- Lulusan sarjana sulit mendapat kerja karena minim keterampilan praktis.
- Teknologi baru dan tekanan industri membuat perusahaan mengurangi tenaga kerja serta mencari pekerja yang menguasai keterampilan praktis.
- Pemerintah disarankan memperbanyak pusat pelatihan keterampilan alih-alih mendirikan perguruan tinggi baru untuk mengatasi pengangguran terdidik.
Suara.com - Gelar sarjana tak lagi otomatis menjadi tiket masuk ke dunia kerja. Di tengah lonjakan pengangguran terdidik, lulusan perguruan tinggi justru menghadapi jurang ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi yang mereka miliki dan kebutuhan industri.
Guru Besar Fisipol UGM sekaligus Pengamat Ketenagakerjaan Tadjuddin Noer Effendi menilai persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan minimnya lapangan pekerjaan.
Dunia pendidikan juga dinilai belum cukup membekali lulusan dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan.
"Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," kata Tadjuddin, Selasa (18/8/2026).
Menurut Tadjuddin, persoalan itu semakin rumit di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hingga otomatisasi robotika membuat kebutuhan industri terhadap tenaga kerja ikut berubah.
Perusahaan kini tidak cukup melihat gelar dan nilai akademik. Kemampuan menguasai teknologi serta keterampilan praktis menjadi modal penting yang menentukan daya saing pencari kerja.
"Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," tegasnya.
Industri Tertekan, Lapangan Kerja Berkualitas Menyusut
Baca Juga: Transaksi Judol Rp2,68 Miliar Terdeteksi di Keluarga Penerima Bansos Jawa Barat
Persoalan pengangguran terdidik juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi industri nasional.
Tadjuddin menilai struktur ekonomi Indonesia belum mampu menciptakan cukup banyak lapangan kerja berkualitas.
Sektor industri padat karya yang selama ini menjadi salah satu penopang penyerapan tenaga kerja justru menghadapi tekanan. Tingginya biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat membuat perusahaan harus melakukan efisiensi.
"Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja," tuturnya.
Di tengah tekanan tersebut, program magang yang digulirkan pemerintah dinilai belum cukup untuk mengatasi besarnya jumlah pengangguran terdidik.
Program tersebut dianggap hanya menjadi solusi sementara karena kapasitasnya belum sebanding dengan kebutuhan.
Tadjuddin menilai pemerintah perlu mengubah pendekatan dengan memperbanyak pusat pelatihan yang dapat memberikan keterampilan praktis secara cepat kepada lulusan perguruan tinggi yang belum terserap pasar kerja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
URI Bukan Solusi! Pengangguran Terdidik Terjadi karena Sarjana Tak Punya Skill
-
Sekolah Ramah Anak Tak Selalu Dimulai dari Hal Besar, Dua Inovasi Siswa Ini Buktinya
-
KPK Ungkap Dugaan Permintaan Opini WTP oleh Bupati PALI, Ada Nama Anggota BPK RI
-
Kapal Tanzania MV Ocean Porter Tertangkap di Riau, Angkut 2,6 Ton Sabu Cair dan Rokok China
-
Kapolri Terjun Langsung ke Lokasi Gempa NTT, Boni Hargens Sebut Polri Garda Terdepan Kemanusiaan
-
BRI Turut Berperan Aktif Dalam Percepat Pemulihan Gempa NTT Lewat Posko Logistik BRI Peduli
-
Video Penjemputan Tiga Orang yang Diduga Pejabat Disdik Lubuklinggau Viral, Ada Apa?
-
BRI Tinjau Posko BRI Peduli dan Dapur Umum Untuk Korban Gempa NTT
-
BRI Perluas Dukungan Pascagempa NTT, Tiga Posko Logistik dan Dapur Umum Disiapkan
-
Bantu Warga Terdampak Gempa NTT, BRI Bangun Tiga Posko Logistik dan Dapur Umum