- Pemerintah memprediksi pergerakan mudik Lebaran 2026 mencapai 150 juta orang, sehingga mendistribusikan waktu perjalanan melalui FWA dan cuti bersama.
- Untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem, pemerintah menyiapkan modifikasi cuaca dan mengaktifkan Operasi Ketupat Polri pada 13 hingga 26 Maret 2026.
- Keselamatan perjalanan ditingkatkan melalui pemeriksaan kesehatan pengemudi bus serta penyiapan 2.700 pos kesehatan di sepanjang jalur mudik Lebaran.
Suara.com - Pemerintah memperkirakan pergerakan masyarakat selama mudik Lebaran 2026 berpotensi melampaui 150 juta orang. Lonjakan mobilitas tersebut membuat pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mencegah penumpukan perjalanan pada waktu tertentu.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan salah satu strategi utama yang disiapkan pemerintah adalah mendistribusikan waktu perjalanan masyarakat agar arus mudik tidak terkonsentrasi pada satu periode.
“Salah satu yang kami upayakan agar arus mudik ini lebih lancar, lebih aman, lebih nyaman adalah pendistribusian pergerakan pemudik. Dengan rangkaian kebijakan ini kita harapkan pemudik tidak menumpuk di satu waktu tertentu,” kata Pratikno dalam keterangan di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi mobilitas masyarakat selama periode Lebaran tahun ini mencapai sekitar 143,9 juta orang. Namun pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan jumlah pemudik aktual biasanya lebih tinggi dari hasil survei.
“Perkiraan surveinya itu adalah 143.915.053. Tetapi dari tahun ke tahun dalam praktiknya lebih tinggi dari survei, sekitar 10-an persen lebih tinggi, artinya bisa menjadi sekitar 155 juta manusia bergerak,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, pemerintah menerapkan sejumlah pengaturan mobilitas. Di antaranya melalui flexible working arrangement (FWA) pada 16–17 Maret dan 25–27 Maret 2026, pengaturan libur sekolah mulai 16 Maret, serta penetapan cuti bersama.
Selain pengaturan waktu perjalanan, pemerintah juga menyiapkan rekayasa lalu lintas dan dukungan operasional selama periode mudik.
Di sisi lain, pemerintah juga mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi selama arus mudik. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami curah hujan menengah hingga tinggi.
“Kita juga harus waspada, mengantisipasi bencana hidrometeorologi basah yang menurut BMKG potensinya masih kategori menengah hingga tinggi di sebagian wilayah Indonesia,” kata Pratikno.
Baca Juga: Total 291 Km, Ini Daftar 10 Tol Fungsional Mudik Lebaran 2026
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai dukungan seperti operasi modifikasi cuaca, kesiapan 191 Unit Pelaksana Teknis BMKG, serta pelaksanaan Operasi Ketupat Polri pada 13–26 Maret 2026.
Selain itu, posko terpadu lintas kementerian dan lembaga juga disiagakan di berbagai titik guna mendukung kelancaran arus mudik.
Dalam aspek keselamatan perjalanan, pemerintah juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pengemudi angkutan umum.
Pratikno menyebut pemeriksaan awal telah dilakukan terhadap 338 pengemudi bus di sejumlah terminal dan pool perusahaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Pemeriksaan meliputi tekanan darah, gula darah, tes alkohol, serta narkotika dan zat adiktif lainnya,” ujarnya.
Pemerintah juga menyiagakan lebih dari 2.700 pos pelayanan kesehatan di sepanjang jalur mudik untuk memberikan layanan bagi para pemudik.
Berita Terkait
-
Total 291 Km, Ini Daftar 10 Tol Fungsional Mudik Lebaran 2026
-
Suzuki Siapkan Bengkel Siaga di 71 Titik Strategis Kawal Mudik Lebaran 2026
-
7 Aplikasi Pantau Kemacetan Mudik Lebaran 2026 Selain Google Maps
-
Mayoritas Pemudik Pakai Mobil Pribadi, Bagaimana Kesiapan Ruas Jalan Tol dan Non Tol?
-
Cara Pakai Google Maps Offline, Tetap Bisa Navigasi saat Mudik Tanpa Internet
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Bantah Isu Bansos Dipotong, Gus Ipul: Itu Narasi Menyesatkan dan Potensi Penipuan!
-
Donald Trump Klaim Terima Usulan Baru dari Iran usai Batalkan Misi Perundingan ke Pakistan
-
Donald Trump Batalkan Keberangkatan Utusan ke Pakistan, Negosiasi Iran AS Kembali Buntu
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat
-
Bidik Top 50 Kota Global, Jakarta Resmi Jalin Kerja Sama Sister City dengan Jeju Korsel
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Bukan Intervensi! Eks Penyidik: Usul KPK Capres Wajib Kader Partai Bentuk Kontribusi Pemikiran
-
Setelah 21 Tahun, Akankah Transjakarta Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?