- Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta mengkritik lambatnya pemulihan jalan akibat Proyek Strategis Nasional JSDP.
- Kondisi semrawut galian di Jembatan Besi dikeluhkan karena sudah berlangsung hampir dua tahun tanpa penyelesaian.
- DPRD menuntut linimasa penyelesaian transparan akibat dugaan sengkarut koordinasi antara pelaksana proyek dan perbaikan jalan.
Suara.com - Proyek Strategis Nasional (PSN) semestinya membawa faedah, bukan malah membikin warga Jakarta kelimpungan akibat kemacetan lalu lintas.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, melontarkan kritik pedas terhadap lambannya pemulihan permukaan jalan pada proyek pengolahan air limbah Jakarta Sewerage Development Project (JSDP).
“JSDP ini proyek besar, tujuannya baik untuk masa depan sanitasi Jakarta. Tapi jangan sampai Proyek Strategis Nasional justru menjadi sumber kemacetan permanen karena lubangnya tidak segera ditutup,” tegas Wibi dalam keterangan tertulis baru-baru ini.
Sorotan tajam legislator Kebon Sirih ini secara spesifik mengarah pada kondisi semrawut akibat galian yang tak kunjung tuntas di kawasan Jembatan Besi.
“Di Jembatan Besi, terutama di jalur busway, itu sudah hampir dua tahun tidak kelar-kelar. Ini bukan lagi kendala teknis biasa. Ini soal pengendalian proyek. Saya bahkan sudah pernah melaporkan hal ini sebelumnya, tapi sampai sekarang belum ada penyelesaian yang jelas,” ujar Wibi.
Permasalahan pelik ini ditengarai berakar dari sengkarut koordinasi antara pelaksana proyek galian bawah tanah dengan penanggung jawab perbaikan jalan raya.
“Yang gali harus pastikan yang menutup. Tidak boleh ada alasan beda kontraktor, lalu warga yang menanggung macet dan risiko kecelakaan. Jakarta bukan kota galian tanpa akhir,” kata Wibi.
Proyek kolaborasi antara Kementerian PUPR dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini sejatinya bertujuan untuk merancang sistem pengolahan air limbah domestik terpusat.
“PSN bukan berarti kebal dari evaluasi. Justru karena ini proyek strategis, pengawasan harus lebih ketat. Kita tidak mau proyek jangka panjang yang baik, rusak citranya karena tata kelola yang lemah di lapangan,” ujar Wibi.
Baca Juga: DPRD DKI: Pasar Induk Kramat Jati Jadi 'Lapak' Pembuangan Sampah Ilegal
Merespons lambannya progres pengerjaan di lapangan, DPRD DKI bertekad memanggil dinas terkait demi menuntut linimasa penyelesaian yang transparan.
“Jakarta harus menjadi kota yang tertata. Bukan kota yang dibobok lalu dibiarkan. Warga berhak atas jalan yang aman dan lancar,” tutup Wibi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya