneliti Indonesia.
“Tapi tentu tidak semua seperti itu ya, semua melihatnya dengan fair, ini adalah oknum,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan utama dalam kasus tersebut tetap berkaitan dengan integritas individu yang terlibat, bukan identitas kebangsaan ataupun institusi secara umum.
“Ini kembali pada integritas yang bersangkutan ya, memang kredibilitasnya yang buruk dari yang bersangkutan,” katanya.
Dicky juga menilai kasus tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi kampus dan lembaga pendidikan di Indonesia untuk memperkuat pendidikan etik penelitian sejak awal.
Baca Juga: AI Jadi Alat Tipu Peneliti WNI di Denmark, Dipicu Pencitraan dan Jalan-jalan Gratis
Ia menegaskan integritas akademik menjadi hal penting dalam dunia riset internasional karena menyangkut kepercayaan terhadap data, publikasi ilmiah, hingga reputasi institusi pendidikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
-
AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
-
Kecewa Ditinggal Begitu Saja, Ojol Jakarta Murka Massa Pati Langsung Pulang Usai dari DPR
-
Rupiah Tersengat Sentimen Demo, Ditutup Anjlok ke Level Rp17.744
-
Ojol Bawa Bendera One Piece ke DPR Dicegat Polisi: Ini Simbol Lawan Koruptor
Terkini
-
DPR Tak Perlu Tunggu Desember untuk Sahkan RUU Perampasan Aset
-
Siapa Ahmad Ramzy, Pengacara yang Bikin Ruben Onsu Jadi Tersangka
-
Apa Perbedaan Konduktor dan Isolator Panas Beserta Contoh Bendanya?
-
Jalur Rel Terkepung Massa Aksi DPR, Perjalanan KRL Tanah Abang Terhenti
-
Lebih dari Konflik Istana, The King's Warden Soroti Mirisnya Pendidikan Era Joseon
-
Bukan Cuma Bikin Kaki Kesemutan, Ini Risiko Terlalu Lama Duduk di Toilet
-
Massa Demo di Senayan Makin Ramai, Raker DPR Bersama Menkes Diakhiri Lebih Awal
-
Festival DEB Pertamina 2026 Perkuat Kolaborasi, Dorong Energi Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi Desa
-
Sudah Bukan Waktunya Berharap ke DPR! Parlemen Kini Hanya Tameng Prabowo
-
Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa NTT, Warga Masih Pilih Pengobatan Tradisional