News / Internasional
Kamis, 12 Maret 2026 | 12:18 WIB
Rudal
Baca 10 detik
  • Serangan udara di pelabuhan Al Faw Irak menewaskan satu kru kapal tanker minyak asing.

  • Pemerintah Irak mengecam sabotase tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan menyiapkan langkah hukum tegas.

  • Operasional terminal minyak dihentikan sementara usai dua tanker milik perusahaan asing terbakar hebat.

Suara.com - Insiden maut baru saja mengguncang wilayah perairan Irak pada hari Kamis tanggal 12 Maret.

Sebuah serangan udara dilaporkan telah menghantam dua unit kapal tanker pengangkut minyak mentah.

Lokasi kejadian tragis ini berada tepat di kawasan perairan sekitar pelabuhan Al Faw.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa ledakan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa seorang kru kapal.

Tim penyelamat bergerak cepat untuk mengevakuasi puluhan personel lain yang berada di lokasi.

Letnan Jenderal Saad Maan selaku juru bicara militer memberikan keterangan resmi terkait peristiwa ini.

Ia menyebutkan bahwa satu anggota kru dipastikan tewas dalam insiden ledakan kapal tersebut.

Setidaknya terdapat 38 orang kru lainnya yang berhasil diselamatkan dari amukan si jago merah.

Pihak militer Irak mengutuk keras tindakan yang dianggap sebagai upaya pengacauan stabilitas keamanan.

Baca Juga: Tolak Suaka Australia, Bintang Timnas Putri Iran Pilih Kembali ke Pelukan Tanah Air

"Dua kapal tanker minyak menjadi sasaran tindakan sabotase yang pengecut," kata Maan.

Pemerintah Irak memandang serius lokasi terjadinya serangan yang berada di wilayah teritorial mereka.

Maand menegaskan bahwa aksi kekerasan tersebut telah menginjak-nginjak harga diri bangsa Irak secara internasional.

Ia menegaskan serangan tersebut "merupakan pelanggaran kedaulatan Irak" karena terjadi di dalam perairan teritorial Irak.

Dampak dari kejadian ini memicu reaksi diplomatik yang cukup keras dari jajaran pemerintahan setempat.

Baginya, tidak ada toleransi bagi pihak manapun yang berani mengganggu keamanan di perairan domestik.

Irak berencana untuk membawa kasus penyerangan kapal tanker ini ke ranah hukum yang lebih tinggi.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa para pelaku mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatannya.

Proses investigasi mendalam kini sedang berlangsung untuk mengungkap siapa dalang sebenarnya di balik teror ini.

Koordinasi antar lembaga intelijen terus ditingkatkan guna mencegah terjadinya serangan susulan di masa depan.

Laporan awal mengenai penyebab ledakan mulai bermunculan dari berbagai sumber intelijen keamanan di lapangan.

Seorang pejabat keamanan memberikan bocoran informasi krusial terkait alat yang digunakan dalam aksi sabotase tersebut.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan adanya keterlibatan kapal tertentu yang membawa bahan peledak aktif ke lokasi.

Pihak berwenang sedang menelusuri rute perjalanan kapal-kapal yang dicurigai sebagai penyebab utama kehancuran tanker.

Kecurigaan kini mengarah pada manuver provokatif yang dilakukan di wilayah perairan yang sangat sensitif tersebut.

Pihak pengelola pelabuhan juga memberikan pembaruan data mengenai status kewarganegaraan para korban yang selamat.

Farhan Al Fartousi memberikan rincian bahwa seluruh kru yang dievakuasi merupakan tenaga kerja internasional.

Direktur jenderal Perusahaan Pelabuhan Irak ini memastikan pelayanan medis terbaik bagi para korban trauma.

Informasi ini mempertegas bahwa dampak serangan ini telah menarik perhatian dari komunitas pelaut mancanegara.

Keamanan bagi pekerja asing di pelabuhan Irak kini menjadi prioritas utama yang harus segera dievaluasi.

Berdasarkan rekaman visual yang telah divalidasi, terlihat jelas kobaran api melahap badan kapal tanker tersebut.

Kapal pertama yang teridentifikasi adalah Zefyros yang berlayar dengan menggunakan bendera negara Malta.

Selain itu, kapal Safesea Vishnu yang mengibarkan bendera Marshall Islands juga mengalami kerusakan yang sangat parah.

Safesea Transport Inc yang berbasis di Amerika Serikat tercatat sebagai pemilik sah dari salah satu kapal tersebut.

Sementara itu, kepemilikan kapal Zefyros diketahui berada di bawah kendali sebuah perusahaan asal negara Yunani.

Keputusan besar diambil oleh otoritas pelabuhan tak lama setelah api berhasil dikendalikan oleh petugas pemadam.

Irak secara resmi memutuskan untuk membekukan seluruh kegiatan operasional di terminal minyak pelabuhan tersebut.

Langkah penghentian ini bersifat sementara demi kelancaran proses penyelidikan dan sterilisasi area ledakan.

Hal ini diprediksi akan memberikan pengaruh terhadap arus distribusi minyak mentah dari wilayah Irak.

Otoritas terkait belum bisa memastikan kapan aktivitas bongkar muat di Al Faw akan kembali normal.

Dunia internasional kini menyoroti bagaimana Irak akan menangani isu keamanan di jalur perdagangan minyak mereka.

Kejadian ini menambah daftar panjang konflik di wilayah perairan Timur Tengah yang seringkali memanas.

Stabilitas pasokan energi global sangat bergantung pada keamanan jalur laut di kawasan pelabuhan seperti Al Faw.

Pemerintah diharapkan segera memberikan jaminan keamanan bagi setiap kapal asing yang melintasi wilayah tersebut.

Publik kini menantikan pernyataan resmi selanjutnya mengenai bukti-bukti fisik yang ditemukan di lokasi kejadian perkara.

Load More