News / Internasional
Rabu, 11 Maret 2026 | 13:48 WIB
Selat Hormuz (science.nasa.gov)
Baca 10 detik
  • Iran dilaporkan mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, mengancam 20 persen distribusi minyak mentah dunia.
  • Ancaman serangan IRGC dan penempatan ranjau memaksa jalur pelayaran strategis tersebut tertutup efektif.
  • Penempatan ranjau di perairan sempit ini berpotensi menyebabkan kekacauan pelayaran internasional dan dampak ekonomi global.

Suara.com - Langkah Iran yang dilaporkan mulai menebar ranjau di perairan Selat Hormuz memunculkan ancaman serius bagi lalu lintas maritim.

Seorang pakar militer menegaskan bahwa manuver ini menghadirkan tantangan besar bagi armada mana pun yang berencana melintasi jalur perairan vital tersebut.

Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, proses pemasangan ranjau oleh Iran di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi bagi distribusi sekitar 20 persen minyak mentah dunia telah dimulai.

Kondisi ini kian memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan ancaman keras akan menyerang kapal apa pun yang nekat melintas.

Imbasnya, sejak awal terjadinya perang, jalur pelayaran strategis ini secara efektif telah ditutup.

Menanggapi krisis kelautan ini, Pensiunan Mayor Jenderal AS, Mark MacCarley, menyoroti kondisi geografis Selat Hormuz yang pada dasarnya sudah sempit, yakni hanya berjarak 20 hingga 24 mil di titik tersempitnya.

Menurutnya, penempatan ranjau di area tersebut dipastikan dapat memicu kekacauan besar bagi sistem pelayaran internasional.

“Kapal-kapal itu harus menghindari ranjau, dan ranjau itu sendiri, penempatan ranjau tersebut, menciptakan tantangan bagi operator kapal,” ungkap MacCarley dikutip dari CNN International, Rabu (11/3/2026).

Ia menambahkan, “ancaman mematikan dari bahan peledak itu secara tidak langsung akan mengarahkan kapal-kapal itu ke jalur yang sangat sempit," katanya.

Baca Juga: Iran Berhasil Ekspor Minyak Mentah ke China, Lolos dari Serangan AS-Israel

Skenario terburuknya, jenderal purnawirawan itu membeberkan bahwa skala kerusakan dan dampaknya bisa berlipat ganda jika sampai ada kapal yang menjadi korban ledakan.

“Ada potensi benturan antara kapal tanker minyak dan ranjau-ranjau itu, dan potensi signifikan untuk memblokir sebagian Selat Hormuz, jika dua atau tiga kapal tanker besar itu benar-benar dihancurkan,” jelasnya.

Adapun dampak tertutupnya rute distribusi minyak akibat bangkai kapal maupun ranjau tersebut.

“tidak hanya berdampak di tingkat regional, tetapi juga akan berdampak signifikan pada perekonomian sebagian besar negara di dunia," pungkas MacCarley.

Reporter: Tsabita Aulia

Load More