- Langgar Kidul adalah cikal bakal lahirnya gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah.
- Koreksi arah kiblat Kiai Ahmad Dahlan memicu kontroversi hingga perobohan langgar.
- Kini, langgar menjadi destinasi edukasi sejarah perjuangan dan pemikiran Kiai Dahlan.
Suara.com - Di sebuah sudut Kampung Kauman, Yogyakarta, tak jauh dari Masjid Gedhe, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang bersahaja tapi sarat akan makna. Warga mengenalnya sebagai Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah sekolah, laboratorium gagasan, dan rahim tempat lahirnya Muhammadiyah. Sejarahnya berlapis, bahkan sebagian masih menyisakan ruang abu-abu yang menarik untuk ditelusuri.
Menurut Ahmad Paramasatya, salah satu pengelola langgar, bangunan ini sejatinya tidak didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, melainkan dirintis oleh sang ayah.
"Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan ini sebenarnya yang asli itu merupakan sebuah langgar yang diinisiasi atau dibangun bukan yang pertama kali bukan oleh Kiai Dahlan justru, tapi oleh ayahnya," kata Ahmad saat ditemui di langgar, Jumat (27/2/2026).
Ayah Kiai Dahlan, Kiai Haji Abu Bakar, adalah seorang Abdi Dalem Pamethakan Keraton Yogyakarta, seorang pejabat keulamaan bergelar Ketip Amin. Langgar itu dibangun sederhana dari kayu dan bambu, berkonsep semi terbuka seperti pendopo, dan kemudian diwariskan kepada putranya, Muhammad Darwis—nama kecil Ahmad Dahlan.
Salah satu informasi yang masih samar adalah tahun pasti pendirian langgar. Namun, satu hal yang diyakini, saat Ahmad Dahlan lahir pada 1868, langgar tersebut sudah berdiri dan aktif digunakan untuk pengajian.
"Tapi yang pasti ketika Muhammadiyah berdiri, Kiai Dahlan lahir, naik haji, menikah, langgarnya sudah ada," ucap Ahmad.
Kontroversi Arah Kiblat yang Berujung Perobohan
Pergolakan besar terjadi di langgar ini pada akhir 1890-an. Dengan pikiran kritisnya, Kiai Ahmad Dahlan mulai mempertanyakan arah kiblat salat masyarakat Jawa yang lurus ke barat. Setelah melakukan riset sederhana dengan kompas dan peta dunia, ia menyadari bahwa arah kiblat masjid-masjid di Jawa melenceng jauh dari Ka'bah.
"Dan ternyata kalau dari Yogyakarta ditarik garis lurus ke barat itu justru melencengnya tidak ke Mekkah... Beliau punya urgensi untuk dikoreksi," ucap Ahmad.
Baca Juga: Cedera Parah 6 Bulan, Donny Warmerdam Kembali Bela PSIM Yogyakarta
Kiai Ahmad Dahlan pun mengambil langkah berani. Ia membuat saf salat di langgarnya dimiringkan sekitar 22-24 derajat ke arah utara. Langkah ini dianggap sebagai pembangkangan terhadap tradisi dan memicu ketegangan dengan Penghulu Keraton saat itu.
Setelah tiga kali peringatan tak digubris, puncak ketegangan pun terjadi. Langgar sederhana itu dihancurkan pada suatu malam di bulan Ramadan oleh orang-orang suruhan kiai penghulu. Peristiwa tragis ini kelak direkonstruksi dalam film 'Sang Pencerah'.
"Kalau kita manut pada catatan murid Kiai Dahlan itu beliau menulis sekitar 1890an akhir (langgar dirobohkan)," ucap Ahmad.
Bangkit Kembali dengan Semangat Pembaruan
Peristiwa perobohan ini justru menjadi titik balik. Kiai Ahmad Dahlan dikirim kembali ke Mekkah, di mana ia mendalami pemikiran pembaru Islam seperti Muhammad Abduh. Sekembalinya ke tanah air, ia membangun kembali langgarnya dengan semangat yang lebih besar.
Namun, sejarah kembali menyisakan misteri: sejak kapan langgar ini menjadi dua lantai seperti sekarang?
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Survei Cyrus Network: 70 Persen Masyarakat Puas Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih
-
Survei Cyrus: 65,4 Persen Publik Dukung MBG
-
Lolos dari Bandara Soetta, Sabu 4,8 Kg Kiriman dari Iran Disergap di Pamulang!
-
Mendagri Tito Bahas Persiapan Program Perumahan di Wilayah Perbatasan
-
Bisa Jadi Pintu Masuk HIV: 19 dari 20 Remaja Jakarta Terinfeksi Penyakit Menular Seksual
-
Begal Petugas Damkar Ditangkap di Hotel Pluit, Polisi: Masih Ada 4 Pelaku yang Buron!
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029