News / Internasional
Kamis, 16 Juli 2026 | 08:49 WIB
Manchester City kembali menambah koleksi trofi mereka setelah menjuarai Piala FA 2026 usai mengalahkan Chelsea dengan skor 1-0 di Wembley. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Inggris gagal ke final Piala Dunia akibat gol telat Lautaro Martinez pada menit ke-92.

  • Perdana Menteri Sir Keir Starmer dan Pangeran William mengaku sangat kecewa atas kekalahan tersebut.

  • Taktik bertahan Thomas Tuchel menuai kritik keras dari Wayne Rooney dan Joe Hart.

Suara.com - Keputusan taktis Thomas Tuchel dalam laga semifinal melawan Argentina memicu gelombang kritik setelah Timnas Inggris tersingkir secara tragis. Kegagalan ini menggagalkan mimpi besar publik Britania Raya untuk menyaksikan tim nasional mereka mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Kekalahan dramatis tersebut langsung memicu respons emosional dari para pemimpin dan tokoh penting di Inggris. Mereka tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam atas hasil akhir pertandingan tersebut.

Sorotan tajam kini tertuju pada perubahan strategi di atas lapangan yang dianggap mematikan momentum kemenangan. Banyak pihak menilai pendekatan pragmatis di menit-menit krusial justru menjadi blunder fatal bagi skuad Tiga Singa.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya setelah dua tahun menjabat. [Tangkap layar X]

Perdana Menteri Sir Keir Starmer secara terbuka mengungkapkan rasa terpukulnya setelah menyaksikan laga krusial tersebut. Melalui media sosial, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap perjuangan keras yang telah ditunjukkan oleh seluruh pemain.

"Sangat kecewa. Malam ini bukanlah hasil yang kita semua harapkan, tetapi tim Inggris ini telah memberikan segalanya. Semangat dan energi yang mereka tunjukkan saat mewakili lambang negara telah membuat kita semua bangga," tulis Sir Keir Starmer di akun X miliknya, dikutip dari LBC.

Pangeran William selaku Prince of Wales juga turut menyampaikan pesan emosional demi membesarkan hati para pemain. Sambil menahan kekecewaan, sang pangeran tetap mengapresiasi integritas dan kolektivitas tim selama turnamen berlangsung.

"Sangat kecewa. Inggris, kalian memberikan segalanya dan kami semua sangat bangga dengan kalian. Terima kasih kepada semua orang di dalam dan di luar lapangan, untuk turnamen yang luar biasa. Perjuangan dan keyakinan yang kalian tunjukkan telah menginspirasi kami semua. Tim Inggris paling lengkap dalam sebuah turnamen. Tegakkan kepala kalian."

Harapan besar publik Inggris sejatinya sempat membubung tinggi sepanjang waktu normal pertandingan berjalan. Namun, sundulan mematikan Lautaro Martinez pada menit ke-92 mengubur mimpi tersebut dan membawa Argentina melaju ke final berturut-turut.

Padahal, gol pembuka dari Anthony Gordon sempat membawa asa baru bagi Inggris sejak awal laga. Gol tersebut sempat mendekatkan mereka pada final Piala Dunia pria pertama sejak kejayaan historis tahun 1966.

Baca Juga: Fakta Menarik Hasil Argentina vs Inggris di Piala Dunia 2026 Tadi Pagi

Legenda sepak bola Wayne Rooney menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik pergantian strategi di babak kedua. Mantan penyerang Manchester United ini menilai perubahan tersebut justru meruntuhkan mentalitas menyerang yang sudah terbangun.

"Jika Anda adalah pemain menyerang di lapangan itu dan Anda unggul 1-0 lalu melihat perubahan yang dilakukan manajer, Anda kehilangan keyakinan, hanya ada beberapa kali Anda bisa lolos dari hal itu. Kemudian Anda mulai berpikir, oh tidak, kita akan bertahan selama ini, bagaimana kita akan melewati ini?" kata Wayne Rooney.

Mantan penjaga gawang Joe Hart juga memberikan analisis serupa dengan membandingkan dinamika taktik era sekarang dan sebelumnya. Ia melihat adanya kemiripan pola pragmatis saat tim sudah berada dalam posisi unggul di laga besar.

"Saya pikir Gareth Southgate akan berada di rumah menyaksikan pertandingan ini, dia menerima banyak kritik ketika menghadapi momen-momen besar bersama Inggris saat mereka unggul dan dalam pertandingan besar tentang taktik bertahan total. Saya tidak melihat ada yang berubah dalam momen besar di luar sana. Thomas Tuchel, terlepas dari semua pujian yang telah kita berikan kepadanya, dengan dia mengubahnya secepat yang dia lakukan, saya pikir dia menyadari bahwa itu adalah caranya mengatakan dia tidak percaya pada timnya, dia tidak berpikir mereka bisa memberikan pukulan lagi kepada Argentina," kata Joe Hart.

Secara historis, keputusan manajer Inggris dalam mempertahankan keunggulan di turnamen mayor selalu menjadi bahan perdebatan panjang. Pendekatan bertahan yang terlalu dini kerap kali menjadi bumerang ketika menghadapi tim dengan kreativitas tinggi seperti Argentina.

Kini, penunjukan Thomas Tuchel yang awalnya diharapkan membawa perubahan radikal justru berakhir dengan catatan evaluasi serupa. Publik sepak bola Inggris kembali harus menunggu lebih lama untuk menyudahi puasa gelar internasional mereka.

Load More